Pesan-pesan Menggugah untuk Para Pengemban Dakwah

WhatsApp Image 2017-07-21 at 10.17.41 AM

Penulis: Dr. Najih Ibrahim
Penerbit: Al Azhar Press
Tahun Terbit: 2013 (cet. 5)
Halaman: 207
Jenis: Nasehat Islami

Buku ini adalah terjemahan dari buku yang ditulis dalam bahasa Arab yaitu, Risalah Ila Man Ya’malu Li al Islam. Buku ini memang berisikan tentang nasehat-nasehat untuk menguatkan para pengemban dakwah dan aktivis Islam yang dinukil dari nash-nash syar’i serta pengalaman pribadi penulisnya.

Perjalanan dakwah dan amar ma’ruf nahiy munkar itu tidak bisa dipungkiri bahwa ia bukanlah suatu jalan yang mudah. Tak jarang, para aktivis Islam yang sudah meng-iltizam-kan dirinya di jalan dakwah, harus menghadapi tantangan dan tekanan, baik fisik maupun non-fisik. Melalui 24 bab singkat, nasehat penulis ini juga disampaikan dengan mengisahkan kembali pada kita perjalanan dakwah hingga jihad Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam beserta para sahabat radhiyallahu ‘anhum di masa awal Islam datang hingga ketika Islam sudah meluas peradabannya.

Di mana ada dakwah dan seruan pada Islam, maka di situ pulalah akan ada kaum-kaum yang menolak seruan tersebut. Dari hal itu, para aktivis Islam sudah seharusnya menjadi kuat, tegar, dan selalu mengingat “jual beli” yang sudah mereka lakukan dengan Allah, sehingga ghirah mereka untuk mensyiarkan Islam tidak akan pernah padam meski harus berhadapan dengan penolakan-penolakan itu.

Saya pribadi ketika membaca buku ini, tidak jarang merasa tertusuk berkali-kali atas nasehat yang disampaikan penulis. Karena beliau juga membahas tentang besar kontribusi yang aktivis Islam saat ini berikan pada dakwah tidak sebanding dengan kontribusi yang dilakukan para sahabat dan generasi salaf dahulu.

Buku ini benar-benar saya rekomendasikan untuk siapa saja pengemban dakwah Islam di manapun berada. Tantangan dakwah yang menanti di depan, seperti apa yang dihadapi kaum muslimin dan beberapa jama’ah dakwah di Indonesia saat ini, benar-benar meminta para aktivis Islam untuk senantiasa kuat, tegar, istiqamah, dan tidak takut untuk terus berdakwah hingga nanti kemenangan dan kejayaan Islam itu benar-benar terwujud untuk kali berikutnya.

Izinkan saya mengutip salah satu nasehat penulis di dalam buku ini,

”Sesungguhuhnya Allah SWT, jika berkehendak untuk memilih hamba-hambaNya menjadi syuhada, Dia menyiapkan musuh untuk mereka agar mereka terbunuh dan darah mereka mengalir dalam rangka mencari cinta dan keridhaanNya serta agar mereka mengorbankan jiwa mereka di jalanNya. Kesyahidan atau mati syahid adalah peringkat tertinggi setelah peringkat para nabi dan shiddiqin. Syuhada adalah orang-orang yang didekatkan kepada Allah SWT dalam keadaan ridha kepadaNya. Allah memilih mereka, mengistimewakan mereka, dan mengambil mereka untukNya.”

Advertisements

Coffee Lovey

1481814525116

credit to brightandearlycoffee.com ^^

I’d like to share my love towards this product 😀 It’s a rare kind of thing I publish in this blog anyway. And random one of course.

Well, whenever I heard this word, Coffee, my brain starts to imagine how great it is to have a sip of it. It is like when you have lots of burden, but then someone come and offers you a help to get rid of those burdens. That’s the same feeling when I have a cup of coffee. Exaggerating? Not really. I do really feel that whenever I’m with it, well not always, but oftenly. The aroma, the taste, the various flavor it offers, I just can’t let them go easily, both iced or hot one.

However, there are some problems I usually face when I’m about to drink Coffee. The problems are the price and its Halal-ness.

Some coffee shops set the price of their product too high, in my honest opinion as someone who don’t have exact amount of income :p But then, some people says the service and the ambience of the shop pay the price in the end. I agree and I don’t. If I’m about to have my favorite variant; Latte (no matter what the flavor is), I need to pay for at least IDR 30k. I sometime think it’s too much for a cup of coffee, when I actually can find a more surfeited food with that price.

Second, the Halal-ness of the product. Not all coffee shops here have their business certification from MUI (Indonesian Clerics Council). It means, not all coffee shops provide Halal coffee. Why? It’s just coffee isn’t it? Not something that really catch our eyes when we talk about Halal-ness, like Pork for instance. Well, it’s true it’s just a coffee, a beverage. But then, Pork is not the only substance that Muslim should not consume. Alcohol is another substance. I saw some coffee shops sell Rum-added coffee. Rum in my understanding is similar with alcohol. Only the form is different, or even the taste perhaps. But in Islam, it is still categorized as Khamr or something intoxicate. So, for me, a Muslim and a Coffee-lovey, the Halal-ness and the price of the coffee are really important.

Another thing that makes me love Coffee is that it can melt the ambience. Trully. Discussing hot issue about Islam and this country with your fellas in a coffee shop is a very great choice. And even doing your tasks with your classmates in a coffee shop is such a pleasant. It’s just amazing to see how a cup of coffee really matters. This quote prevails a lot:

No matter how the situation is, Coffee Understand.

It’s true. Coffee understands your situation. As for me, coffee is not only a beverage that people usually drink in their leisure time. But coffee is something that can complete my day. A day without coffee is so empty~

Oh, I just don’t know how to express my love to Coffee, if only it could hear me. LOL.

Well, that’s the only thing I wanna say about Coffee. I know it’s so random and maybe trash for some people, but I need to write what’s inside my head so that my brain could function well in this early morning. See you on other deep-analysis-post! 😀