Wahai Diri, Muhasabahlah…

Seperti sekolah, pada masa tertentu akan diadakan ujian untuk menguji atau mengevaluasi bagaimana proses belajar yang sudah dilalui sebelumnya. Dari ujian itu, kita bisa mengetahui bagaimana kapasitas kita dan seberapa baik kita dalam pelajaran tersebut.

Begitu pula dengan manusia. Manusia itu hidup dari satu waktu ke waktu berikutnya. Hidup manusia tidak bisa di-pause layaknya video, ia akan terus berputar hingga Allah pada akhirnya rindu dengan kita dan memanggil kita kembali padaNya. Keberlanjutan hidup manusia inipun perlu untuk dievaluasi, sehingga kita bisa tahu apa yang kurang dan apa yang salah selama kita menjalani hidup, serta apa yang sudah baik untuk bisa tingkatkan lagi kualitas serta kuantitasnya.

Sebagai muslim, kita juga pasti sadar bahwa tidak ada satupun dari kita yang nihil dari dosa dan kesalahan. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam yang dinyatakan suci dari dosa saja masih beristighfar setidaknya 70-100 kali dalam sehari. Pun para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang namanya memang sudah terkenal di langit, mereka masih berusaha meningkatkan iman dan ibadah di hadapan Allah.

Nobody is perfect, because we are not meant to be. 

Aku tak sempurna. Engkaupun tak sempurna.  Tapi, tak ada yang salah jika kita terus mencoba untuk menjadi yang sempurna. Muhasabah-lah yang akan menjadi kunci agar pintu kesempurnaan itu bisa terbuka. Kita butuh waktu untuk merenungi, menimbang, dan menilai apa saja yang perlu kita perbaiki pada diri ini. Maksiat apa saja yang sudah kita perbuat. Dosa apa yang sudah kita lakukan. Ketaatan apa saja yang sudah kita tunaikan. Semuanya bukan sekedar untuk mencapai standar baik di mata orang lain, tapi lebih dari itu, untuk kebaikan kita di dunia dan akhirat.

Menjadi seorang yang mengaku memperjuangkan agama Allah tentu harus mau muhasabah diri. Jangan sampai yang kita lakukan hanya memuhasabahi orang lain, namun kita abai terhadap diri sendiri. Apa kau tahu? Diri yang terkadang egonya bergejolak ini, sesekali butuh untuk ditengok. Ianya bisa saja bergejolak karena memang kita tak pernah memberikan perhatian padanya di saat ia sedang membutuhkannya. Tengoklah ke dalam dirimu, tengoklah meski sejenak.

Teringat nasihat sayyidina Umar ibn Khaththab, “hasibu qabla an tuhasabu”, yang artinya hitunglah diri kalian sebelum datang hari perhitungan. Nasihat singkat namun begitu dalam jika diresapi hati. Hari Perhitungan adalah suatu hal yang pasti, meski tak ada yang tahu kapan ia kelak terjadi. Manusia juga memang tak mempunyai kapasitas untuk mengetahuinya. Oleh karena itulah, kita yang ibaratnya setiap detik sangat mungkin melakukan suatu dosa, begitu dianjurkan untuk “menghitung” diri ini.

Coba kita renungkan, mana yang lebih mudah kita ingat, kebaikan yang kita laksanakan atau kesalahan yang kita lakukan? Kemungkinan besar semua akan menjawab lebih mudah mengingat kebaikan apa saja yang sudah kita laksanakan. Itu memang alami dan manusiawi. Namun sungguh, hal itulah yang ternyata bisa membutakan mata dan hati kita dari wujud kesalahan yang mungkin jauh lebih banyak kita lakukan. Muhasabah tak perlukan orang banyak untuk dilakukan, muhasabah hanya memerlukan dirimu sendiri dan keheningan bersama Rabbmu.

Wahai diri, muhasabahlah, karena kita semua tak luput dari dosa sekecil apapun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: