Dakwah


Jika saja dulu Rasulullah tak berdakwah, maka takkan ada kafilah kaum Muslim datang ke rumah Arqam bin al Arqam untuk mendalami Islam.
Jika saja dulu Rasulullah tak berdakwah, maka tak mungkin manusia sejahat Umar bin Khaththab luluh hatinya karena ayat Alquran dan menjadi pembela Islam hingga akhir hayatnya.
Jika saja dulu Rasulullah tak berdakwah, maka tak mungkin imperium digdaya sekelas Persia dan Romawi tunduk di bawah naungan Islam.
Jika saja dulu Rasulullah tak berdakwah, maka tak mungkin Islam dan seperangkat syariah Allah bisa sampai pada kita hari ini.
Yes, it is the Power of Dakwah.
Dakwah itu sepantasnya menjadi poros hidup. Karena dengan dakwah, kita tak hanya menjaga diri kita dari kemunkaran, tapi juga menyelamatkan masyarakat dan generasi dari sederet keburukan zaman.
Kalau membahas dakwah, saya teringat dengan hadits yg diriwayatkan oleh imam Bukhari rahimahullahu yg isinya kurang lebih: orang yg berdakwah itu diumpamakan seperti orang yang ada di dalam perahu, ada yang di dek bawah dan ada yang di dek atas. Jika yang di bawah ingin minum, maka mereka harus ke atas. Namun, mereka bisa saja melubangi perahu itu dan mengambil air langsung dari aliran air di bawah. Jika orang yang di atas membiarkan itu terjadi, maka bukan hanya orang yang di dek bawah saja yang akan tenggelam, tapi juga orang yang di dek atas pun akan ikut tenggelam.
Dakwah itu seni dan tidak mudah memang. Karena itulah, pendakwah umumnya lebih sedikit daripada yang didakwahi. Tapi jangan remehkan kekuatan yg sedikit itu, tanpa mereka memuhasabahi, mengoreksi, mengingatkan untuk menjauhi kemunkaran, mungkin kita tak akan hidup “seenak” ini sekarang.
Jika ada yang datang mendakwahimu, percayalah ia juga sedang mendakwahi dirinya sendiri. Bukan tersebab ia lebih baik darimu, namun ia hanya ingin menyampaikan kebaikan dan kenikmatan Islam yang dirasa agar engkau juga bisa merasakan yg sama.

Dan teruntuk para pengemban dakwah, teruslah sampaikan hikmah Islam yang sudah menghujam di dirimu pada yang lain. Teruslah sampaikan alasan mengapa engkau bahagia di jalan Islam. Teruslah sampaikan apa yang haq itu haq dan yang bathil itu bathil. Teruslah sampaikan kebenaran dan kesempurnaan Islam pada umat.

Sungguh, kita tak tahu amalan mana yang akan membuka surga untuk kita kelak. Bisa saja kalimat-kalimat dakwah yang keluar dari lisanmu-lah yang akan menyelamatkanmu dari siksa neraka.
Sungguh, karena surga itu terlalu luas tak terkira untuk kita masuki sendiri. Saudara-saudaramu juga memiliki hak untuk mencicipi manis dan indahnya surga.
Pesanku, istiqamahlah berdakwah meski sulit. Istiqamahlah menyeru Islam meski banyak yang tak ingin mendengar. Istiqamahlah mendakwahi keluarga, saudara, sahabat, hingga penguasa agar kesemua kita kelak dikumpulkan lagi di Firdaus yang akal kita takkan mampu menjangkaunya.

Advertisements

Dakwah Tak Mungkin Bubar

Ingin rasanya jemari ini tak menumpahkan isi hati.

Hati yang terasa sesak penuh dengan luapan perasaan.

Belum lama memang ku bersamanya, tapi sudah begitu banyak hal indah yang bahkan tak mampu diucap oleh kata-kata.

Darinya, aku mengenal diri ini. Mengenal hakikatku sebagai seorang hamba yang lemah, terbatas, dan butuh pengaturan paripurna dari yang menciptakanku.

Darinya juga, aku mengenal bahwa kebaikan itu tak pantas untuk kumiliki seorang diri.

Karena, surga itu terlalu luas untuk kita masuki sendiri katanya.

Hari-hari kian gelap. Kian mencekam. Kian mencekik melihat bagaimana dakwah ini dicoba dibungkam, dipinggirkan, dihentikan.

Tapi satu hal yang kupegang. Bahwa ketika malam datang, maka mentari pun telah menanti untuk menyinari hari kita.

Dakwah sejatinya butuh wasilah, agar ia lebih cantik, rapi, dan indah. Wasilah yang berperan sebagai kerangka yang mengatur keping-keping puzzle agar bisa menyatu.

Adalah sunnatullah dakwah pula jika ada yang mengambil peran sebagai Umayyah bin Khalaf, yang dengan segenap tenaga terus berusaha menggagalkan dakwah.

Tapi tak dipungkiri juga akan ada sosok-sosok seperti Bilal yang terus bertahan dalam Islam meski cambukan dan pecutan bertubi-tubi menerpa tubuhnya.

Islam dan dakwah. Islam takkan sampai jika tak ada yang mendakwahkannya. Dan dakwah takkan berarti apa-apa jika bukan Islam isinya.

Sama seperti Islam, dakwah tak akan pernah bubar, bagaimanapun kerasnya tantangan di depan. Karena ia selalu ada dalam ingatan para pengembannya sebagai suatu kemuliaan ukhrawi.

Aku marah.

Aku kesal.

Dada ini sesak.

Mata ini ingin rasanya terisak.

Tapi, kucoba kuatkan diri bahwa semuanya akan menjadi gerbang menuju titik awal kebangkitan itu. Titik balik kehidupan Ummat yang Satu yang sedang dorman ini.

Allah sedang menyaring siapa saja yang memihak pada Islam dan dakwah, sehingga kelak mereka-lah yang akan membela diin ini dengan segenap hati dan kecintaannya pada Allah.

Wasilah bisa saja retak, melemah, bahkan hancur. Tapi ingat, Dakwah Tak Mungkin Bubar hingga Allah benar-benar menyerahkan kemenangan itu pada ummat yang sudah tertulis dalam kitab kalamNya.

Cikarang, 21717, 22.24 WIB

image

Karena yang fana itu melenakan dan yang kekal itu terlupakan.

yang terkenal di dunia maya itu sudah banyak, tapi yang terkenal di sisi ‘Raqib’ belum tentu banyak.

yang terlewat 5 waktu spesial dalam 24 jam itu banyak, tapi yang tenggelam dalam kekhusyukan 5 waktu spesial itu belum tentu banyak.

yang bisa bahagia tanpa ketaatan itu banyak, tapi yang menangis karena tak maksimal dalam ketaqwaan itu belum tentu banyak.

Life is a choice.

Entah kau akan melempar dadu hitam atau putih, semuanya ada di genggamanmu. Tapi ada satu hal yang sudah pasti, hitam akan tetap hitam, dan putih akan tetap putih.
Entah kau akan mewarnainya dengan kebaikan atau keburukan, semuanya adalah pilihanmu. Yang perlu kita camkan adalah semua kelak akan menuntut konsekuensinya.

Will we attain the good one? Or the bad one instead? Wallahua’lam bi ash-shawwab.