Rohingya

Berikut kultweet singkat di twitter (@antimntsr) terkait Rohingya.
1. Myanmar adalah potret nyata ketika muslim menjadi minoritas, maka nyawalah yg mjd taruhan. #ShameOnYouMyanmar
2. Pdhl di sekitar Myanmar, ada bbrp negeri kaum muslim. Ada Indonesia, Malaysia, Brunei. Bahkan semuanya anggota ASEAN. #ShameOnYouMyanmar
3. Tapi, apa wujud nyata bantuan negeri2 itu? Doa, bantuan logistik, bantuan materil. Apakah itu menyelesaikan masalah? #ShameOnYouMyanmar
4. Mmg btl jgn meremehkan bantuan sekecil apapun, apalagi doa. Tp kt jg tau bgmn doa itu ‘bekerja’: ketika ada ikhtiar max. #ShameOnYouMyanmar
5. Dan ikhtiar max itu bkn skdr bantuan log dan materi, krn mereka ditindas lgsg oleh penguasanya, diusir dr rmh2 mereka! #ShameOnYouMyanmar
6. Apakah dgn bantuan log dan materi td akan menghentikan penguasanya utk tdk membunuh mereka? Tidak! #ShameOnYouMyanmar
7. Krn kebengisan dan kebencian penguasa di sana tak bisa dibungkam hanya dgn bantuan logistik dan materi dr para donatur. #ShameOnYouMyanmar
8. Kita di sini berbicara akar masalah, bkn sekedar kuratif parsial. Militer dilawan dgn militer, bkn dgn bantuan logistik #ShameOnYouMyanmar
9. Rohingya punya ‘sdr’ muslim di Indo, Malay, Brunei, Turki, Arab, dll. Tp, asas kepentingan nasional pasti mjd pertimbangan utk nation-state saat ini
10. Kep.nasional ini sgt mgkn gagal menggerakkan mrka utk menerjunkan militer membantu Rohingya, krn khawatir ada kepentingan lain yg terancam.
11. Dan itu sangat wajar dlm perpolitikan nation-state. Apa yg dianggap zalim oleh Islam, blm tentu mengganggu kep.nasional tadi
12. Krn dasarnya beda, satu wahyu Ilahi, satunya lagi kepentingan ‘yg katanya’ nasional. #ShameOnYouMyanmar
13. Lalu, jika mmg bantuan logistik dan materi tdk bisa efektif menyelesaikan akar masalahnya, apa yg dibutuhkan Rohingya? #ShameOnYouMyanmar
14. Skl lg, militer dilawan dgn militer. Tapi, bukan militer dr negeri yg tdk mau mengesampingkan kep.nasional demi titah Ilahi tadi.
15. Melainkan, militer dr negara yg mmg menjadikan titah Ilahi sbg dasarnya dan tak berkepentingan apapun kecuali menjaga tiap nyawa rakyatnya
16. Negara itu ialah Khilafah rasyidah ‘alaa minhajin nubuwwah. Yg tak segan menerjunkan tentaranya dgn semangat jihad membela sdr yg tertindas.
17. Tp, sygnya negara itu belum ada. Pdhl ia tajul furudh/mahkota kewajiban, krn bnyk kwjbn lain yg tak bs tegak tanpanya, trmsk menjaga nyawa.
18. Oleh krn itu jg, usaha ‘mengadakan’ negara ini mjd urgen utk dilakukan kaum muslim. Guna mnjlnkn titah Ilahi dan menjaga kehormatan muslimin
19. Apakah mungkin? Sangat! Krn selain janji Allah, geliat kaum muslim saat ini in syaa Allah sdh menunjukkan embrio Khilafah itu lagi.
20. Dgn semakin carut marutnya dunia, serta makin tertindasnya muslim di bbrp negeri saat ini, akan menyadarkan umat akan urgennya Khilafah.
21. Inilah kondisi umat yg tak bisa kita nafikkan saat ini. Minoritas: nyawa terancam. Mayoritas: diminta menolerir minoritas. Serba salah.
22. Ok, sy tdk menekankan pd minor/mayoritas. Tp pd problem mslh yg dihadapi umat dan apa solusi akarnya (bkn kuratif parsial tadi).
23. Jadi, prmslhn #Rohingya ini bkn hanya mslh muslim di Myanmar. Tp siapapun yg mengaku Allah tuhannya, Muhammad nabinya, dan Alquran kitabnya!
24. Dan tak lupa sy pribadi menghormati setiap bantuan yg disalurkan utk #Rohingya, tp semoga ini tak membuat muslimin luput dr solusi utama itu
25. Skl lg, krn yg dibutuhkan org terusir adalah ‘rumah’. Yg dibutuhkan org yg dibantai adalah ‘perlawanan’. Bkn hanya betadine atau beras.
26. Jd, utk menutup kultwit singkat mlm ini. Cukuplah hashtag: #RohingyaNeedsKhilafah

27. Dan agar dunia tau bhw ada kebengisan sdg trjd di daerah Timur Jauh, maka hashtag brktnya adlh: #ShameOnYouMyanmar #ShameOnYouSuuKyi

Sekian. Semoga ada manfaat. Silakan dishare tanpa perlu izin, semoga menjadi amal shalih.
Ukhtukum,

Iranti Mantasari

Advertisements

KHILAFAH

Beberapa tahun yang lalu di negeri ini, kata ini termasuk satu kata yang asing. Bisa saja mereka yg mendengar menganggap ini hanya salah satu dari kosa kata di Bahasa Arab.
Lakin bi idznillah, berkat dakwah yang istiqamah digaungkan, kata ini menjadi perbincangan di mana-mana. Dari satu rumah ke rumah lain, dari satu toko ke toko lain, dari satu kantor ke kantor lain. Mereka mulai mencari tahu apa makna kata ini dan tidak sedikit pula yg rindu akan kehadirannya kembali.
Sungguh, Khilafah adalah sebuah keniscayaan. Tak bosan-bosannya hal ini digemakan. Semata-mata agar ummat tak lupa bahwa memang ada satu janji Allah dan kabar gembira Rasulullah akan hadirnya pelindung dan perisai bagi keberlangsungan hidup mereka di dunia yang juga menjamin keindahan akhirat mereka kelak.
Dakwah anti mainstream itu tidak mudah, maka tidak heran jika tak semua orang akan ikut berjalan di atasnya. Saya coba kutip pesan yg disampaikan Dr. Najih Ibrahim dalam buku beliau Risalah Ila Man Ya’malu Li al Islam yg kemudian diterjemahkan ke bahasa, “Sesungguhnya Allah swt. jika berkehendak untuk memilih hamba-hambaNya menjadi syuhada, Dia menyiapkan musuh untuk mereka agar mereka terbunuh dan darah mereka mengalir dalam rangka mencari cinta dan keridhaanNya serta agar mereka mengorbankan jiwa mereka di jalanNya.”
Masyaa Allah. Pesan itu haruslah merasuk pada setiap pengemban dakwah bahwa adalah sunnatullah ketika ada “ujian” untuk mereka demi mereka mencapai level yg lebih tinggi di hadapan Allah dalam memperjuangkan agamaNya.
Dakwah takkan terhenti hingga detak jantung ini berhenti nantinya in syaa Allah. Karena para pengemban dakwah yakin akan jalan yg dijalaninya adalah jalan yg benar, diridhai Allah, dan akan membawa kebangkitan pada ummat. Terlalu kecil ujian yg kita hadapi saat ini jika dibandingkan dengan apa yg dihadapi baginda Rasulullah dulu.
Maka, saya di sini sembari berusaha menguatkan diri, juga ingin menguatkan antum semua untuk tetap teguh di jalan Islam, di jalan dakwah, di jalan Rasulullah dan para ‘ulama salaf meskipun rintangan tak mungkin pergi dari hadapan kita.
Nashrun minallah wa fathun qariib.

Laa hawla wa laa quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzhim.

تقبل الله منا و منكم صيامنا و صيامكم تقبل يا كريم. كل عام و أنتم بخير. آمين اللهم آمين..

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, setelah satu bulan kita bersukacita menyambut Ramadhan dengan penuh ketaatan pada Allah ta’ala, hari ini kita bersukacita juga menyambut datangnya Syawaal, hari Kemenangan untuk kita yg berhasil melewati ‘tantangan’ selama Ramadhan.
Saya pribadi memohon maaf atas segala khilaf dan salah yg selama ini pernah terucap atau terlakoni oleh diri ini. Semoga amal ibadah kita semua diterima oleh Allah dan kelak kita termasuk dalam barisan orang-orang yg bertaqwa.
Salaam,

Iranti Mantasari 💕

Khilafah: Antara Ketakutan Barat dan Kerinduan Muslim

Oleh Iranti Mantasari (Sarjana Hubungan Internasional)

Kata Khilafah akhir-akhir ini telah menjadi perbincangan hangat masyarakat, mulai dari yang awam hingga para qawwam. Bagaimana tidak, semenjak penguasa negeri ini mengumumkan rencana untuk membubarkan salah satu jama’ah dakwah Islam yang paling getol menyuarakan ide Khilafah di negeri ini, yaitu Hizbut Tahrir Indonesia, bak gaung bersambut, baik media elektronik dan cetak seperti terkomando secara otomatis untuk memberitakan ini, terlepas dari framing positif ataupun negatif yang dicoba dibentuk.

Khilafah sebenarnya bukan kosa kata baru, terlebih bagi kaum muslimin. Karena Khilafah sejatinya adalah salah satu ajaran di dalam Islam. Pembahasan terkait Khilafah juga sebenarnya sudah ada semenjak Wali Songo rahimahumullahu berdakwah menyebarkan Islam di nusantara. Bisa dilihat dalam kitab Kanzul ‘Hum yang ditulis oleh Ibn Bathuthah bahwa Wali Songo adalah utusan yang dikirim oleh Sultan Muhammad I dari Kekhilafahan Utsmani di Turki. Hanya saja, masih banyak yang belum membuka diri untuk menerima eksistensinya di dalam Islam. Bahkan, jika mau menelisik lebih jauh lagi, Khilafah sudah menjadi buah bibir bagi peradaban Barat ketika mereka masih saling memperebutkan pengaruh pada masa Perang Dunia.

Ya, posisi Khilafah di zaman kontemporer ini memang berada di antara dua kubu yang selalu berseberangan: Barat dan Islam. Khilafah di sisi Islam adalah sebuah kepemimpinan politik borderless yang akan menaungi seluruh kaum secara adil dan menyeluruh, baik Muslim maupun non Muslim untuk diatur dan diayomi melalui penerapan syariat-syariat Islam yang bersumber dari Alquran dan Sunnah Rasulillah. Karena ia adalah sebuah kepemimpinan politik, maka jelaslah peranannya tidak berbatas pada pengaturan ibadah ritual saja, melainkan politik dalam dan luar negeri, ekonomi, sosial, keamanan, pertahanan, hukum, hingga militer. Hal ini sudah barang pasti dianggap sebagai suatu rival bagi kedigdayaan peradaban Barat. Oleh karena itu, bukan suatu hal yang aneh ketika Barat akan mengambil upaya-upaya strategis dan politis untuk memberangus keberadaan rivalnya ini di muka bumi. Lord Curzon (Menteri Luar Negeri Inggris di era 1920-an) bahkan menyatakan responnya terkait penghapusan Khilafah Utsmani pada tahun 1924, ‘Situasinya sekarang adalah Turki sudah mati dan tidak akan bangkit kembali, karena ktia sudah menghancurkan kekuatan moralnya, yaitu Khilafah dan Islam.’ (terj.)

Kita saat ini mungkin sering mendengar terorisme dan ISIS yang begitu gencar disuarakan oleh media mainstream. Para analis strategi dan politik pun sudah banyak yang membahas bahwa keberadaan terorisme dan ISIS yang menyuarakan ‘Khilafah’ sebenarnya adalah instrumen yang diciptakan oleh Barat (Amerika Serikat) itu sendiri. Garikai Chengu menyatakan dalam artikelnya yang berjudul “America Created Al-Qaeda and The ISIS Terror Group” yang dimunculkan oleh platform Global Research di tahun 2017: ‘Seperti Al-Qaeda, ISIS dibuat oleh Amerika Serikat. Sebuah instrumen teror yang didesain untuk membagi dan menaklukkan Timur Tengah yang kaya akan minyak dan untuk melawan perkembangan pengaruh Iran di kawasan.’ (terj.)

Keberadaan ISIS inipun dijadikan ‘motif rasional’ oleh Amerika untuk kembali menjalankan kebijakan ‘Global War on Terrorism’ yang sudah dimulai tahun 2001 saat pemerintahan George W. Bush. Alasan inilah yang menjadi justifikasi bagi Barat dan sekutunya untuk membombardir negeri kaum Muslim, terutama di Timur Tengah dan untuk mencitraburukkan keberadaan Khilafah yang acapkali dikaitkan dengan terorisme barbar bagi kaum muslim itu sendiri. Tujuan dari agenda ini tidak lain adalah untuk mendegradasi ide Khilafah sehingga dunia termasuk muslim di dalamnya menjadi takut dan anti akan penegakannya kembali.

Padahal, kalau kita melihat dari sisi kaum muslim itu, Khilafah adalah sebuah urgensi untuk mengatasi problematika yang menyerang umat dari segala arah. Khilafah-lah instrumen politik yang akan mampu menangkis propaganda-propaganda busuk Barat itu. Khilafah, selain sebagai mu’allajan musykilan atau problem solver juga pada hakikatnya adalah wadah praktis dalam melaksanakan perintah Allah untuk menerapkan syariat Islam di dalam kehidupan.

Umat yang saat ini tengah dilanda krisis moral sebagai akibat dari ditancapkannya sekulerisme dalam kehidupan sehari-hari, nyawa-nyawanya seakan tak berharga karena diserang secara fisik dan brutal oleh para pembenci Islam, propaganda pemecahbelahan di internal kaum muslim oleh mereka yang meniscayakan perpecahan merupakan fakta-fakta yang tak dapat dipungkiri dan begitu jelas terindera oleh mata ini. Hal-hal ini sebenarnya sudah terbaca oleh mereka (muslim) yang bahkan awam terkait masalah keummatan, namun berakhir pada kepragmatisan untuk hanya tinggal diam karena merasa itu bukan masalah baginya. Mereka seakan tertutup pikirannya bahwa belum ada solusi hakiki yang mampu menyelesaikan seluruh problematika umat tersebut. Mereka sebenarnya menyimpan kerinduan kecil akan diterapkannya kembali syariat Allah agar segala urusan mereka menjadi mudah dan berkah, tapi seperti tak berdaya untuk menyuarakan kerinduan mereka itu.

Khilafah sejatinya sudah menghimpun kerinduan tersendiri pada kaum muslimin yang ingin dirinya diatur dengan kalimatullah. Khilafah jugalah yang sebenarnya diinginkan oleh umat yang merindukan kedamaian, keamanan, dan keadilan dalam tataran kehidupan bermasyarakat. Khilafah yang kini menjadi ‘trending topic’ seyogyanya adalah tuntutan umat yang sangat mengecam perpecahan dalam berbangsa dan beragama. Khilafah-lah yang saat ini menjadi dambaan hakiki ‘khayru ummah’ ini yang rindu akan janji Allah dan bisyarah kekasihNya, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam.

Cukuplah ayatNya ini untuk menguatkan kita bahwa syariat Islam adalah suatu keharusan bagi kita yang mengaku Muslim: “dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu, jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang fasik.” (TQS. Al Ma’idah: 49).
Wallahu a’lam bishshawwab.[]

Barat, Ahok, dan HTI

Beberapa waktu terakhir ini, rakyat Indonesia tengah disuguhkan panggung perhelatan yang menyentuh beberapa sektor sekaligus, dari sektor politik, agama, hingga sosial. Perhelatan yang menyita perhatian hampir seluruh elemen masyarakat, baik yang awam maupun yang pakar di bidangnya. Pasalnya, kehebohan antero ini bisa dikatakan bermula dari kasus penistaan Alqur’an, khususnya surah Al Ma’idah ayat 51 yang dialamatkan pada petahana Gubernur DKI Jakarta, Ahok.
Pada waktu yang bersamaan, Ahok notabenenya adalah calon Gubernur sah yang akan maju pada Pilkada DKI Jakarta 2017. Namun, jauh sebelum kasus itu mencuat, perlu diperhatikan juga adanya peran salah satu organisasi Islam yang memiliki keterkaitan dengan kasus tersebut, yaitu Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), karena HTI gencar menyuarakan penolakan naiknya seorang kafir (non Muslim) sebagai pemimpin di tataran pemerintahan. Dari sinilah, publik mulai bersuara mengenai pro dan kontra terhadap aksi tersebut dengan mengangkat berbagai alasan.
Puncak pergolakan masyarakat bisa dilihat dari diselenggarakannya berbagai aksi oleh kaum Muslimin yang merasa kitab sucinya telah dihinakan oleh seseorang yang sebenarnya tidak bekapasitas mengomentari. Aksi tersebut terhimpun dalam Aksi Bela Islam yang berjilid-jilid dengan agenda yang sama, yaitu menuntut agar Ahok dipidanakan atas dasar penodaan agama. Aksi-aksi tersebut muncul karena kaum Muslim melihat adanya keapatisan pemerintah dalam menangani kasus ini. Setelah beberapa aksi terselenggara, barulah sidang pertama kasus ini digelar di pengadilan. Rentang waktu sidang pertama hingga sidang vonis-pun terbilang cukup lama, tidak seperti kasus-kasus yang melibatkan rakyat awam yang begitu cepat sidang vonisnya.
Setelah beberapa rentetan sidang dilaksanakan, publik kembali dihebohkan karena sidang pembacaan tuntutan untuk Ahok yang dijadwalkan diselenggarakan pada tanggal 11 April 2017 ditunda dengan alasan Jaksa Penuntut Umum (JPU) belum selesai menyiapkan dokumen tuntutan. Sidang pembacaan tuntutanpun diundur hingga 20 April 2017, yaitu 1 hari setelah putaran kedua Pilkada DKI Jakarta dilaksanakan, dengan dalih agar persidangan tidak mencederai masa tenang kampanye pra-pilkada. Seperti yang sudah diprediksi ummat, JPU hanya menuntut 1 tahun dengan 2 tahun masa percobaan. Tuntutan ini berarti jika Ahok dalam 2 tahun melakukan tindak pidana serupa, maka barulah ia akan ditahan selama 1 tahun, dan dengan kata lain ia “dituntut” untuk bebas. Hal ini jelas memicu amarah kaum Muslimin, bukan hanya di Jakarta tetapi di banyak daerah lainnya.
Hakim memiliki waktu untuk mempertimbangkan tuntutan JPU hingga akhirnya menjatuhkan vonis terhadap Ahok. Namun dalam selang waktu itu juga, berdasarkan Quick Count, Ahok jelas tak mampu memenangkan putaran kedua Pilkada DKI Jakarta ini. Sebuah angin segar bagi kaum Muslimin Jakarta, karena setidaknya satu keharaman tidak meliputi Ibukota negeri ini.

Sidang vonis Ahok dijadwalkan digelar pada tanggal 9 Mei 2017. Akan tetapi sehari sebelum itu, tanggal 8 Mei 2017, Presiden Jokowi melalui Menkopolhukam, Wiranto didampingi Menkumham dan Kapolri melakukan konferensi Pers mengenai rencana pembubaran HTI. Melalui kesempatan itu, Wiranto menyatakan bahwa HTI memiliki tendensi untuk mengancam keamanan negara dan juga menyuarakan ide yang bertentangan dengan dasar negara. Wiranto juga menganggap bahwa HTI tidak berkontribusi banyak dalam memajukan negeri ini. Hal ini kembali memicu suara kaum Muslim, termasuk mereka yang duduk di kursi pemerintahan.

Apakah semua ini hanya suatu kebetulan? HTI yang selalu vokal menyuarakan ide dan muhasabahnya terhadap berbagai problem di negeri ini, begitu saja diumumkan pada publik bahwa ia akan dibubarkan satu hari sebelum sidang vonis Ahok dilaksanakan. Betul saja. Tindakan pemerintah ini keluar dari prosedur pembubaran ormas, yang seharusnya ada Surat Perintah (SP) 1, 2, dan 3 yang diberikan kepada ormas bersangkutan sebelum akhirnya pemerintah memutuskan untuk membubarkan ormas tersebut. Terhadap HTI, Jubir HTI, ustadz Ismail Yusanto mengakui bahwa SP1 saja belum ada diberikan oleh pemerintah.
Tindakan ini juga nampaknya akan menjadi blunder bagi pemerintah, karena rakyat, pengamat, politisi, dan pakar hukum melihat bahwa hal itu mencederai asas kebebasan berserikat di negeri ini dan menunjukkan “keotoriteran” pemerintah. Rencana pembubaran ini juga dilihat sebagai puncak dari beberapa peristiwa sebelumnya yang dialamatkan pada HTI dalam melaksanakan kegiatannya. Pasalnya, kegiatan HTI kerap kali dilarang oleh pihak polisi karena mendapat tekanan dari beberapa ormas untuk tidak dilaksanakan. Para ‘ulama di negeri ini juga menilai jika HTI sebagai ormas yang cukup besar saja berencana dibubarkan oleh pemerintah, maka tidak menutup kemungkinan ormas-ormas Islam lain yang terbilang kecil juga akan dibubarkan.

Ibarat gayung bersambut, setelah hakim membacakan vonis Ahok yang diputuskan menjadi 2 tahun penjara, reaksi massif mulai bermunculan, tak hanya dari dalam negeri, namun dunia internasionalpun menyoroti. Mulai dari PBB, Amnesty Internasional, pemerintah Belanda bahkan Uni Eropa angkat suara terkait putusan ini. “Putusan itu memperlihatkan ketidakadilan dalam hukum penodaan agama di Indonesia, yang harus segera dihapus,” tulis Amnesty International dalam siaran pers yang diterima CNNIndonesia.com, Selasa (9/5). Melalui pernyataan resminya juga, kantor perwakilan Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam menyatakan bahwa hukum penodaan agama tersebut dapat menghalangi kebebasan berekspresi.
Respon komunitas internasional ini menunjukkan adanya ‘hidden agenda’ atau agenda terselubung yang pada akhirnya akan berimbas pada Islam. Respon ini terbilang baru muncul ketika kasus ini menimpa Ahok, namun tidak pada kasus-kasus lainnya yang menimpa orang lain. Seperti halnya yang digaungkan oleh Barat, Islam saat ini sedang dilemahkan secara global melalui agenda-agenda Islamophobianya. Bahwa, adanya aksi yang dilaksanakan oleh kaum Muslim untuk menuntut pemidanaan Ahok ini dianggap sebagai bentuk ketidakadilan kaum mayoritas terhadap minoritas.
Tidak mengherankan, semua ini sangat mungkin terjadi pada suatu kondisi ketika agama dipisahkan dari kehidupan. Ketika standar yang digunakaan untuk menentukan salah dan benarnya sesuatu adalah standar manusia. Fenomena sekulerisme inipun telah menggerogoti dunia Islam secara general dan berimplikasi pada lemahnya kaum Muslimin dalam melihat perisitiwa global yang sejatinya sangat menunjukkan “ketidakridha-an” Barat terhadap Islam bagaimanapun bentuknya. []

Referensi:

http://www.cnnindonesia.com/internasional/20170510094031-106-213735/pbb-desak-ri-tinjau-ulang-hukum-yang-jerat-ahok/

https://m.tempo.co/read/news/2017/05/08/078873445/profesor-noorhaidi-pembubaran-hti-bikin-blunder-besar

https://centralnews.co.id/2017/05/11/ulama-banten-menolak-pembubaran-hti/

http://www.tribunnews.com/nasional/2017/05/08/pembubaran-hti-tetap-melalui-proses-hukum

http://news.metrotvnews.com/peristiwa/VNn66wvN-fadli-zon-pembubaran-hti-bentuk-otoritas-pemerintah