PERPPU NOMOR 2/2017: ‘PENGGEBUK’ ORMAS ISLAM

Dua bulan sejak diumumkannya rencana pemerintah untuk membubarkan salah satu Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Islam, yaitu Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), akhirnya terealisasi pada tanggal 19 Juli 2017 lalu. Pada bulan Mei, Menteri Koordinasi Politik, Hukum, dan Keamanan, Wiranto telah mengadakan konferensi pers terkait rencana pembubaran HTI yang dianggap anti terhadap Pancasila, mengancam eksistensi NKRI, dan tidak berkontribusi pada pembangunan bangsa. Sejak saat itu pulalah, publik mulai menyuarakan responnya baik pro maupun kontra terhadap rencana pemerintah tersebut.

Pengumuman rencana pada bulan Mei itu disebutkan oleh Wiranto didasarkan pada UU No. 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. Jika bersandar pada UU tersebut, pemerintah dalam membubarkan suatu Ormas harus melalui beberapa tahapan terlebih dahulu hingga akhirnya harus diproses melalui peradilan. Dalam Pasal 60 hingga 82 UU No. 17/2013 dikatakan bahwa pemerintah daerah bisa memberikan sanksi administratif berupa surat peringatan (SP) tertulis sebanyak tiga kali pada Ormas terkait. Di Pasal 64 UU juga diterangkan bahwa pemerintah berhak menghentikan aliran dana dan melarang Ormas terkait untuk berkegiatan selama 6 bulan jika SP 3 tidak diindahkan. Kemudian, pada Pasal 68 disebutkan bahwa pemerintah memiliki wewenang untuk membubarkan jika Ormas tersebut masih melakukan kegiatan setelah diberhentikan sementara dan tidak mendapat pertimbangan dari Mahkamah Agung (MA).

Polemik Perppu No. 2/2017

Keberadaan UU No. 17 tahun 2013 tersebut dinilai oleh pemerintah terlalu lama dalam memroses pembubaran Ormas. Karena dasar itulah, pemerintah pada 12 Juli lalu berinisiatif menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) nomor 2 tahun 2017 yang ditandatangani oleh Presiden Jokowi pada 10 Juli 2017. Melalui Perppu ini, ada beberapa perubahan yang dicantumkan yang berbeda dengan peraturan sebelumnya. Perppu ini meniadakan adanya proses peradilan dalam membubarkan suatu Ormas yang dianggap bermasalah oleh pemerintah. Dengan diterbitkannya Perppu ini, pemerintah memiliki jalan pintas untuk membubarkan suatu Ormas tanpa harus menerapkan asas ‘praduga tak bersalah’.

Meski demikian, semenjak Perppu ini diumumkan, terdapat begitu banyak pendapat-pendapat yang menentang keputusan pemerintah ini, termasuk dari kalangan ahli hukum tata negara. Prof. Yusril Ihza Mahendra mengatakan, Pemerintah sebagaimana berulangkali ditegaskan oleh Menkopolhukam Wiranto, telah dengan sesat pikir menerapkan asas ‘contrarius actus’ dalam hukum Romawi ke hukum nasional kita. Dengan asas itu, menurut Menkopolhukam, pemerintah yang berwenang menerbitkan izin berdirinya Ormas, maka dengan sendirinya berwenang pula mencabut izin tersebut. Padahal mendirikan Ormas bukanlah sesuatu yang perlu izin pemerintah.”

Beberapa akun besar di jejaring Twitter juga mengadakan polling yang mayoritas publik ternyata menolak penerbitan Perppu untuk membubarkan suatu Ormas. Seperti melalui akun @CNNIndonesia, sebanyak 64% dari 8,873 suara menolak; @MetroTVNewsRoom, sebanyak 67% dari 15,897 suara juga menolak Perppu tersebut; bahkan akun resmi @DPR_RI juga mengadakan polling yang mayoritas pemilihnya menolak Perppu tersebut (tweet ini kemudian dihapus oleh akun Twitter DPR RI). Poin-poin tersebut menunjukkan bahwa penerbitan Perppu ini sebenarnya adalah langkah inkonstitusional yang diambil oleh pemerintah.

Perppu Bentuk Represifme Pemerintah

Dengan disetujuinya Perppu ini, pemerintah dinilai telah melakukan tindakan represif terhadap hak berserikat yang justru dilindungi dan dijamin oleh konstitusi negara ini. HTI, serta beberapa Ormas lain yang namanya juga sudah dikantongi Kemkopolhukam secara tidak langsung menjadi korban dari sikap represifme pemerintah. Bahkan, Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon mengutarakan pendapatnya pada Tempo (19/07) terkait pencabutan badan hukum HTI, “Ini satu bentuk kesewenang-wenangan, abuse of power atau satu tindakan yang mengarah pada otoritarian”.

HTI yang bisa dikatakan sebagai Ormas yang berskala nasional saja bisa dibubarkan dengan cara seperti ini oleh pemerintah, maka tidak menutup kemungkinan jika Ormas lain yang berskala lebih kecil terancam dibubarkan jika dianggap tidak sesuai dengan poin-poin yang telah ditentukan oleh pemerintah. Ini justru merupakan sebuah tindakan yang mencederai konstitusi negara ini.

Tindakan represif ini juga menjadi preseden buruk bahkan blunder bagi pemerintah itu sendiri. Karena dari hal ini, publik bisa melihat ‘sisi lain’ dari pemerintah, sedangkan transparansi terkait alasan pembubaran HTI pun masih abu-abu. Pihak HTI melalui Juru Bicaranya, Ismail Yusanto, mengatakan bahwa hingga pengumuman pembubaran Ormasnya, permintaan dari HTI untuk audiensi kepada Menkopolhukam terkait masalah ini belum mendapat tanggapan. Dari hal ini pulalah, publik justru berbalik menjadi bersimpati pada HTI yang telah secara sepihak dibubarkan oleh pemerintah tanpa mendapat kesempatan untuk membela diri.

HTI Berjuang Memperbaiki Bangsa dengan Islam

HTI bukanlah Ormas Islam yang terhitung baru terkait eksistensinya di Indonesia. HTI sebenarnya sudah ada di Indonesia sejak tahun 1980-an. Perbedaannya, gaung dakwah HTI saat ini sudah jauh lebih besar dibandingkan ketika ia baru hadir di Indonesia. HTI yang bertujuan melanjutkan kehidupan Islam, seharusnya dilihat secara positif oleh pemerintah. Bukan justru dicari-cari kesalahannya karena dilihat berseberangan dengan pemerintah kemudian dibubarkan begitu saja.

Pergerakan HTI adalah pergerakan yang politis, dalam artian HTI bergerak mengoreksi pemerintah atas pengambilan kebijakan-kebijakan yang menyulitkan rakyat dan menyadarkan masyarakat akan pentingnya berIslam dalam semua ranah, bukan hanya ranah spiritual tapi juga termasuk ranah kenegaraan. HTI bergerak dengan mengambil metode intelektual pemikiran tanpa melalui jalan kekerasan. Apa yang disampaikan oleh HTI sejatinya adalah ajaran Islam yang bersumber dari Alqur’an, Sunnah, Ijma’, dan Qiyas. Tidak ada satu hal pun yang disampaikan HTI yang diambil dari luar sumber hukum di dalam Islam.

Jika kita perhatikan, negeri ini sebenarnya sedang dilanda krisis multidimensi, mulai dari moral anak bangsa yang kacau, tingkat kriminalitas tinggi, peradilan yang tumpul ke atas tajam ke bawah, ekonomi yang tidak menyejahterakan, hingga politik yang sarat akan kepentingan pribadi. Krisis-krisis itu dilihat HTI sebagai akibat dari dipisahkannya ajaran Islam dari kehidupan negeri yang menyandang gelar sebagai negara Muslim terbesar di dunia ini. Pandangan HTI ini sejatinya bukanlah pandangan yang mengancam. Justru jika permasalahan-permasalahan itu dibiarkan dan tidak diselesaikan secara menyeluruh, barulah hal itu dikatakan sebagai mengancam Indonesia dan juga rakyatnya.

HTI ternyata lebih bersih jika disandingkan dengan kelompok-kelompok lain yang mengaku “Pancasilais”. Oknum-oknum yang menuduh HTI sebagai anti-Pancasila dan anti-NKRI pada nyatanya lebih nyata bertindak yang bertentangan dari Pancasila itu sendiri. HTI yang sangat mengecam pemisahan daerah dari wilayah negara, dianggap sebagai pemecah belah. Tapi di sisi lain, kelompok yang dengan tegas menyuarakan keinginan untuk berlepas dari Indonesia dibiarkan tanpa ditindak. HTI yang juga getol menolak privatisasi Sumber Daya Alam karena banyak merugikan rakyat dari sisi ekonomi, justru dianggap sebagai ancaman bagi kelangsungan negeri ini. Padahal di sisi lain, ada oknum yang dengan jelas menjual tanah Indonesia demi keuntungan mereka pribadi.

Jadi, sebenarnya siapa yang mengancam dan siapa yang terancam? HTI yang selama puluhan tahun konsisten mendakwahkan hal yang sama tidak pernah mengalami hal seperti ini, lalu kenapa pada pemerintahan yang berusia kurang dari tiga tahun ini langsung dibubarkan melalui proses yang begitu singkat tidak seperti penyelesaian kasus-kasus korupsi penguasa tingkat atas? Hal-hal ini patut disorot oleh publik, agar masyarakat menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak tepat yang sedang terjadi di negeri ini, namun luput dari pengelihatan banyak orang.[]

 

Advertisements

Pesan-pesan Menggugah untuk Para Pengemban Dakwah

WhatsApp Image 2017-07-21 at 10.17.41 AM

Penulis: Dr. Najih Ibrahim
Penerbit: Al Azhar Press
Tahun Terbit: 2013 (cet. 5)
Halaman: 207
Jenis: Nasehat Islami

Buku ini adalah terjemahan dari buku yang ditulis dalam bahasa Arab yaitu, Risalah Ila Man Ya’malu Li al Islam. Buku ini memang berisikan tentang nasehat-nasehat untuk menguatkan para pengemban dakwah dan aktivis Islam yang dinukil dari nash-nash syar’i serta pengalaman pribadi penulisnya.

Perjalanan dakwah dan amar ma’ruf nahiy munkar itu tidak bisa dipungkiri bahwa ia bukanlah suatu jalan yang mudah. Tak jarang, para aktivis Islam yang sudah meng-iltizam-kan dirinya di jalan dakwah, harus menghadapi tantangan dan tekanan, baik fisik maupun non-fisik. Melalui 24 bab singkat, nasehat penulis ini juga disampaikan dengan mengisahkan kembali pada kita perjalanan dakwah hingga jihad Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam beserta para sahabat radhiyallahu ‘anhum di masa awal Islam datang hingga ketika Islam sudah meluas peradabannya.

Di mana ada dakwah dan seruan pada Islam, maka di situ pulalah akan ada kaum-kaum yang menolak seruan tersebut. Dari hal itu, para aktivis Islam sudah seharusnya menjadi kuat, tegar, dan selalu mengingat “jual beli” yang sudah mereka lakukan dengan Allah, sehingga ghirah mereka untuk mensyiarkan Islam tidak akan pernah padam meski harus berhadapan dengan penolakan-penolakan itu.

Saya pribadi ketika membaca buku ini, tidak jarang merasa tertusuk berkali-kali atas nasehat yang disampaikan penulis. Karena beliau juga membahas tentang besar kontribusi yang aktivis Islam saat ini berikan pada dakwah tidak sebanding dengan kontribusi yang dilakukan para sahabat dan generasi salaf dahulu.

Buku ini benar-benar saya rekomendasikan untuk siapa saja pengemban dakwah Islam di manapun berada. Tantangan dakwah yang menanti di depan, seperti apa yang dihadapi kaum muslimin dan beberapa jama’ah dakwah di Indonesia saat ini, benar-benar meminta para aktivis Islam untuk senantiasa kuat, tegar, istiqamah, dan tidak takut untuk terus berdakwah hingga nanti kemenangan dan kejayaan Islam itu benar-benar terwujud untuk kali berikutnya.

Izinkan saya mengutip salah satu nasehat penulis di dalam buku ini,

”Sesungguhuhnya Allah SWT, jika berkehendak untuk memilih hamba-hambaNya menjadi syuhada, Dia menyiapkan musuh untuk mereka agar mereka terbunuh dan darah mereka mengalir dalam rangka mencari cinta dan keridhaanNya serta agar mereka mengorbankan jiwa mereka di jalanNya. Kesyahidan atau mati syahid adalah peringkat tertinggi setelah peringkat para nabi dan shiddiqin. Syuhada adalah orang-orang yang didekatkan kepada Allah SWT dalam keadaan ridha kepadaNya. Allah memilih mereka, mengistimewakan mereka, dan mengambil mereka untukNya.”

Dakwah Tak Mungkin Bubar

Ingin rasanya jemari ini tak menumpahkan isi hati.

Hati yang terasa sesak penuh dengan luapan perasaan.

Belum lama memang ku bersamanya, tapi sudah begitu banyak hal indah yang bahkan tak mampu diucap oleh kata-kata.

Darinya, aku mengenal diri ini. Mengenal hakikatku sebagai seorang hamba yang lemah, terbatas, dan butuh pengaturan paripurna dari yang menciptakanku.

Darinya juga, aku mengenal bahwa kebaikan itu tak pantas untuk kumiliki seorang diri.

Karena, surga itu terlalu luas untuk kita masuki sendiri katanya.

Hari-hari kian gelap. Kian mencekam. Kian mencekik melihat bagaimana dakwah ini dicoba dibungkam, dipinggirkan, dihentikan.

Tapi satu hal yang kupegang. Bahwa ketika malam datang, maka mentari pun telah menanti untuk menyinari hari kita.

Dakwah sejatinya butuh wasilah, agar ia lebih cantik, rapi, dan indah. Wasilah yang berperan sebagai kerangka yang mengatur keping-keping puzzle agar bisa menyatu.

Adalah sunnatullah dakwah pula jika ada yang mengambil peran sebagai Umayyah bin Khalaf, yang dengan segenap tenaga terus berusaha menggagalkan dakwah.

Tapi tak dipungkiri juga akan ada sosok-sosok seperti Bilal yang terus bertahan dalam Islam meski cambukan dan pecutan bertubi-tubi menerpa tubuhnya.

Islam dan dakwah. Islam takkan sampai jika tak ada yang mendakwahkannya. Dan dakwah takkan berarti apa-apa jika bukan Islam isinya.

Sama seperti Islam, dakwah tak akan pernah bubar, bagaimanapun kerasnya tantangan di depan. Karena ia selalu ada dalam ingatan para pengembannya sebagai suatu kemuliaan ukhrawi.

Aku marah.

Aku kesal.

Dada ini sesak.

Mata ini ingin rasanya terisak.

Tapi, kucoba kuatkan diri bahwa semuanya akan menjadi gerbang menuju titik awal kebangkitan itu. Titik balik kehidupan Ummat yang Satu yang sedang dorman ini.

Allah sedang menyaring siapa saja yang memihak pada Islam dan dakwah, sehingga kelak mereka-lah yang akan membela diin ini dengan segenap hati dan kecintaannya pada Allah.

Wasilah bisa saja retak, melemah, bahkan hancur. Tapi ingat, Dakwah Tak Mungkin Bubar hingga Allah benar-benar menyerahkan kemenangan itu pada ummat yang sudah tertulis dalam kitab kalamNya.

Cikarang, 21717, 22.24 WIB

Bersama Itu Lebih Indah

Dulu, sebelum mengenal Islam lebih dalam, saya mungkin hanya seseorang yg berKTPkan Islam. Tapi perangai, sikap, perilaku sangat jauh dari Islam. Bahkan mungkin teman-teman semasa SMP-SMA tahu bagaimana saya dulu (semoga Allah ampuni kelalaian saya waktu itu). Berhijab seadanya, shalat sekenanya, puasa tanpa tau esensi dasarnya apa, dan ibadah-ibadah lain yang mungkin saya lakukan tapi sepi dalam jiwanya (semoga Allah terima ibadah saya sebelum berIslam lebih dalam). Kemudian, pada tahun 2013 sebelum pelaksanaan Ujian Nasional, Allah berkenan turunkan hidayahNya untuk saya, hidayah yang mungkin belum semua orang mendapatkannya. Hidayah yang ternyata mencerahkan hidup saya dan menjadi titik balik kehidupan saya berikutnya. Dan untuk menjaga hidayah itu agar tak lepas, saya memilih untuk belajar berIslam sebenar-benarnya.

Semua itu tak lepas pula dari peran seseorang yang penting, yaitu kakak saya satu-satunya. Tanpa paksaan, dia yang juga baru berIslam lebih dalam tak lama sebelum saya ini, dengan perlahan mengajak saya untuk mengenal Islam lebih jauh lagi. Hingga akhirnya di 2014, saya akhirnya bertekad untuk mengkaji Islam secara intensif di Hizbut Tahrir Indonesia. Dari Hizb-lah, saya tahu bahwa Islam itu sempurna dan paripurna. Bahwa Allah mengatur sedemikian rupa kelangsungan hidup hambaNya dengan Islam. Bahwa Islam bukan hanya agama ritual, namun ia adalah sebuah ideologi yang dengannya politik kenegaraan, ekonomi, interaksi manusia, mu’amalah, dll akan tertata dengan teratur. Bahwa problematika ummat memiliki Islam sebagai solusinya.
Yes. We did fight. We did argue. And we did debate like sisters in common. But, more than that, dia selalu terdepan mengingatkan saya untuk teguh dan istiqamah mengkaji dan mendakwahkan Islam. Dia down, saya coba kuatkan. Saya futur, dia yg coba mensupport dari belakang.
Dan entah bagaimana jika kami harus jalan sendiri-sendiri, tanpa ada jama’ah yg menemani, tanpa ada saudara yg memuhasabahi. Mungkin kita dan saya pribadi hanya akan menjadi selembar daun yang akan tertitup angin tak tentu.
Dengan bersama pula, saya yakin banyak perubahan yg bisa dibuat untuk agama, ummat, dan negeri yang sedang gonjang-ganjing karena kekufuran global saat ini. In syaa Allah bi idznillah.

Lombok, 10 Mei 2017

Iranti Mantasari