Muslim Hanif dan “Burung di Sangkar”

Oleh: Iranti Mantasari, BA.IR

Problematika multidimensi yang saat ini dialami oleh negeri ini tentunya telah menjadi sorotan bagi siapa saja anak bangsa yang ingin melakukan perubahan, termasuk di dalamnya adalah para muslim dan muslimah. Darurat moral, tumpulnya keadilan dan peradilan, kotornya sistem perpolitikan, krisis ekonomi dan utang merupakan beberapa dari sekian banyak problem yang harus dihadapi di negeri khatulistiwa ini.
Melihat situasi ini, tidak sedikit kaum muslimin yang ingin membawa perubahan di negeri ini, mengubah kebobrokan yang ada menjadi negeri yang bercahaya. Banyak yang berjalan dengan memfokuskan pergerakannya pada peningkatan taraf pendidikan guna mencerdaskan bangsa. Ada pula yang bergerak dengan menekankan pada pemurnian ‘aqidah umat yang dianggap sudah tenggelam dalam banyak kesyirikan. Ada juga yang berjuang di ‘gedung putih’ agar bisa turut serta dalam merumuskan kebijakan demi kemaslahatan umat. Kesemuanya tentu patut kita hargai serta apresiasi ikhtiarnya untuk kebaikan umat Muhammad ini.
Dari situ pulalah, kita bisa melihat masih ada banyak sekali dari kaum muslimin yang hanif. Yang dengan tegas menolak segepok amplop jika harus menukarnya dengan kepentingan umat. Yang tidak hanya memikirkan bagaimana agar dirinya bisa hidup enak dan terjamin. Yang merasa masalah yang menimpa orang lain merupakan masalah yang harus dihadapinya juga. Bahkan masih banyak mereka yang hanif yang mau mencurahkan segenap tenaga dan ilmunya untuk membangkitkan kembali umat dan memuliakan agama ini.
Namun, tidak sedikit juga mereka yang hanif tapi hanya seperti burung di dalam sangkar. Mereka indah dan kicauannya begitu merdu, tetapi mereka terkungkung di dalam sangkar yang membuat mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Sangkar itu sejatinya adalah sistem yang berlaku saat ini. Seindah dan semantap apapun usaha mereka, hal itu sulit untuk terlaksana karena ada jeruji besar sistemik yang menghalangi kebaikan-kebaikan itu.
Sangkar berupa sistem ini telah nyata mengekang kaum muslimin hanif yang ingin membawa perubahan pada negeri ini. Mereka banyak sekali datang dari latar belakang yang berbeda-beda, mulai dari akademisi, praktisi kesehatan, pengamat hukum, pakar ekonomi, para entrepreneur, hingga para pemangku jabatan strategis di birokrasi negeri. Usaha mereka untuk memperbaiki negeri ini memang ada, tapi hanya parsial dan efeknya bukanlah efek jangka panjang. Jika saja mereka tidak kuat dalam mengusahakan perubahan itu, maka merekalah yang menjadi korban yang akan terwarnai oleh sistem ini.
Pengampu jabatan birokratis misalnya, mereka tidak sedikit yang terheran dan kesal melihat kondisi negeri yang carut marut ini. Mereka yang notabenenya mempunyai kekuasaan untuk merubah keadaan, tetap saja akan sulit menyelesaikan masalah-masalah yang ada karena terhambat dengan sistem yang tidak mendukung perubahan-perubahan yang diusungnya. Kebijakan yang mereka ambil hanya sebatas membersihkan daun-daun di pohon masalah saja, tetapi akar masalah yang menancap kuat tidak dicabut dan diganti dengan bibit yang baru. Alih-alih membawa perubahan, mereka bahkan tidak sedikit yang disingkirkan dengan berbagai pidana karena dianggap ‘mengancam’ keberlangsungan sistem saat ini.
Sekali lagi, semua usaha patut kita apresiasi dan hargai selama itu datang dari kaum muslimin yang berjuang bukan untuk menuruti keinginan para cukong dan kapitalis yang nyata merongrong negeri ini. Tapi, selama gembok sistemik dari seluruh problematika ini tidak dibuka dan mereka enggan untuk bergerak meninggalkan sistem yang mengekang itu, maka perubahan dan kebangkitan hakiki itu akan sulit untuk kita dapatkan.
Berbagai usaha mulia yang dilakukan kaum muslimini itu tidak seharusnya membuat kita lupa akan kewajiban mendasar kita dalam hidup ini. Sebagai seorang muslim, setiap diri kita telah terbebani taklif syar’i sejak baligh. Kita sudah terikat dengan hukum syariat yang diturunkan Allah kepada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wassalām melalui malaikat Jibril. Syariat inilah yang akan mengatur kehidupan kita, mulai dari pengaturan diri, pengaturan bermasyarakat, hingga pengaturan dalam bernegara.
Masalahnya sekarang adalah sistem yang berlaku saat ini tidak mendukung kita untuk bisa menyeluruh melaksanakan itu semua, padahal taklif wajibnya tidak terangkat meskipun zaman sudah berganti. Hal ini terlepas dari seberapa besar usaha yang sudah dilakukan individu-individu serta kelompok perjuangan kaum muslimin.
Berbagai kewajiban kaum muslimin untuk menjalankan syariat Allah secara menyeluruh akan sulit bahkan terhitung mustahil bisa terwujud jika tidak ada sesuatu yang disebut oleh para ‘ulama sebagai taj al furūdh atau mahkota kewajiban. Mahkota kewajiban ini akan menaungi pelaksanaan kewajiban dan syariat-syariat Allah yang lain. Taj al furūdh ini tidak lain dan tidak bukan adalah Khilafah Islamiyah yang sesuai dengan metode kenabian. Namun, ia adalah sebuah mahkota berharga yang kerap kali dilupakan oleh kaum muslim sendiri. 
Khilafah yang akan menjamin kita dalam melaksanakan kewajiban yang telah dibebankan pada diri masing-masing. Khilafah adalah kiyānut tanfidz atau institusi pelaksana, pelaksana beberapa syariat Allah yang tidak mungkin bahkan tidak boleh dilakukan atas nama perseorangan atau kelompok, seperti syariat terkait ‘uqubat atau sanksi atas pelanggaran hukum syara’. Syariat yang harus dilaksanakan inipun tidak sedikit jumlahnya. Hal itu pulalah yang membuat Khilafah sebagai taj al furudh menjadi wajib untuk diwujudkan demi terlaksananya syariat Allah dalam kehidupan manusia.
Dengan kehadiran Khilafah Islamiyah, para muslim yang hanif tadi tidak hanya tersalurkan kebaikannya, melainkan mereka juga akan mendapat kebaikan dari Khilafah tersebab terlaksananya perintah-perintah Allah dan tercegahnya larangan-larangan Allah. Perjuangan penegakan Khilafah tidak sepatutnya hanya dilakukan oleh segelintir orang atau kelompok tertentu saja, karena Khilafah adalah bagian dari ajaran Islam dan akan menjadi milik umat, apapun agama dan latar belakangnya. Khilafah bukanlah institusi yang kerap kali dicap negatif dan mengerikan oleh publik saat ini.
Jangan ragu ataupun takut dalam menyerukan kebenaran dan penegakan kembali mahkota kewajiban ini. Umat yang sudah terlalu lama terkungkung dalam sangkar ini sudah semestinya bersuara dan bergerak untuk menembus sangkar dan keluar. Rasa lelah akan sangat mungkin kita rasakan ketika berjalan di atas ikhtiar mewujudkan kembali pelaksanaan syariat Allah. Tapi, semoga satu ayat ini akan mampu merasuk di dada-dada kita dan mengingatkan agar kita tidak gentar untuk senantiasa menyuarakan kalimatullah, 

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡۤا اِنۡ تَـنۡصُرُوا اللّٰهَ يَنۡصُرۡكُمۡ وَيُثَبِّتۡ اَقۡدَامَكُمۡ

”Hai, orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (TQS Muhammad: 7). Wallahua’lam bi ash-shawwab.[]

Advertisements

Shalihah

“الدنيا متاع و خير متاعها المرأة الصالحة” (روه مسلم)

“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah” (HR. Muslim)

Shalihah bagi saya itu bukan sekedar tujuan, tapi ia lebih pada harapan dan proses. Karena memang, untuk mendapat gelar ‘shalihah’ itu sendiri pasti akan membutuhkan proses yang panjang, waktu yang lama, dan bekal yang banyak.

Banyak yg berharap menjadi shalihah, namun ia enggan menjalani proses. Tapi, tidak sedikit juga yg menggebu-gebu dalam berproses menjadi shalihah itu. Setiap proses tentu saja patut kita hargai dan apresiasi. Sisanya hanya perkara konsisten dan istiqamah saja.

Menjadi shalihah juga indikatornya banyak. Harus begini, harus begitu, dll. Tapi hemat saya, inti dari semuanya adalah ketika kita sadar akan hubungan kita dengan Allah (idrak silah billah). Dengan kesadaran itu, kita akan hidup dalam Muraqabatullah atau merasa bahwa Allah selalu mengawasi kita, melihat kita, dan memperhatikan kita. Bahwa tak mungkin ada yg luput dari pandangan Allah. Dari situ pulalah, tindak tanduk perbuatan kita akan terpandu dalam baik dan buruk di sisi Allah serta halal dan haram di sisi Allah.

Sekali lagi, mendapat gelar shalihah bukanlah perkara yg mudah, karena ia sejatinya adalah gelar ukhrawi. Gelar yg akan Allah sematkan pada wanita-wanita yang hatinya penuh dengan asma Allah dan kecintaan pada Rasulullah serta kebanggaan pada Islam.

Jadi, coba tanyakan pada diri.

Apakah aku sudah shalihah? Atau setidaknya sudah berproses menjadi shalihah?

And here I am, currently in attempts to achieve that title, even I oftenly still have to fight with my ‘inner me’.

So, Dear me, please be Shalihah because of Allah…

Ramadhan

Mungkin terkesan terlambat jika menulis tentang ini, karena malam ini saja sudah masuk 10 malam terakhir. Terlalu cepat rasanya memang. Karena ini adalah 10 malam yang biasanya dinantikan. Bagaimana tidak, Ramadhannya saja sudah spesial, terlebih lagi 10 malam ke depan ini.
Ada 1 pertanyaan sederhana.
Sudah membekaskah kebaikan Ramadhan tahun ini pada diri? Jika belum, kita masih ada kesempatan 10 malam ini untuk melakukannya. Sungguh ini tamparan keras bagi saya pribadi yang masih amat sangat jauh dari sempurna Ramadhan-nya kali ini. Tapi, percayalah. Setiap tulisan yang ada di blog ini, sejatinya adalah pemantik diri, penyemangat diri, pengingat diri. Bukan serta merta saya sudah lebih baik ibadahnya. Karena mencoba berbagi pengingat, saya rasa bukan sesuatu yang salah.
Ramadhan ini bulan ketaatan, katanya. Bulan di mana setan dibelenggu, katanya. Bulan di mana pintu neraka ditutup dan pintu surga dibuka selebar-lebarnya, katanya. Tapi apa kita sudah benar-benar meresapi maksud dari ‘katanya’ itu? Simple memang. Tapi, ternyata belum kita semua yang memahaminya.
Rasanya masih banyak di sekitar kita yg ibaratnya berpuasa, tapi hanya mendapat lapar dan hausnya saja. Pahala-pahalanya terbang bersama kemaksiatan yg dia lakukan. Tentu saja ini bukan penilaian sepihak, karena hanya Allah yang pantas menyandang Maha Juri. Tapi, kita manusia hanya bisa menilai yang zihar saja, yang jelas tampak oleh mata ini. Untuk perkara ini, saya tentu berharap bukan kita yang termasuk berlelah-lelah puasa hanya untuk lapar dan haus tersebut.
Ramadhan ini bisa diibaratkan sebagai kerabat dekat yang datang berkunjung ke rumah kita karena rindu ingin bersilaturrahim, tapi sebentar lagi akan beranjak karena ada panggilan lain. Dan saya yakin, sebagai pemilik rumah yang baik, kita akan menemani bahkan menyiapkan segala sesuatunya agar Sang Tamu tadi berangkat dengan senang hati. Pun dengan kita. Sudah sepantasnya kita mengencangkan niat dan ikhtiar terbaik untuk melepas Ramadhan ini. Karena tak ada yang tahu, mungkin kunjungan Ramadhan berikutnya, kitalah yang lebih dulu meninggalkannya.
Teruntuk jiwa-jiwa yang tak ingin Ramadhan beranjak secepat ini.
Ukhtukum,

IM.

Al Arba’a, 20 Ramadhan 1438 H.

Mengenal gamis/jubah sebagai pakaian luar muslimah memang ada pasang surutnya. Terutama di awal2 hijrah, punya persepsi bahwa bergamis itu ribet dan ngerepotin aktivitas dan segala macem. Tapi memang sih, saat diterapin di diri juga yaaa itu memang kejadian. Mulai dari gamis bolong karena knalpot motor (yang di foto), gamis masuk ke rantai sepeda, gamis keinjek waktu naik tangga, bawah gamis jadi kotor di musim hujan yang bikin becek dll.
Tapi..

Alhamdulillah semuanya (memang) ga (seharusnya) menyurutkan niatan untuk tetep berpakaian syar’i ketika keluar rumah/kost. Ibarat, gpp deh sekarang gamisnya masuk rantai sepeda drpd harus dapet siksaan yang muter2 nanti akhirat hanya karena menanggalkan pakaian ini untuk alasan demikian. Gpp deh gamisnya keinjek waktu naik tangga drpd nanti di akhirat diinjek2 yang sakitnya tuh ga terbayang di akal kita saat ini.
Dah, intinya. Mau apapun aktivitas kita, kesibukan kita, konsekuensi syahadat kita sebagai Muslimah adalah menjalankan syariat Allah dan salah satunya adalah berhijab syar’i dgn merujuk pada Al Quran dan As Sunnah.
Go check Al Ahzab: 59 dan An Nuur: 31 for this case 🙂

Semoga yang belum berhijab, dimudahkan hidayah oleh Allah untuk menutup aurat.

Semoga yang sudah berhijab tapi belum syar’i, semoga Allah mudahkan langkahnya untuk berhijrah menuju syar’i.

Dan semoga yang sudah berhijab syar’i,  karena tak kalah sulit dgn 2 sebelumnya, Allah berikan ke-istiqamah-an dan kemurnian niat berhijab syar’i hanya untuk Allah.
Aamiin Allahumma Aamiin :’)