Kota Roma Menanti Anda

Penulis : Muhammad Choirul Anam
Penerbit : Khilafah Press
Halaman : xxiv + 180
Tahun : 2012 (cet. pertama)
Genre : Motivasi Dakwah

Buku yang memiliki 10 bab ini diawali oleh pengantar berjumlah 6 halaman yang ditulis oleh ustadz Husain Matla, cukup panjang memang jika hanya untuk sebuah pengantar. Namun, hanya dari pengantarnya saja, buku ini terlihat menarik untuk terus dibaca. Membaca buku ini disaat diri sedang futur atau guncang dalam berdakwah dan berjamaah menurut saya pribadi sangatlah tepat. Diksi yang digunakan penulis dalam merangkai untaian motivasi dan penguat untuk terus teguh sangatlah indah.

Inti yang ingin disampaikan penulis melalui buku ini adalah betapa setiap perjuangan demi Islam itu sunnatullah-nya adalah melelahkan dan butuh pengorbanan. Jangankan apa yang kita rasakan saat ini, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam serta para sahabat saja yang notabenenya ‘spesial’, merasakan hal yang sama seperti yang mungkin kita rasakan: lelah dan banyak berkorban.

Saya mulai membaca buku ini saat tantangan dakwah di negeri ini semakin jelas terlihat mata. Tantangan itu kini bukan hanya berasal dari mereka yang masih awam, namun para qawwam-pun mulai ‘menantang’ dakwah para pejuangnya. Di saat itu pulalah, keteguhan, kekuatan, keistiqamahan para pengemban dakwah mukhlis diuji oleh Allah. Apakah akan goyah dan akhirnya runtuh? Atau justru semakin solid dan kuat dan akhirnya mendulang kemenangan? Seluruhnya bergantung pada bagaimana kita menyikapi tantangan itu sendiri.

Saya pribadi sangat menyarankan para pengemban dakwah untuk membaca buku ini sebagai wasilah untuk menempa nafsiyah dan menguatkan ‘azzam di jalan Allah. Jika ada 5 bintang, maka saya akan memberikan keseluruhan 5 bintang itu kepada buku ini karena pentingnya ia untuk disantap oleh akal kita.

Dua dari 10 judul bab di buku ini yang cukup membuat saya terhenyak adalah, “Tak Seorangpun Yang Pernah Membawa Seperti Apa Yang Dibawa Rasulullah, Melainkan Akan Dimusuhi” dan “Pertolongan Itu Belum Datang, Karena Allah Sayang Kepada Kita”. Dari dua bab itu, saya benar-benar mengerti dan mengiyakan maksud yang ingin disampaikan penulis. Bahwa, risalah dakwah itu memang akan selalu menemukan ‘penentangnya’ dan perjuangan dakwah setelah sekian lama belum membawa kita pada kemenangan merupakan tanda cinta dan sayangnya Allah kepada para pengemban dakwah.

Keinginan untuk mundur dari perjuangan ini mungkin saja pernah terbersit di benak kita. Namun, apakah dengan kita mundur akan menjamin bahwa Allah berhenti menguji kita? Saya rasa jawabannya adalah jelas tidak. Karena, mundurnya kita dari barisan dakwah dengan alasan tak kuat menghadapi tantangan justru akan semakin melemahkan kita! Kitalah yang akan terkatung-katung, sementara bisa jadi pertolongan dan kemenangan itu akan Allah turunkan segera.

Kemudian, sekitar lima setengah abad yang lalu, kota Heraklius (Konstantinopel) yang merupakan janji Allah dan kabar gembira Rasulullah akhirnya takluk melalui langkah dan keberanian Muhammad Al Fatih, setelah berabad-abad sejak lisan mulia Nabiyullah Muhammad menyampaikan kabar itu. Rasulullah-pun tak hanya menyebut bahwa Konstantinopel yang akan takluk di tangan kaum muslimin, namun kota Rumiyah atau Roma-pun akan ada masanya tunduk di bawah naungan Islam.

Karenanya, perjuangan untuk memenangkan Roma ini tentulah butuh pengorbanan ekstra serta akan memeras keringat dan peluh tak seperti biasanya. Kekuatan iman, keistiqamahan dan persatuan para pengemban risalah Islam merupakan senjata utama yang akan mampu mengalahkan seluruh rintangan dan tantangan yang tersaji di depan mata. Karena itulah wahai umat Muhammad, kota Roma kini tengah menanti anda!

“Apakah kalian mengira, bahwa kalian akan masuk ke jannah. Padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta digoncang (dengan bermacam-macam), sehingga Rasul dan orang-orang yang bersamanya berkata, ‘Kapankah pertolongan Allah akan datang?’. Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat” (TQS. Al Baqarah: 214). Wallahu a’lam bishshawwab.[]

Advertisements

SEJUTA UMAT, BERSAMA TOLAK PERPPU ORMAS!

Jika kita berbicara perjuangan, maka tak jauh beda apa yang dialami umat Muhammad hari ini dengan junjungannya 1400 tahun yang lalu. Satu persamaan yang begitu jelas terlihat dari perjuangan itu adalah keduanya sama-sama mendapat tekanan dan dihalang-halangi gerak langkahnya.

Dari satu kesamaan itu, umat Muhammad hari ini sepatutnya bangga dan menjadi semakin kuat karena perjuangan dakwah yang dilakukan telah memberikan efek yang sama dengan dakwah yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dahulu, yaitu gentarnya para penghalang agama Allah dengan geliat kebangkitan kaum muslim.

Rasulullah serta para sahabat dahulu banyak yang disiksa atas keteguhannya menyampaikan risalah Islam. Pun sekarang, tidak sedikit dari kaum muslimin yang disiksa, baik secara fisik, verbal, maupun mental hanya karena kelantangannya menyuarakan kebenaran. Rasulullah dan kaum muslim yang teguh dan istiqamah memeluk Islam, dahulu diboikot oleh kaum kafir. Pun sekarang, banyak kaum muslim yang dipersekusi, ditekan, hingga diancam karena keberaniannya menggemakan kalimatullah.

Hari ini, sejuta umat muslim dari seluruh penjuru negeri, in syaa Allah akan berkumpul dan berikhtiar agar Ibu dan Bapak yang mengatakan dirinya adalah wakil-wakil dari rakyat, bisa memadukan satu suara untuk #TolakPerppuOrmas.

Sungguh, adanya Perppu Ormas ini merupakan bentuk nyata dari upaya penghalangan dakwah Islam di negeri yang berketuhanan Yang Maha Esa ini. Bagaimana tidak, suara-suara kritis dan kebenaran, telah dianggap menjadi suatu ancaman yang harus disingkirkan oleh penguasa hari ini.

Tak adanya proses peradilan dalam pemutusan perkara, lembaga dakwah Islam dibubarkan, para aktivisnya ditangkapi, ‘alim ‘ulama serta para habaibnya dikriminalisasi sedemikian rupa, dibenarkan oleh Perppu Ormas. Seluruhnya bisa terjadi karena adanya sokongan kuat dari butir-butir kedzaliman pada Perppu Ormas ini.

Umat sudah sepatutnya sadar bahwa Perppu Ormas ini jika dibiarkan terbit menjadi Undang-Undang, akan benar-benar menjadikan nuansa otoritarianisme dan represifme penguasa begitu terasa di hadapan umat yang sejatinya berharap perbaikan bagi negeri ini.

Oleh karena itu, demi keberlangsungan dakwah di negeri ini, demi tersampaikannya kalimat-kalimat Allah di negeri ini, demi terwujudnya keadilan untuk seluruh elemen negeri, carilah ridha Allah, Zat yang Maha Berkuasa atas negeri ini, dengan lantang menyuarakan dan mengusahakan untuk menolak Perppu Ormas pada Aksi 2410 hari ini.

Allah-lah yang akan menjadi saksi atas ketidakrelaan kita jika Perppu ini diberlakukan. Allah-lah yang akan menjadi saksi ketidakridhaan kita ketika dakwah Islam dihalangi. Allah-lah yang akan menjadi saksi atas seutama jihad pada penguasa yang kita lakukan dengan ikhlas ini.

Saksikanlah, saksikanlah, saksikanlah yaa Rabbana.

Hasbunallahu wa ni’mal wakiil, ni’mal mawlaa wa ni’man nashiir.

يا ايّها الّذين ءامنوا إن تنصروا اللّه ينصركم و يثبّت أقدامكم {٤٧ : ٧}

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”

Ukhtukum,
Iranti Mantasari

PERPPU NOMOR 2/2017: ‘PENGGEBUK’ ORMAS ISLAM

Dua bulan sejak diumumkannya rencana pemerintah untuk membubarkan salah satu Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Islam, yaitu Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), akhirnya terealisasi pada tanggal 19 Juli 2017 lalu. Pada bulan Mei, Menteri Koordinasi Politik, Hukum, dan Keamanan, Wiranto telah mengadakan konferensi pers terkait rencana pembubaran HTI yang dianggap anti terhadap Pancasila, mengancam eksistensi NKRI, dan tidak berkontribusi pada pembangunan bangsa. Sejak saat itu pulalah, publik mulai menyuarakan responnya baik pro maupun kontra terhadap rencana pemerintah tersebut.

Pengumuman rencana pada bulan Mei itu disebutkan oleh Wiranto didasarkan pada UU No. 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. Jika bersandar pada UU tersebut, pemerintah dalam membubarkan suatu Ormas harus melalui beberapa tahapan terlebih dahulu hingga akhirnya harus diproses melalui peradilan. Dalam Pasal 60 hingga 82 UU No. 17/2013 dikatakan bahwa pemerintah daerah bisa memberikan sanksi administratif berupa surat peringatan (SP) tertulis sebanyak tiga kali pada Ormas terkait. Di Pasal 64 UU juga diterangkan bahwa pemerintah berhak menghentikan aliran dana dan melarang Ormas terkait untuk berkegiatan selama 6 bulan jika SP 3 tidak diindahkan. Kemudian, pada Pasal 68 disebutkan bahwa pemerintah memiliki wewenang untuk membubarkan jika Ormas tersebut masih melakukan kegiatan setelah diberhentikan sementara dan tidak mendapat pertimbangan dari Mahkamah Agung (MA).

Polemik Perppu No. 2/2017

Keberadaan UU No. 17 tahun 2013 tersebut dinilai oleh pemerintah terlalu lama dalam memroses pembubaran Ormas. Karena dasar itulah, pemerintah pada 12 Juli lalu berinisiatif menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) nomor 2 tahun 2017 yang ditandatangani oleh Presiden Jokowi pada 10 Juli 2017. Melalui Perppu ini, ada beberapa perubahan yang dicantumkan yang berbeda dengan peraturan sebelumnya. Perppu ini meniadakan adanya proses peradilan dalam membubarkan suatu Ormas yang dianggap bermasalah oleh pemerintah. Dengan diterbitkannya Perppu ini, pemerintah memiliki jalan pintas untuk membubarkan suatu Ormas tanpa harus menerapkan asas ‘praduga tak bersalah’.

Meski demikian, semenjak Perppu ini diumumkan, terdapat begitu banyak pendapat-pendapat yang menentang keputusan pemerintah ini, termasuk dari kalangan ahli hukum tata negara. Prof. Yusril Ihza Mahendra mengatakan, Pemerintah sebagaimana berulangkali ditegaskan oleh Menkopolhukam Wiranto, telah dengan sesat pikir menerapkan asas ‘contrarius actus’ dalam hukum Romawi ke hukum nasional kita. Dengan asas itu, menurut Menkopolhukam, pemerintah yang berwenang menerbitkan izin berdirinya Ormas, maka dengan sendirinya berwenang pula mencabut izin tersebut. Padahal mendirikan Ormas bukanlah sesuatu yang perlu izin pemerintah.”

Beberapa akun besar di jejaring Twitter juga mengadakan polling yang mayoritas publik ternyata menolak penerbitan Perppu untuk membubarkan suatu Ormas. Seperti melalui akun @CNNIndonesia, sebanyak 64% dari 8,873 suara menolak; @MetroTVNewsRoom, sebanyak 67% dari 15,897 suara juga menolak Perppu tersebut; bahkan akun resmi @DPR_RI juga mengadakan polling yang mayoritas pemilihnya menolak Perppu tersebut (tweet ini kemudian dihapus oleh akun Twitter DPR RI). Poin-poin tersebut menunjukkan bahwa penerbitan Perppu ini sebenarnya adalah langkah inkonstitusional yang diambil oleh pemerintah.

Perppu Bentuk Represifme Pemerintah

Dengan disetujuinya Perppu ini, pemerintah dinilai telah melakukan tindakan represif terhadap hak berserikat yang justru dilindungi dan dijamin oleh konstitusi negara ini. HTI, serta beberapa Ormas lain yang namanya juga sudah dikantongi Kemkopolhukam secara tidak langsung menjadi korban dari sikap represifme pemerintah. Bahkan, Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon mengutarakan pendapatnya pada Tempo (19/07) terkait pencabutan badan hukum HTI, “Ini satu bentuk kesewenang-wenangan, abuse of power atau satu tindakan yang mengarah pada otoritarian”.

HTI yang bisa dikatakan sebagai Ormas yang berskala nasional saja bisa dibubarkan dengan cara seperti ini oleh pemerintah, maka tidak menutup kemungkinan jika Ormas lain yang berskala lebih kecil terancam dibubarkan jika dianggap tidak sesuai dengan poin-poin yang telah ditentukan oleh pemerintah. Ini justru merupakan sebuah tindakan yang mencederai konstitusi negara ini.

Tindakan represif ini juga menjadi preseden buruk bahkan blunder bagi pemerintah itu sendiri. Karena dari hal ini, publik bisa melihat ‘sisi lain’ dari pemerintah, sedangkan transparansi terkait alasan pembubaran HTI pun masih abu-abu. Pihak HTI melalui Juru Bicaranya, Ismail Yusanto, mengatakan bahwa hingga pengumuman pembubaran Ormasnya, permintaan dari HTI untuk audiensi kepada Menkopolhukam terkait masalah ini belum mendapat tanggapan. Dari hal ini pulalah, publik justru berbalik menjadi bersimpati pada HTI yang telah secara sepihak dibubarkan oleh pemerintah tanpa mendapat kesempatan untuk membela diri.

HTI Berjuang Memperbaiki Bangsa dengan Islam

HTI bukanlah Ormas Islam yang terhitung baru terkait eksistensinya di Indonesia. HTI sebenarnya sudah ada di Indonesia sejak tahun 1980-an. Perbedaannya, gaung dakwah HTI saat ini sudah jauh lebih besar dibandingkan ketika ia baru hadir di Indonesia. HTI yang bertujuan melanjutkan kehidupan Islam, seharusnya dilihat secara positif oleh pemerintah. Bukan justru dicari-cari kesalahannya karena dilihat berseberangan dengan pemerintah kemudian dibubarkan begitu saja.

Pergerakan HTI adalah pergerakan yang politis, dalam artian HTI bergerak mengoreksi pemerintah atas pengambilan kebijakan-kebijakan yang menyulitkan rakyat dan menyadarkan masyarakat akan pentingnya berIslam dalam semua ranah, bukan hanya ranah spiritual tapi juga termasuk ranah kenegaraan. HTI bergerak dengan mengambil metode intelektual pemikiran tanpa melalui jalan kekerasan. Apa yang disampaikan oleh HTI sejatinya adalah ajaran Islam yang bersumber dari Alqur’an, Sunnah, Ijma’, dan Qiyas. Tidak ada satu hal pun yang disampaikan HTI yang diambil dari luar sumber hukum di dalam Islam.

Jika kita perhatikan, negeri ini sebenarnya sedang dilanda krisis multidimensi, mulai dari moral anak bangsa yang kacau, tingkat kriminalitas tinggi, peradilan yang tumpul ke atas tajam ke bawah, ekonomi yang tidak menyejahterakan, hingga politik yang sarat akan kepentingan pribadi. Krisis-krisis itu dilihat HTI sebagai akibat dari dipisahkannya ajaran Islam dari kehidupan negeri yang menyandang gelar sebagai negara Muslim terbesar di dunia ini. Pandangan HTI ini sejatinya bukanlah pandangan yang mengancam. Justru jika permasalahan-permasalahan itu dibiarkan dan tidak diselesaikan secara menyeluruh, barulah hal itu dikatakan sebagai mengancam Indonesia dan juga rakyatnya.

HTI ternyata lebih bersih jika disandingkan dengan kelompok-kelompok lain yang mengaku “Pancasilais”. Oknum-oknum yang menuduh HTI sebagai anti-Pancasila dan anti-NKRI pada nyatanya lebih nyata bertindak yang bertentangan dari Pancasila itu sendiri. HTI yang sangat mengecam pemisahan daerah dari wilayah negara, dianggap sebagai pemecah belah. Tapi di sisi lain, kelompok yang dengan tegas menyuarakan keinginan untuk berlepas dari Indonesia dibiarkan tanpa ditindak. HTI yang juga getol menolak privatisasi Sumber Daya Alam karena banyak merugikan rakyat dari sisi ekonomi, justru dianggap sebagai ancaman bagi kelangsungan negeri ini. Padahal di sisi lain, ada oknum yang dengan jelas menjual tanah Indonesia demi keuntungan mereka pribadi.

Jadi, sebenarnya siapa yang mengancam dan siapa yang terancam? HTI yang selama puluhan tahun konsisten mendakwahkan hal yang sama tidak pernah mengalami hal seperti ini, lalu kenapa pada pemerintahan yang berusia kurang dari tiga tahun ini langsung dibubarkan melalui proses yang begitu singkat tidak seperti penyelesaian kasus-kasus korupsi penguasa tingkat atas? Hal-hal ini patut disorot oleh publik, agar masyarakat menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak tepat yang sedang terjadi di negeri ini, namun luput dari pengelihatan banyak orang.[]

 

Dakwah


Jika saja dulu Rasulullah tak berdakwah, maka takkan ada kafilah kaum Muslim datang ke rumah Arqam bin al Arqam untuk mendalami Islam.
Jika saja dulu Rasulullah tak berdakwah, maka tak mungkin manusia sejahat Umar bin Khaththab luluh hatinya karena ayat Alquran dan menjadi pembela Islam hingga akhir hayatnya.
Jika saja dulu Rasulullah tak berdakwah, maka tak mungkin imperium digdaya sekelas Persia dan Romawi tunduk di bawah naungan Islam.
Jika saja dulu Rasulullah tak berdakwah, maka tak mungkin Islam dan seperangkat syariah Allah bisa sampai pada kita hari ini.
Yes, it is the Power of Dakwah.
Dakwah itu sepantasnya menjadi poros hidup. Karena dengan dakwah, kita tak hanya menjaga diri kita dari kemunkaran, tapi juga menyelamatkan masyarakat dan generasi dari sederet keburukan zaman.
Kalau membahas dakwah, saya teringat dengan hadits yg diriwayatkan oleh imam Bukhari rahimahullahu yg isinya kurang lebih: orang yg berdakwah itu diumpamakan seperti orang yang ada di dalam perahu, ada yang di dek bawah dan ada yang di dek atas. Jika yang di bawah ingin minum, maka mereka harus ke atas. Namun, mereka bisa saja melubangi perahu itu dan mengambil air langsung dari aliran air di bawah. Jika orang yang di atas membiarkan itu terjadi, maka bukan hanya orang yang di dek bawah saja yang akan tenggelam, tapi juga orang yang di dek atas pun akan ikut tenggelam.
Dakwah itu seni dan tidak mudah memang. Karena itulah, pendakwah umumnya lebih sedikit daripada yang didakwahi. Tapi jangan remehkan kekuatan yg sedikit itu, tanpa mereka memuhasabahi, mengoreksi, mengingatkan untuk menjauhi kemunkaran, mungkin kita tak akan hidup “seenak” ini sekarang.
Jika ada yang datang mendakwahimu, percayalah ia juga sedang mendakwahi dirinya sendiri. Bukan tersebab ia lebih baik darimu, namun ia hanya ingin menyampaikan kebaikan dan kenikmatan Islam yang dirasa agar engkau juga bisa merasakan yg sama.

Dan teruntuk para pengemban dakwah, teruslah sampaikan hikmah Islam yang sudah menghujam di dirimu pada yang lain. Teruslah sampaikan alasan mengapa engkau bahagia di jalan Islam. Teruslah sampaikan apa yang haq itu haq dan yang bathil itu bathil. Teruslah sampaikan kebenaran dan kesempurnaan Islam pada umat.

Sungguh, kita tak tahu amalan mana yang akan membuka surga untuk kita kelak. Bisa saja kalimat-kalimat dakwah yang keluar dari lisanmu-lah yang akan menyelamatkanmu dari siksa neraka.
Sungguh, karena surga itu terlalu luas tak terkira untuk kita masuki sendiri. Saudara-saudaramu juga memiliki hak untuk mencicipi manis dan indahnya surga.
Pesanku, istiqamahlah berdakwah meski sulit. Istiqamahlah menyeru Islam meski banyak yang tak ingin mendengar. Istiqamahlah mendakwahi keluarga, saudara, sahabat, hingga penguasa agar kesemua kita kelak dikumpulkan lagi di Firdaus yang akal kita takkan mampu menjangkaunya.

Muslim Hanif dan “Burung di Sangkar”

Oleh: Iranti Mantasari, BA.IR

Problematika multidimensi yang saat ini dialami oleh negeri ini tentunya telah menjadi sorotan bagi siapa saja anak bangsa yang ingin melakukan perubahan, termasuk di dalamnya adalah para muslim dan muslimah. Darurat moral, tumpulnya keadilan dan peradilan, kotornya sistem perpolitikan, krisis ekonomi dan utang merupakan beberapa dari sekian banyak problem yang harus dihadapi di negeri khatulistiwa ini.
Melihat situasi ini, tidak sedikit kaum muslimin yang ingin membawa perubahan di negeri ini, mengubah kebobrokan yang ada menjadi negeri yang bercahaya. Banyak yang berjalan dengan memfokuskan pergerakannya pada peningkatan taraf pendidikan guna mencerdaskan bangsa. Ada pula yang bergerak dengan menekankan pada pemurnian ‘aqidah umat yang dianggap sudah tenggelam dalam banyak kesyirikan. Ada juga yang berjuang di ‘gedung putih’ agar bisa turut serta dalam merumuskan kebijakan demi kemaslahatan umat. Kesemuanya tentu patut kita hargai serta apresiasi ikhtiarnya untuk kebaikan umat Muhammad ini.
Dari situ pulalah, kita bisa melihat masih ada banyak sekali dari kaum muslimin yang hanif. Yang dengan tegas menolak segepok amplop jika harus menukarnya dengan kepentingan umat. Yang tidak hanya memikirkan bagaimana agar dirinya bisa hidup enak dan terjamin. Yang merasa masalah yang menimpa orang lain merupakan masalah yang harus dihadapinya juga. Bahkan masih banyak mereka yang hanif yang mau mencurahkan segenap tenaga dan ilmunya untuk membangkitkan kembali umat dan memuliakan agama ini.
Namun, tidak sedikit juga mereka yang hanif tapi hanya seperti burung di dalam sangkar. Mereka indah dan kicauannya begitu merdu, tetapi mereka terkungkung di dalam sangkar yang membuat mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Sangkar itu sejatinya adalah sistem yang berlaku saat ini. Seindah dan semantap apapun usaha mereka, hal itu sulit untuk terlaksana karena ada jeruji besar sistemik yang menghalangi kebaikan-kebaikan itu.
Sangkar berupa sistem ini telah nyata mengekang kaum muslimin hanif yang ingin membawa perubahan pada negeri ini. Mereka banyak sekali datang dari latar belakang yang berbeda-beda, mulai dari akademisi, praktisi kesehatan, pengamat hukum, pakar ekonomi, para entrepreneur, hingga para pemangku jabatan strategis di birokrasi negeri. Usaha mereka untuk memperbaiki negeri ini memang ada, tapi hanya parsial dan efeknya bukanlah efek jangka panjang. Jika saja mereka tidak kuat dalam mengusahakan perubahan itu, maka merekalah yang menjadi korban yang akan terwarnai oleh sistem ini.
Pengampu jabatan birokratis misalnya, mereka tidak sedikit yang terheran dan kesal melihat kondisi negeri yang carut marut ini. Mereka yang notabenenya mempunyai kekuasaan untuk merubah keadaan, tetap saja akan sulit menyelesaikan masalah-masalah yang ada karena terhambat dengan sistem yang tidak mendukung perubahan-perubahan yang diusungnya. Kebijakan yang mereka ambil hanya sebatas membersihkan daun-daun di pohon masalah saja, tetapi akar masalah yang menancap kuat tidak dicabut dan diganti dengan bibit yang baru. Alih-alih membawa perubahan, mereka bahkan tidak sedikit yang disingkirkan dengan berbagai pidana karena dianggap ‘mengancam’ keberlangsungan sistem saat ini.
Sekali lagi, semua usaha patut kita apresiasi dan hargai selama itu datang dari kaum muslimin yang berjuang bukan untuk menuruti keinginan para cukong dan kapitalis yang nyata merongrong negeri ini. Tapi, selama gembok sistemik dari seluruh problematika ini tidak dibuka dan mereka enggan untuk bergerak meninggalkan sistem yang mengekang itu, maka perubahan dan kebangkitan hakiki itu akan sulit untuk kita dapatkan.
Berbagai usaha mulia yang dilakukan kaum muslimini itu tidak seharusnya membuat kita lupa akan kewajiban mendasar kita dalam hidup ini. Sebagai seorang muslim, setiap diri kita telah terbebani taklif syar’i sejak baligh. Kita sudah terikat dengan hukum syariat yang diturunkan Allah kepada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wassalām melalui malaikat Jibril. Syariat inilah yang akan mengatur kehidupan kita, mulai dari pengaturan diri, pengaturan bermasyarakat, hingga pengaturan dalam bernegara.
Masalahnya sekarang adalah sistem yang berlaku saat ini tidak mendukung kita untuk bisa menyeluruh melaksanakan itu semua, padahal taklif wajibnya tidak terangkat meskipun zaman sudah berganti. Hal ini terlepas dari seberapa besar usaha yang sudah dilakukan individu-individu serta kelompok perjuangan kaum muslimin.
Berbagai kewajiban kaum muslimin untuk menjalankan syariat Allah secara menyeluruh akan sulit bahkan terhitung mustahil bisa terwujud jika tidak ada sesuatu yang disebut oleh para ‘ulama sebagai taj al furūdh atau mahkota kewajiban. Mahkota kewajiban ini akan menaungi pelaksanaan kewajiban dan syariat-syariat Allah yang lain. Taj al furūdh ini tidak lain dan tidak bukan adalah Khilafah Islamiyah yang sesuai dengan metode kenabian. Namun, ia adalah sebuah mahkota berharga yang kerap kali dilupakan oleh kaum muslim sendiri. 
Khilafah yang akan menjamin kita dalam melaksanakan kewajiban yang telah dibebankan pada diri masing-masing. Khilafah adalah kiyānut tanfidz atau institusi pelaksana, pelaksana beberapa syariat Allah yang tidak mungkin bahkan tidak boleh dilakukan atas nama perseorangan atau kelompok, seperti syariat terkait ‘uqubat atau sanksi atas pelanggaran hukum syara’. Syariat yang harus dilaksanakan inipun tidak sedikit jumlahnya. Hal itu pulalah yang membuat Khilafah sebagai taj al furudh menjadi wajib untuk diwujudkan demi terlaksananya syariat Allah dalam kehidupan manusia.
Dengan kehadiran Khilafah Islamiyah, para muslim yang hanif tadi tidak hanya tersalurkan kebaikannya, melainkan mereka juga akan mendapat kebaikan dari Khilafah tersebab terlaksananya perintah-perintah Allah dan tercegahnya larangan-larangan Allah. Perjuangan penegakan Khilafah tidak sepatutnya hanya dilakukan oleh segelintir orang atau kelompok tertentu saja, karena Khilafah adalah bagian dari ajaran Islam dan akan menjadi milik umat, apapun agama dan latar belakangnya. Khilafah bukanlah institusi yang kerap kali dicap negatif dan mengerikan oleh publik saat ini.
Jangan ragu ataupun takut dalam menyerukan kebenaran dan penegakan kembali mahkota kewajiban ini. Umat yang sudah terlalu lama terkungkung dalam sangkar ini sudah semestinya bersuara dan bergerak untuk menembus sangkar dan keluar. Rasa lelah akan sangat mungkin kita rasakan ketika berjalan di atas ikhtiar mewujudkan kembali pelaksanaan syariat Allah. Tapi, semoga satu ayat ini akan mampu merasuk di dada-dada kita dan mengingatkan agar kita tidak gentar untuk senantiasa menyuarakan kalimatullah, 

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡۤا اِنۡ تَـنۡصُرُوا اللّٰهَ يَنۡصُرۡكُمۡ وَيُثَبِّتۡ اَقۡدَامَكُمۡ

”Hai, orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (TQS Muhammad: 7). Wallahua’lam bi ash-shawwab.[]