Menulis Untuk Bangkit

Menulis memang perkara gampang-gampang sulit. Gampang bagi yang memang jemarinya sudah jeli menari di atas kertas atau keyboard dan sulit bagi yang memang belum membiasakan jari-jemarinya menari menggores gagasan. Saya mungkin belum sempat menelurkan buku, tapi saya bisa katakan sejak 3-2 tahun yang lalu mulai menekuni dunia tulis menulis, meskipun hanya melalui tulisan-tulisan ringan, opini, blogging, dan sebagainya.

Jelas ada alasan di balik mengapa saya akhirnya memutuskan untuk menulis. Setidaknya saya memiliki dua alasan kuat. Dua alasan ini sebenarnya saya tarik dari pernyataan dua ‘ulama, yaitu Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani dan Syaikh Muhammad Abdullah Azzam. Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani mengatakan dalam kitab beliau Nidzhamul Islam, “Agar manusia mampu bangkit harus ada perubahan mendasar dan menyeluruh terhadap pemikiran manusia dewasa ini, untuk kemudian diganti dengan pemikiran lain. Sebab, pemikiranlah yang membentuk dan memperkuat persepsi terhadap segala sesuatu.” Sedangkan, Syaikh Muhammad Abdullah Azzam mengatakan “Peradaban Islam tegak dengan dua warna. Merah dan hitam. Merah darah para syuhada dan hitam tinta para ulama”.

Dari dua pernyataan tersebut, saya rasa sudah cukup kuat untuk menjadi alasan bagi setiap yang menginginkan kebangkitan Islam untuk menulis, menumpahkan gagasan pikiran mereka pada sederet paragraf untuk ditransfer pada pembacanya. Kebangkitan itu memang sangat bergantung pada pemikiran seseorang. Jika pemikirannya terbelakang, maka kebangkitan pun bisa disebut masih jauh. Untuk merubah pemikiran, salah satu caranya adalah dengan menulis, yang dari tulisan itu bisa memberikan perspektif baru pada seseorang. Kemudian para ‘ulama salaf maupun khalaf telah menulis ribuan kitab dengan tinta penanya yang akhirnya ilmu tersebut bisa sampai pada kita, generasi jaman now. Ratusan hingga ribuan tahun usia tulisan-tulisan itu, tapi tetap bisa mencerahkan umat di akhir zaman ini.

Ditambah lagi, di zaman yang kebebasan berpendapat merupakan salah satu pilar penting kehidupan berbangsa saat ini, tidak sedikit jumlah tulisan yang justru menggiring publik pada persepsi yang kurang pas, terutama jika itu berkaitan dengan Islam. Karena itu pulalah, penting bagi yang merindukan Islam dan Muslim untuk bangkit, melakukan counter-opini atas tulisan-tulisan mainstream yang bertentangan dengan Islam tadi. Tulisan-tulisan untuk mematahkan opini negatif itu tidaklah harus terdiri dari banyak bab, justru sedikit paragraf yang isinya langsung menghujam di benak pembaca sudah lebih dari cukup.

Upaya penenggelaman Islam dan kaum muslimin ke dalam jurang akhir zaman sudah terlalu masif dan terstruktur. Mereka mungkin tak tidur siang dan malam demi memikirkan strategi jitu untuk menggiring kita masuk ke dalam jebakan mereka. Karena memang begitu sunnatullahnya. Ketika ada sesuatu yang akan bangkit, maka pihak penentangnya tak mungkin diam dan membiarkan itu terjadi.

Menulis untuk menyampaikan buah pikiran kita memang memerlukan proses yang tidak sebentar. ‘Pena’ itu harus selalu diraut agar tak tumpul dan gagasan itu tetap harus ditumpahkan agar tak tenggelam ditelan waktu. Di saat itulah, keistiqamahan para ‘penulis’ dibutuhkan untuk terus menajamkan pena sembari menumpahkan ide Islam di benak mereka ke dalam sebuah tulisan.

Menulislah untuk Islam, karena bisa jadi banyak dari umat ini membutuhkan asupan kata dari jemari kita untuk menguatkan mereka dalam diin ini. Jika para propagandis kontra Islam begitu semangat untuk mengacaukan pikiran kaum muslimin melalui tulisan dan opini mereka, maka kita sepatutnya lebih ‘terbakar’ lagi untuk mematahkan opini mereka dan diganti dengan cahaya Islam. Menulislah demi kebangkitan Islam, karena bagaimanapun masifnya upaya penenggelaman umat ini, kebangkitan itu adalah keniscayaan dan janji Allah yang sepatutnya kita sambut dengan segenap jiwa. Patrilah dalam diri, bahwa goresan-goresan pena kita bisa saja menjadi kunci untuk membuka pintu kemenangan dan kebangkitan yang sudah menunggu di depan mata. Wallahua’lam bi ash-shawwab.[]

 

Advertisements

Be Wise Dalam Sharing-Menyaring

Coba nih yang sering share atau publish berita dan informasi yang isinya begitu emosional tapi kebanyakan sumbernya kurang jelas dan minim analisisnya dikurangin dikiiit gitu lho. Kalau ada berita atau informasi seperti ini, jadikan maklumat cukup tau dulu aja, sembari cari referensi lainnya.

Islam kan sudah ajarkan bagaimana adab dan cara dalam ‘menyikapi’ berita atau informasi, ada yang namanya tabayyun. Jangan langsung share/upload ke netizen lainnya hal-hal yang meskipun sejalan dengan pemikiran dan ’emosi’ kita, tapi itu asalnya ternyata dari buzzer ghaib bayaran.

Apalagi hal yang viral, itu sangat gampang untuk memelatuk jempol kita untuk klik tombol share, just because people are sharing the same thing as well. Hal yang viral itu polanya biasanya muncul di timeline socmed-socmed kita. Di explore instagram muncul berkali-kali, di news feed facebook ada yang dishare/dikomentari ribuan kali, di twitter bisa sampai jadi trending topic atau related search. TAPI, itu semua jangan sampai buat kita juga langsung ikut share tanpa tau itu benar atau tidak.

Counter-lah berita atau informasi negatif dengan kebenaran berbasis ideologi Islam. Jika mereka menghendaki kita mengonsumsi informasi yang tidak valid, maka lawan mereka dengan narasi atau opini pelemah mereka.

Kebenaran itu pasti menang kok, no worry, asal orang-orang yang benar mau dan siap menyuarakan kebenaran itu dan dengan cara yang benar pula.

Usahakan jangan stuck di satu sumber saja. Untuk hal sharing-menyaring, bisalah dipakai prinsip dalam mengerjakan tugas akhir. Referensinya banyak, bukan cuma 1 buku, 1 website, 1 narasumber. Syukur dari sumber-sumber itu memang sudah jelas validitasnya bagaimana, lha ini masalahnya dunia maya, yang orang yang nge-share aja mostly kita tak tau backgroundnya.

Be wise, people. Something viral, doesn’t always mean it is true.

So, kalau ada informasi baru, cari informasi pelengkap lainnya dulu. Pastikan kebenarannya dan kita bisa pertanggungjawabkan. Jika memang perlu counter dari kita atas suatu informasi negatif, maka lawanlah dengan narasi/opini ideologis meski hanya berupa caption singkat. Jangan langsung klik ‘share now’ dan ditinggalkan begitu saja.

Bukan, ini bukan marah, karena ngetiknya pun sambil senyum-senyum simpul gitu kok
Cuma mau mengajak kita semua untuk lebih hati-hati lagi dalam share berita di era digital yang cukup edan ini.

Salam Sharing-Menyaring Ideologis!

Gelap

Pernah ada masanya, ketika semua indah berkilau menyinari mata siapapun yang memandang. Tapi, pernah juga ada kala saat semuanya gelap hitam legam, tak bisa menerangi siapa dan apa saja.

Gelap itu memang tak terlihat. Karena memang itulah ia. Tak terlihat apakah ia dalam, apakah ia tinggi, apakah ia jauh, atau ia kecil. Samar.

Siapapun tak bisa melihat apa yg ada di balik kegelapan ini. Kecuali memang mereka yang mencari cara sedemikian rupa hingga akhirnya menemukan celah untuk masuk ke dalam kegelapan itu.

Gelap dan manusia.

Hampir saja dua hal ini menjadi sejoli yang tak terpisahkan. Gelap pasti akan mengikuti manusia dan manusiapun pasti memiliki gelapnya sendiri. Hanya rentang dan cakupannya saja yang berbeda.

Terkadang aku takut akan gelap ini. Bukan karena apa. Semata-mata karena ia tak terlihat. Sesuatu yang di depan masih bisa nampak terang nan indah, tapi begitu melewati pagar pembatas tertentu, tak ada satupun yang bisa melihat.

Aku takut jika tak bisa melihat gelap ini, ketika yang lain masih sangat bisa melihat keindahan dan terang. Duhai..

Banyak orang yang takut akan kegelapan. Padahal tak seharusnya ia ditakuti. Justru bagiku, terkadang kita perlu mencari gelap ini. Semata-mata agar aku bisa mengingat saat-saat terang.

Gelap bukan musuhmu. Meskipun ada kalanya dia seakan menghantuimu, kapanpun dan dimanapun.

Jangan takut dengan kegelapan.

Jangan anggap gelap sebagai sesuatu yang mengerikan.

Bila perlu, carilah gelap di saat kau mampu dan mau, agar terang bisa kau dapati saat kau butuh.

IQRA

Teringat ini merupakan salah satu perintah awal dan penting yg turun kepada Rasulullah oleh Allah. Nabi yg saat itu seorang umi (tidak bisa membaca dan menulis), diperintahkan untuk ‘membaca’ oleh Zat yang Maha Agung melalui perantara Jibril. Kemudian Allah sampaikan pada surah Al ‘Alaq karena ketidakmampuan Rasulullah melakukannya:

إقرأ باسم ربك الذى خلق .

‘bacalah dengan nama Tuhanmu yg menciptakan’.

.


Dari satu ayat pendek itu, saya menyadari betapa pentingnya membaca, bahkan ketika kita sebenarnya tak mampu.
Kemudian, kata orang, buku adalah jendela dunia dan membaca akan membuka dunia. I totally agree. Thayyib, buku atau tulisan juga sekarang sudah banyak sekali macamnya. Membaca tulisan/artikel online pun di era saat ini juga penting, selama bisa dipastikan validitas dan kebenarannya.
Iqra. Bacalah.
Bagi muslim di tengah gempuran zaman nan materialistis dan edan ini, membaca bisa menjadi salah satu wasilah untuk menuntut ilmu dan menguatkan pemahaman kita akan sesuatu. Banyak baca, banyak ilmu, cakrawala luas, diskusipun luwes. Saya sering sekali kagum melihat orang yg menjelaskan sesuatu dengan rinci, detail, sistematis, dan menghujam. “Ilmunya banyak banget. Berapa buku ya yg udah dibaca?” Itu sekiranya pertanyaan yg muncul di benak saya.
Menumbuhkan minat baca, terutama buku atau setidaknya artikel analisis sangat penting bagi kita, khususnya Muslim. Karena dinamika umat dari ‘Amerika ke Indonesia’ saat ini begitu terasa. Ibaratnya, lengah sebentar saja, kita akan terlewat begitu banyak informasi terkait umat. Jadi, bagaimana informasi tentang umat bisa kita dapatkan jika untuk membaca saja kita enggan?
Sekali lagi, bacalah.
Tekadkan diri kita untuk bisa membaca 1 buku atau melahap artikel dalam sekian waktu. Niatkan membaca itu untuk mengupgrade keilmuan kita untuk kemudian ditransfer lagi ke umat. Tanamkan di diri kita bahwa apa yg kita baca sangat mungkin membawa kegemilangan peradaban di masa depan.
Jadi, #JanganMalasBaca!
Penguat diri: “Membaca itu lebih nikmat dari scrolling sosial media 👀”