Khilafah Jaga Kebhinekaan

1504661888659

Penulis: Husain Matla
Halaman: 144
Penerbit: Kaaffah Penerbit
Cetakan: Juni 2017
Jenis: Retorika Berpikir

Buku yang ditulis oleh ust. Husain Matla ini sebenarnya merupakan kumpulan status beliau di jejaring sosial Facebook yang kemudian dibukukan sesuai dengan temanya masing-masing. Poin utama dari buku ini adalah Khilafah dan Kebhinekaan itu sendiri, yang tidak lain ditujukan pada keberagaman di Indonesia. Buku ini memaparkan pembahasan terkait bagaimana isu-isu kebhinekaan, Indonesia, dan khilafah bergerak begitu dinamis di masyarakat, terlepas dari sisi positif ataupun negatifnya.

Beberapa waktu terakhir, makna kebhinekaan yang sebetulnya universal telah didistorsi oleh oknum-oknum tertentu untuk dibenturkan dengan ide Islam kaaffah yang tentu menyasar pada usaha penegakan khilafah Islam. Kebhinekaan sebenarnya sama sekali tidak pantas untuk dibenturkan dengan Islam, karena Islam sendiri sangat meniscayakan ‘kebhinekaan’ atau keberagaman itu. Hal ini bisa dibuktikan dari ‘berhasil’nya khilafah dahulu ketika mengayomi kaum muslimin dan juga non-muslim dalam satu negara dan diatur dengan aturan yang bersumber dari Alqur’an dan As Sunnah.

Dari yang saya tangkap, penulis ingin mematahkan persepsi-persepsi yang menyatakan bahwa Islam itu anti dengan NKRI, dengan Pancasila, dengan kebhinekaan, dll. Penulis membagi bab buku ini menjadi tiga, yaitu Beragam Runyam Tanpa Islam (menyikapi keterpurukan Indonesia), Beragam Tunggal Islam (mengulas berbagai solusi Islam), dan Beragam Tunggal Jannah (menyikapi berbagai organisasi Islam).

Banyak yang mengatakan bahwa “Islam Indonesia itu damai, tidak seperti Islam ‘Timur Tengah’ yang berdarah-darah”.  Selentingan itu sering diutarakan oleh oknum yang kepanasan melihat pergolakan kaum muslim untuk menerapkan Islam yang kaffah dalam basis negara. Penulis mengcounter persepsi tersebut dengan menyajikan bagaimana “Indonesia” di zaman kerajaan-kerajaan yang sejatinya penuh dengan perebutan kekuasaan, perang, dll. Tetapi, di saat yang bersamaan Islam ‘Timur Tengah’ kala itu justru sedang mendulang kegemilangan di bawah sistem Khilafah Islam. Jadi, penyebutan bahwa Islam Indonesia itu damai dan Timur Tengah itu berdarah-darah jelas sesuatu yang timpang dan ahistoris terkait sejarah berdirinya Indonesia itu sendiri.

Selain itu, konstelasi perpolitikan internasional di bawah genggaman kapitalisme Barat sebenarnya telah nyata merenggut ‘Indonesia’ kita saat ini, karena mau tidak mau Indonesia menjadi bagian dari konstelasi tersebut. Perebutan pengaruh oleh bangsa Barat dan kaki tangannya baik di kawasan maupun di level nasional sudah secara tidak langsung ‘meniadakan’ NKRI yang selalu disuarakan sebagai hal yang bertentangan dengan Islam. Inilah yang sebenarnya merupakan ancaman nyata bagi eksistensi negeri ini, bukan justru Islam ataupun ide penegakan khilafah yang menyuarakan perbaikan.

Mirisnya, tidak sedikit dari yang memiliki persepsi-persepsi demikian itu juga datang dari tubuh kaum muslimin sendiri. Mereka secara tidak sadar telah termakan oleh propaganda-propaganda yang ingin ‘menyusupi’ tubuh kaum muslim di negeri ini agar terpecah menjadi mereka yang pro dengan ‘khilafah’ dan mereka yang pro dengan ‘NKRI’.

Kemudian, karena begitu masifnya pergerakan umat Islam khususnya di Indonesia ini, tidak sedikit para aktivis dakwah di suatu harakah justru ‘bertabrakan’ dengan saudara aktivisnya di harakah lain. Padahal, penyebab mereka bertabrakan sebenarnya hanya perkara teknis, bukan perkara ‘aqidah. Hal ini tidak jarang juga malah mengaburkan usaha penegakan khilafah yang sebenarnya nanti akan mengayomi semua harakah itu di bawah payung Islam. Perbedaan harakah seharusnya menjadi warna di tubuh kaum muslim itu sendiri, bukan justru menjadi penyulut api. Bukankah ukhuwah Islam itu lebih kuat dari ukhuwah apapun?

Dari berbagai hal tersebut, sudah sepatutnya kita mencari sumber ilmu yang shahih terkait perpolitikan yang sebenarnya sudah banyak dibahas oleh ‘ulama-ulama mu’tabar dan menyeimbangkan semuanya dengan informasi faktual dan berimbang, sehingga tidak terjatuh pada kecacatan persepsi dan pemahaman. Dengan begitu, persepsi bahwa khilafah akan menjagal kebhinekaan di negeri ini, perlahan akan bisa bertransisi menjadi persepsi bahwa khilafah-lah yang akan menjaga kebhinekaan.[]

Advertisements

Rohingya

Berikut kultweet singkat di twitter (@antimntsr) terkait Rohingya.
1. Myanmar adalah potret nyata ketika muslim menjadi minoritas, maka nyawalah yg mjd taruhan. #ShameOnYouMyanmar
2. Pdhl di sekitar Myanmar, ada bbrp negeri kaum muslim. Ada Indonesia, Malaysia, Brunei. Bahkan semuanya anggota ASEAN. #ShameOnYouMyanmar
3. Tapi, apa wujud nyata bantuan negeri2 itu? Doa, bantuan logistik, bantuan materil. Apakah itu menyelesaikan masalah? #ShameOnYouMyanmar
4. Mmg btl jgn meremehkan bantuan sekecil apapun, apalagi doa. Tp kt jg tau bgmn doa itu ‘bekerja’: ketika ada ikhtiar max. #ShameOnYouMyanmar
5. Dan ikhtiar max itu bkn skdr bantuan log dan materi, krn mereka ditindas lgsg oleh penguasanya, diusir dr rmh2 mereka! #ShameOnYouMyanmar
6. Apakah dgn bantuan log dan materi td akan menghentikan penguasanya utk tdk membunuh mereka? Tidak! #ShameOnYouMyanmar
7. Krn kebengisan dan kebencian penguasa di sana tak bisa dibungkam hanya dgn bantuan logistik dan materi dr para donatur. #ShameOnYouMyanmar
8. Kita di sini berbicara akar masalah, bkn sekedar kuratif parsial. Militer dilawan dgn militer, bkn dgn bantuan logistik #ShameOnYouMyanmar
9. Rohingya punya ‘sdr’ muslim di Indo, Malay, Brunei, Turki, Arab, dll. Tp, asas kepentingan nasional pasti mjd pertimbangan utk nation-state saat ini
10. Kep.nasional ini sgt mgkn gagal menggerakkan mrka utk menerjunkan militer membantu Rohingya, krn khawatir ada kepentingan lain yg terancam.
11. Dan itu sangat wajar dlm perpolitikan nation-state. Apa yg dianggap zalim oleh Islam, blm tentu mengganggu kep.nasional tadi
12. Krn dasarnya beda, satu wahyu Ilahi, satunya lagi kepentingan ‘yg katanya’ nasional. #ShameOnYouMyanmar
13. Lalu, jika mmg bantuan logistik dan materi tdk bisa efektif menyelesaikan akar masalahnya, apa yg dibutuhkan Rohingya? #ShameOnYouMyanmar
14. Skl lg, militer dilawan dgn militer. Tapi, bukan militer dr negeri yg tdk mau mengesampingkan kep.nasional demi titah Ilahi tadi.
15. Melainkan, militer dr negara yg mmg menjadikan titah Ilahi sbg dasarnya dan tak berkepentingan apapun kecuali menjaga tiap nyawa rakyatnya
16. Negara itu ialah Khilafah rasyidah ‘alaa minhajin nubuwwah. Yg tak segan menerjunkan tentaranya dgn semangat jihad membela sdr yg tertindas.
17. Tp, sygnya negara itu belum ada. Pdhl ia tajul furudh/mahkota kewajiban, krn bnyk kwjbn lain yg tak bs tegak tanpanya, trmsk menjaga nyawa.
18. Oleh krn itu jg, usaha ‘mengadakan’ negara ini mjd urgen utk dilakukan kaum muslim. Guna mnjlnkn titah Ilahi dan menjaga kehormatan muslimin
19. Apakah mungkin? Sangat! Krn selain janji Allah, geliat kaum muslim saat ini in syaa Allah sdh menunjukkan embrio Khilafah itu lagi.
20. Dgn semakin carut marutnya dunia, serta makin tertindasnya muslim di bbrp negeri saat ini, akan menyadarkan umat akan urgennya Khilafah.
21. Inilah kondisi umat yg tak bisa kita nafikkan saat ini. Minoritas: nyawa terancam. Mayoritas: diminta menolerir minoritas. Serba salah.
22. Ok, sy tdk menekankan pd minor/mayoritas. Tp pd problem mslh yg dihadapi umat dan apa solusi akarnya (bkn kuratif parsial tadi).
23. Jadi, prmslhn #Rohingya ini bkn hanya mslh muslim di Myanmar. Tp siapapun yg mengaku Allah tuhannya, Muhammad nabinya, dan Alquran kitabnya!
24. Dan tak lupa sy pribadi menghormati setiap bantuan yg disalurkan utk #Rohingya, tp semoga ini tak membuat muslimin luput dr solusi utama itu
25. Skl lg, krn yg dibutuhkan org terusir adalah ‘rumah’. Yg dibutuhkan org yg dibantai adalah ‘perlawanan’. Bkn hanya betadine atau beras.
26. Jd, utk menutup kultwit singkat mlm ini. Cukuplah hashtag: #RohingyaNeedsKhilafah

27. Dan agar dunia tau bhw ada kebengisan sdg trjd di daerah Timur Jauh, maka hashtag brktnya adlh: #ShameOnYouMyanmar #ShameOnYouSuuKyi

Sekian. Semoga ada manfaat. Silakan dishare tanpa perlu izin, semoga menjadi amal shalih.
Ukhtukum,

Iranti Mantasari

Dakwah Tak Mungkin Bubar

Ingin rasanya jemari ini tak menumpahkan isi hati.

Hati yang terasa sesak penuh dengan luapan perasaan.

Belum lama memang ku bersamanya, tapi sudah begitu banyak hal indah yang bahkan tak mampu diucap oleh kata-kata.

Darinya, aku mengenal diri ini. Mengenal hakikatku sebagai seorang hamba yang lemah, terbatas, dan butuh pengaturan paripurna dari yang menciptakanku.

Darinya juga, aku mengenal bahwa kebaikan itu tak pantas untuk kumiliki seorang diri.

Karena, surga itu terlalu luas untuk kita masuki sendiri katanya.

Hari-hari kian gelap. Kian mencekam. Kian mencekik melihat bagaimana dakwah ini dicoba dibungkam, dipinggirkan, dihentikan.

Tapi satu hal yang kupegang. Bahwa ketika malam datang, maka mentari pun telah menanti untuk menyinari hari kita.

Dakwah sejatinya butuh wasilah, agar ia lebih cantik, rapi, dan indah. Wasilah yang berperan sebagai kerangka yang mengatur keping-keping puzzle agar bisa menyatu.

Adalah sunnatullah dakwah pula jika ada yang mengambil peran sebagai Umayyah bin Khalaf, yang dengan segenap tenaga terus berusaha menggagalkan dakwah.

Tapi tak dipungkiri juga akan ada sosok-sosok seperti Bilal yang terus bertahan dalam Islam meski cambukan dan pecutan bertubi-tubi menerpa tubuhnya.

Islam dan dakwah. Islam takkan sampai jika tak ada yang mendakwahkannya. Dan dakwah takkan berarti apa-apa jika bukan Islam isinya.

Sama seperti Islam, dakwah tak akan pernah bubar, bagaimanapun kerasnya tantangan di depan. Karena ia selalu ada dalam ingatan para pengembannya sebagai suatu kemuliaan ukhrawi.

Aku marah.

Aku kesal.

Dada ini sesak.

Mata ini ingin rasanya terisak.

Tapi, kucoba kuatkan diri bahwa semuanya akan menjadi gerbang menuju titik awal kebangkitan itu. Titik balik kehidupan Ummat yang Satu yang sedang dorman ini.

Allah sedang menyaring siapa saja yang memihak pada Islam dan dakwah, sehingga kelak mereka-lah yang akan membela diin ini dengan segenap hati dan kecintaannya pada Allah.

Wasilah bisa saja retak, melemah, bahkan hancur. Tapi ingat, Dakwah Tak Mungkin Bubar hingga Allah benar-benar menyerahkan kemenangan itu pada ummat yang sudah tertulis dalam kitab kalamNya.

Cikarang, 21717, 22.24 WIB

3 Maret 1924

Sepeninggal Rasulullah saw. dahulu, para sahabat ra. diriwayatkan menunda untuk memakamkan jasad beliau karena para sahabat sibuk menentukan siapakah kelak pemimpin umat Islam sepeninggal baginda saw. Padahal seperti yang kita tahu, memakamkan jenazah masuk ke dalam hukum yang fardhu meskipun masih dalam level fardhu kifayah. Tapi, apa yang bisa kita ambil dari peristiwa ini? Bahwa para sahabat ra. mengutamakan untuk mencari pemimpin yang kelak akan menjadi komando bagi umat Islam dalam tataran politik, militer, ekonomi, sosial, penerapan hukum syari’at, dll. Pemimpin yang kelak akan mengurus kelangsungan umat Islam, tidak hanya di jazirah Arab, namun seluruh dunia.
Sekitar 13 abad lamanya, Islam memimpin dunia. Itu adalah bukti sejarah yang bahkan bangsa barat pun tak akan bisa menutupinya. Sekitar 13 abad lamanya, umat Islam terdepan dalam hal militer, politik luar dan dalam negeri, pendidikan, pengembangan dakwah dan syiar Islam ke penjuru dunia. Itu adalah bukti yang sejarah manapun tak akan bisa menutupinya.
Namun, dimulai sekitar tahun 1918, umat Islam mulai digoyahkan oleh musuh-musuh Allah yang tak rela melihat keagungan Islam di muka bumi. Dilemahkan pikirannya. Dijauhkan mereka dari agamanya. Ditiupkan napas-napas nasionalisme kebangsaan yang meregangkan mereka dengan ikatan terkuat ikatan ‘aqidah. Dan akhirnya pada tahun 1924, semuanya resmi berubah. Umat Islam kehilangan penjaga, kehilangan tameng, kehilangan rumah yg di dalamnya terdapat keamanan dan kesejahteraan. Ya, 3 Maret 1924, Khilafah Utsmani atau lebih dikenal dengan Turki Utsmani / Dinasti Ottoman resmi dihapuskan sebagai sistem pemerintahan bagi umat Islam dan diganti dengan sistem sekuler ala barat oleh dia yang bahkan jasadnya pun tak diterima bumi, Mustafa Kemal Ataturk.
Ibarat kata, ibu dari umat Islam pada masa itu sedang sakit. Yang kemudian penjahat keji datang dan membunuh satu-satunya ibu mereka dengan pedang yang tajam. Tapi, umat Islam justru mengambil penolong dari mereka yang baru saja membunuh ibunya, yang bahkan pedang itupun masih berlumuran darah ibunya!
Sejak saat itu pulalah, umat Islam mulai meredup di berbagai lini kehidupannya. Tak memiliki militer yang kuat, pendidikannya tak gemilang lagi seperti sedia kala, mereka dijajah, disiksa, terpuruk, hingga diombang-ambingkan oleh mereka yang selalu membenci Islam. Itu semua karena umat Islam tidak memiliki perisai Khilafah yang akan menjadi garda terdepan dalam melindungi dan menjamin mereka.
93 tahun sudah umat Islam dipimpin oleh sistem yang bahkan tidak mengimani keagungan Allah swt. sebagai Tuhan semesta alam. Sistem yang sejatinya tidak sesuai dengan fitrah manusia. Sistem yang menomorsekiankan peranan Allah dalam mengatur hidup hambaNya. Hampir satu abad umat Islam lupa dan lalai akan identitasnya sendiri.
Ketiadaan Khilafah Islamiyah ini juga berarti hukum-hukum Allah tak bisa diterapkan dalam kehidupan. Karena jelaslah hukum buatan manusia yang akan diutamakan. Suara terbanyak akan menang, meskipun bertentangan dengan Islam. Khilafah Islamiyah inilah yang juga mampu menjamin keberlangsungan dakwah Islam sehingga ia mampu tersebar ke penjuru dunia, sesuai apa yang dilakukan rasulullah saw. dan para sahabat ra. dahulu.
Kami rindu masa-masa itu. Kami rindu ketika Islam menjadi basis kehidupan kami di dunia yang akan bermanfaat untuk ukhrawi kami. Kami rindu ketika Khalifah akan rela menggerakkan pasukannya untuk menjaga kehormatan seorang wanita. Kami rindu ketika syari’at Islam bisa diterapkan dalam hidup kami. Kami rindu ia, Khilafah Islamiyah.

Yaa Rabb, nahnu turid al Khilafah Islamiyah ‘alaa minhajin nubuwwah. Yanshurullahu ilal haq yaa Rabb. Yanshurullahu..