Kota Roma Menanti Anda

Penulis : Muhammad Choirul Anam
Penerbit : Khilafah Press
Halaman : xxiv + 180
Tahun : 2012 (cet. pertama)
Genre : Motivasi Dakwah

Buku yang memiliki 10 bab ini diawali oleh pengantar berjumlah 6 halaman yang ditulis oleh ustadz Husain Matla, cukup panjang memang jika hanya untuk sebuah pengantar. Namun, hanya dari pengantarnya saja, buku ini terlihat menarik untuk terus dibaca. Membaca buku ini disaat diri sedang futur atau guncang dalam berdakwah dan berjamaah menurut saya pribadi sangatlah tepat. Diksi yang digunakan penulis dalam merangkai untaian motivasi dan penguat untuk terus teguh sangatlah indah.

Inti yang ingin disampaikan penulis melalui buku ini adalah betapa setiap perjuangan demi Islam itu sunnatullah-nya adalah melelahkan dan butuh pengorbanan. Jangankan apa yang kita rasakan saat ini, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam serta para sahabat saja yang notabenenya ‘spesial’, merasakan hal yang sama seperti yang mungkin kita rasakan: lelah dan banyak berkorban.

Saya mulai membaca buku ini saat tantangan dakwah di negeri ini semakin jelas terlihat mata. Tantangan itu kini bukan hanya berasal dari mereka yang masih awam, namun para qawwam-pun mulai ‘menantang’ dakwah para pejuangnya. Di saat itu pulalah, keteguhan, kekuatan, keistiqamahan para pengemban dakwah mukhlis diuji oleh Allah. Apakah akan goyah dan akhirnya runtuh? Atau justru semakin solid dan kuat dan akhirnya mendulang kemenangan? Seluruhnya bergantung pada bagaimana kita menyikapi tantangan itu sendiri.

Saya pribadi sangat menyarankan para pengemban dakwah untuk membaca buku ini sebagai wasilah untuk menempa nafsiyah dan menguatkan ‘azzam di jalan Allah. Jika ada 5 bintang, maka saya akan memberikan keseluruhan 5 bintang itu kepada buku ini karena pentingnya ia untuk disantap oleh akal kita.

Dua dari 10 judul bab di buku ini yang cukup membuat saya terhenyak adalah, “Tak Seorangpun Yang Pernah Membawa Seperti Apa Yang Dibawa Rasulullah, Melainkan Akan Dimusuhi” dan “Pertolongan Itu Belum Datang, Karena Allah Sayang Kepada Kita”. Dari dua bab itu, saya benar-benar mengerti dan mengiyakan maksud yang ingin disampaikan penulis. Bahwa, risalah dakwah itu memang akan selalu menemukan ‘penentangnya’ dan perjuangan dakwah setelah sekian lama belum membawa kita pada kemenangan merupakan tanda cinta dan sayangnya Allah kepada para pengemban dakwah.

Keinginan untuk mundur dari perjuangan ini mungkin saja pernah terbersit di benak kita. Namun, apakah dengan kita mundur akan menjamin bahwa Allah berhenti menguji kita? Saya rasa jawabannya adalah jelas tidak. Karena, mundurnya kita dari barisan dakwah dengan alasan tak kuat menghadapi tantangan justru akan semakin melemahkan kita! Kitalah yang akan terkatung-katung, sementara bisa jadi pertolongan dan kemenangan itu akan Allah turunkan segera.

Kemudian, sekitar lima setengah abad yang lalu, kota Heraklius (Konstantinopel) yang merupakan janji Allah dan kabar gembira Rasulullah akhirnya takluk melalui langkah dan keberanian Muhammad Al Fatih, setelah berabad-abad sejak lisan mulia Nabiyullah Muhammad menyampaikan kabar itu. Rasulullah-pun tak hanya menyebut bahwa Konstantinopel yang akan takluk di tangan kaum muslimin, namun kota Rumiyah atau Roma-pun akan ada masanya tunduk di bawah naungan Islam.

Karenanya, perjuangan untuk memenangkan Roma ini tentulah butuh pengorbanan ekstra serta akan memeras keringat dan peluh tak seperti biasanya. Kekuatan iman, keistiqamahan dan persatuan para pengemban risalah Islam merupakan senjata utama yang akan mampu mengalahkan seluruh rintangan dan tantangan yang tersaji di depan mata. Karena itulah wahai umat Muhammad, kota Roma kini tengah menanti anda!

“Apakah kalian mengira, bahwa kalian akan masuk ke jannah. Padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta digoncang (dengan bermacam-macam), sehingga Rasul dan orang-orang yang bersamanya berkata, ‘Kapankah pertolongan Allah akan datang?’. Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat” (TQS. Al Baqarah: 214). Wallahu a’lam bishshawwab.[]

Advertisements

IQRA

Teringat ini merupakan salah satu perintah awal dan penting yg turun kepada Rasulullah oleh Allah. Nabi yg saat itu seorang umi (tidak bisa membaca dan menulis), diperintahkan untuk ‘membaca’ oleh Zat yang Maha Agung melalui perantara Jibril. Kemudian Allah sampaikan pada surah Al ‘Alaq karena ketidakmampuan Rasulullah melakukannya:

إقرأ باسم ربك الذى خلق .

‘bacalah dengan nama Tuhanmu yg menciptakan’.

.


Dari satu ayat pendek itu, saya menyadari betapa pentingnya membaca, bahkan ketika kita sebenarnya tak mampu.
Kemudian, kata orang, buku adalah jendela dunia dan membaca akan membuka dunia. I totally agree. Thayyib, buku atau tulisan juga sekarang sudah banyak sekali macamnya. Membaca tulisan/artikel online pun di era saat ini juga penting, selama bisa dipastikan validitas dan kebenarannya.
Iqra. Bacalah.
Bagi muslim di tengah gempuran zaman nan materialistis dan edan ini, membaca bisa menjadi salah satu wasilah untuk menuntut ilmu dan menguatkan pemahaman kita akan sesuatu. Banyak baca, banyak ilmu, cakrawala luas, diskusipun luwes. Saya sering sekali kagum melihat orang yg menjelaskan sesuatu dengan rinci, detail, sistematis, dan menghujam. “Ilmunya banyak banget. Berapa buku ya yg udah dibaca?” Itu sekiranya pertanyaan yg muncul di benak saya.
Menumbuhkan minat baca, terutama buku atau setidaknya artikel analisis sangat penting bagi kita, khususnya Muslim. Karena dinamika umat dari ‘Amerika ke Indonesia’ saat ini begitu terasa. Ibaratnya, lengah sebentar saja, kita akan terlewat begitu banyak informasi terkait umat. Jadi, bagaimana informasi tentang umat bisa kita dapatkan jika untuk membaca saja kita enggan?
Sekali lagi, bacalah.
Tekadkan diri kita untuk bisa membaca 1 buku atau melahap artikel dalam sekian waktu. Niatkan membaca itu untuk mengupgrade keilmuan kita untuk kemudian ditransfer lagi ke umat. Tanamkan di diri kita bahwa apa yg kita baca sangat mungkin membawa kegemilangan peradaban di masa depan.
Jadi, #JanganMalasBaca!
Penguat diri: “Membaca itu lebih nikmat dari scrolling sosial media 👀”

PERPPU NOMOR 2/2017: ‘PENGGEBUK’ ORMAS ISLAM

Dua bulan sejak diumumkannya rencana pemerintah untuk membubarkan salah satu Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Islam, yaitu Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), akhirnya terealisasi pada tanggal 19 Juli 2017 lalu. Pada bulan Mei, Menteri Koordinasi Politik, Hukum, dan Keamanan, Wiranto telah mengadakan konferensi pers terkait rencana pembubaran HTI yang dianggap anti terhadap Pancasila, mengancam eksistensi NKRI, dan tidak berkontribusi pada pembangunan bangsa. Sejak saat itu pulalah, publik mulai menyuarakan responnya baik pro maupun kontra terhadap rencana pemerintah tersebut.

Pengumuman rencana pada bulan Mei itu disebutkan oleh Wiranto didasarkan pada UU No. 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. Jika bersandar pada UU tersebut, pemerintah dalam membubarkan suatu Ormas harus melalui beberapa tahapan terlebih dahulu hingga akhirnya harus diproses melalui peradilan. Dalam Pasal 60 hingga 82 UU No. 17/2013 dikatakan bahwa pemerintah daerah bisa memberikan sanksi administratif berupa surat peringatan (SP) tertulis sebanyak tiga kali pada Ormas terkait. Di Pasal 64 UU juga diterangkan bahwa pemerintah berhak menghentikan aliran dana dan melarang Ormas terkait untuk berkegiatan selama 6 bulan jika SP 3 tidak diindahkan. Kemudian, pada Pasal 68 disebutkan bahwa pemerintah memiliki wewenang untuk membubarkan jika Ormas tersebut masih melakukan kegiatan setelah diberhentikan sementara dan tidak mendapat pertimbangan dari Mahkamah Agung (MA).

Polemik Perppu No. 2/2017

Keberadaan UU No. 17 tahun 2013 tersebut dinilai oleh pemerintah terlalu lama dalam memroses pembubaran Ormas. Karena dasar itulah, pemerintah pada 12 Juli lalu berinisiatif menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) nomor 2 tahun 2017 yang ditandatangani oleh Presiden Jokowi pada 10 Juli 2017. Melalui Perppu ini, ada beberapa perubahan yang dicantumkan yang berbeda dengan peraturan sebelumnya. Perppu ini meniadakan adanya proses peradilan dalam membubarkan suatu Ormas yang dianggap bermasalah oleh pemerintah. Dengan diterbitkannya Perppu ini, pemerintah memiliki jalan pintas untuk membubarkan suatu Ormas tanpa harus menerapkan asas ‘praduga tak bersalah’.

Meski demikian, semenjak Perppu ini diumumkan, terdapat begitu banyak pendapat-pendapat yang menentang keputusan pemerintah ini, termasuk dari kalangan ahli hukum tata negara. Prof. Yusril Ihza Mahendra mengatakan, Pemerintah sebagaimana berulangkali ditegaskan oleh Menkopolhukam Wiranto, telah dengan sesat pikir menerapkan asas ‘contrarius actus’ dalam hukum Romawi ke hukum nasional kita. Dengan asas itu, menurut Menkopolhukam, pemerintah yang berwenang menerbitkan izin berdirinya Ormas, maka dengan sendirinya berwenang pula mencabut izin tersebut. Padahal mendirikan Ormas bukanlah sesuatu yang perlu izin pemerintah.”

Beberapa akun besar di jejaring Twitter juga mengadakan polling yang mayoritas publik ternyata menolak penerbitan Perppu untuk membubarkan suatu Ormas. Seperti melalui akun @CNNIndonesia, sebanyak 64% dari 8,873 suara menolak; @MetroTVNewsRoom, sebanyak 67% dari 15,897 suara juga menolak Perppu tersebut; bahkan akun resmi @DPR_RI juga mengadakan polling yang mayoritas pemilihnya menolak Perppu tersebut (tweet ini kemudian dihapus oleh akun Twitter DPR RI). Poin-poin tersebut menunjukkan bahwa penerbitan Perppu ini sebenarnya adalah langkah inkonstitusional yang diambil oleh pemerintah.

Perppu Bentuk Represifme Pemerintah

Dengan disetujuinya Perppu ini, pemerintah dinilai telah melakukan tindakan represif terhadap hak berserikat yang justru dilindungi dan dijamin oleh konstitusi negara ini. HTI, serta beberapa Ormas lain yang namanya juga sudah dikantongi Kemkopolhukam secara tidak langsung menjadi korban dari sikap represifme pemerintah. Bahkan, Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon mengutarakan pendapatnya pada Tempo (19/07) terkait pencabutan badan hukum HTI, “Ini satu bentuk kesewenang-wenangan, abuse of power atau satu tindakan yang mengarah pada otoritarian”.

HTI yang bisa dikatakan sebagai Ormas yang berskala nasional saja bisa dibubarkan dengan cara seperti ini oleh pemerintah, maka tidak menutup kemungkinan jika Ormas lain yang berskala lebih kecil terancam dibubarkan jika dianggap tidak sesuai dengan poin-poin yang telah ditentukan oleh pemerintah. Ini justru merupakan sebuah tindakan yang mencederai konstitusi negara ini.

Tindakan represif ini juga menjadi preseden buruk bahkan blunder bagi pemerintah itu sendiri. Karena dari hal ini, publik bisa melihat ‘sisi lain’ dari pemerintah, sedangkan transparansi terkait alasan pembubaran HTI pun masih abu-abu. Pihak HTI melalui Juru Bicaranya, Ismail Yusanto, mengatakan bahwa hingga pengumuman pembubaran Ormasnya, permintaan dari HTI untuk audiensi kepada Menkopolhukam terkait masalah ini belum mendapat tanggapan. Dari hal ini pulalah, publik justru berbalik menjadi bersimpati pada HTI yang telah secara sepihak dibubarkan oleh pemerintah tanpa mendapat kesempatan untuk membela diri.

HTI Berjuang Memperbaiki Bangsa dengan Islam

HTI bukanlah Ormas Islam yang terhitung baru terkait eksistensinya di Indonesia. HTI sebenarnya sudah ada di Indonesia sejak tahun 1980-an. Perbedaannya, gaung dakwah HTI saat ini sudah jauh lebih besar dibandingkan ketika ia baru hadir di Indonesia. HTI yang bertujuan melanjutkan kehidupan Islam, seharusnya dilihat secara positif oleh pemerintah. Bukan justru dicari-cari kesalahannya karena dilihat berseberangan dengan pemerintah kemudian dibubarkan begitu saja.

Pergerakan HTI adalah pergerakan yang politis, dalam artian HTI bergerak mengoreksi pemerintah atas pengambilan kebijakan-kebijakan yang menyulitkan rakyat dan menyadarkan masyarakat akan pentingnya berIslam dalam semua ranah, bukan hanya ranah spiritual tapi juga termasuk ranah kenegaraan. HTI bergerak dengan mengambil metode intelektual pemikiran tanpa melalui jalan kekerasan. Apa yang disampaikan oleh HTI sejatinya adalah ajaran Islam yang bersumber dari Alqur’an, Sunnah, Ijma’, dan Qiyas. Tidak ada satu hal pun yang disampaikan HTI yang diambil dari luar sumber hukum di dalam Islam.

Jika kita perhatikan, negeri ini sebenarnya sedang dilanda krisis multidimensi, mulai dari moral anak bangsa yang kacau, tingkat kriminalitas tinggi, peradilan yang tumpul ke atas tajam ke bawah, ekonomi yang tidak menyejahterakan, hingga politik yang sarat akan kepentingan pribadi. Krisis-krisis itu dilihat HTI sebagai akibat dari dipisahkannya ajaran Islam dari kehidupan negeri yang menyandang gelar sebagai negara Muslim terbesar di dunia ini. Pandangan HTI ini sejatinya bukanlah pandangan yang mengancam. Justru jika permasalahan-permasalahan itu dibiarkan dan tidak diselesaikan secara menyeluruh, barulah hal itu dikatakan sebagai mengancam Indonesia dan juga rakyatnya.

HTI ternyata lebih bersih jika disandingkan dengan kelompok-kelompok lain yang mengaku “Pancasilais”. Oknum-oknum yang menuduh HTI sebagai anti-Pancasila dan anti-NKRI pada nyatanya lebih nyata bertindak yang bertentangan dari Pancasila itu sendiri. HTI yang sangat mengecam pemisahan daerah dari wilayah negara, dianggap sebagai pemecah belah. Tapi di sisi lain, kelompok yang dengan tegas menyuarakan keinginan untuk berlepas dari Indonesia dibiarkan tanpa ditindak. HTI yang juga getol menolak privatisasi Sumber Daya Alam karena banyak merugikan rakyat dari sisi ekonomi, justru dianggap sebagai ancaman bagi kelangsungan negeri ini. Padahal di sisi lain, ada oknum yang dengan jelas menjual tanah Indonesia demi keuntungan mereka pribadi.

Jadi, sebenarnya siapa yang mengancam dan siapa yang terancam? HTI yang selama puluhan tahun konsisten mendakwahkan hal yang sama tidak pernah mengalami hal seperti ini, lalu kenapa pada pemerintahan yang berusia kurang dari tiga tahun ini langsung dibubarkan melalui proses yang begitu singkat tidak seperti penyelesaian kasus-kasus korupsi penguasa tingkat atas? Hal-hal ini patut disorot oleh publik, agar masyarakat menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak tepat yang sedang terjadi di negeri ini, namun luput dari pengelihatan banyak orang.[]

 

Dakwah


Jika saja dulu Rasulullah tak berdakwah, maka takkan ada kafilah kaum Muslim datang ke rumah Arqam bin al Arqam untuk mendalami Islam.
Jika saja dulu Rasulullah tak berdakwah, maka tak mungkin manusia sejahat Umar bin Khaththab luluh hatinya karena ayat Alquran dan menjadi pembela Islam hingga akhir hayatnya.
Jika saja dulu Rasulullah tak berdakwah, maka tak mungkin imperium digdaya sekelas Persia dan Romawi tunduk di bawah naungan Islam.
Jika saja dulu Rasulullah tak berdakwah, maka tak mungkin Islam dan seperangkat syariah Allah bisa sampai pada kita hari ini.
Yes, it is the Power of Dakwah.
Dakwah itu sepantasnya menjadi poros hidup. Karena dengan dakwah, kita tak hanya menjaga diri kita dari kemunkaran, tapi juga menyelamatkan masyarakat dan generasi dari sederet keburukan zaman.
Kalau membahas dakwah, saya teringat dengan hadits yg diriwayatkan oleh imam Bukhari rahimahullahu yg isinya kurang lebih: orang yg berdakwah itu diumpamakan seperti orang yang ada di dalam perahu, ada yang di dek bawah dan ada yang di dek atas. Jika yang di bawah ingin minum, maka mereka harus ke atas. Namun, mereka bisa saja melubangi perahu itu dan mengambil air langsung dari aliran air di bawah. Jika orang yang di atas membiarkan itu terjadi, maka bukan hanya orang yang di dek bawah saja yang akan tenggelam, tapi juga orang yang di dek atas pun akan ikut tenggelam.
Dakwah itu seni dan tidak mudah memang. Karena itulah, pendakwah umumnya lebih sedikit daripada yang didakwahi. Tapi jangan remehkan kekuatan yg sedikit itu, tanpa mereka memuhasabahi, mengoreksi, mengingatkan untuk menjauhi kemunkaran, mungkin kita tak akan hidup “seenak” ini sekarang.
Jika ada yang datang mendakwahimu, percayalah ia juga sedang mendakwahi dirinya sendiri. Bukan tersebab ia lebih baik darimu, namun ia hanya ingin menyampaikan kebaikan dan kenikmatan Islam yang dirasa agar engkau juga bisa merasakan yg sama.

Dan teruntuk para pengemban dakwah, teruslah sampaikan hikmah Islam yang sudah menghujam di dirimu pada yang lain. Teruslah sampaikan alasan mengapa engkau bahagia di jalan Islam. Teruslah sampaikan apa yang haq itu haq dan yang bathil itu bathil. Teruslah sampaikan kebenaran dan kesempurnaan Islam pada umat.

Sungguh, kita tak tahu amalan mana yang akan membuka surga untuk kita kelak. Bisa saja kalimat-kalimat dakwah yang keluar dari lisanmu-lah yang akan menyelamatkanmu dari siksa neraka.
Sungguh, karena surga itu terlalu luas tak terkira untuk kita masuki sendiri. Saudara-saudaramu juga memiliki hak untuk mencicipi manis dan indahnya surga.
Pesanku, istiqamahlah berdakwah meski sulit. Istiqamahlah menyeru Islam meski banyak yang tak ingin mendengar. Istiqamahlah mendakwahi keluarga, saudara, sahabat, hingga penguasa agar kesemua kita kelak dikumpulkan lagi di Firdaus yang akal kita takkan mampu menjangkaunya.

Pesan-pesan Menggugah untuk Para Pengemban Dakwah

WhatsApp Image 2017-07-21 at 10.17.41 AM

Penulis: Dr. Najih Ibrahim
Penerbit: Al Azhar Press
Tahun Terbit: 2013 (cet. 5)
Halaman: 207
Jenis: Nasehat Islami

Buku ini adalah terjemahan dari buku yang ditulis dalam bahasa Arab yaitu, Risalah Ila Man Ya’malu Li al Islam. Buku ini memang berisikan tentang nasehat-nasehat untuk menguatkan para pengemban dakwah dan aktivis Islam yang dinukil dari nash-nash syar’i serta pengalaman pribadi penulisnya.

Perjalanan dakwah dan amar ma’ruf nahiy munkar itu tidak bisa dipungkiri bahwa ia bukanlah suatu jalan yang mudah. Tak jarang, para aktivis Islam yang sudah meng-iltizam-kan dirinya di jalan dakwah, harus menghadapi tantangan dan tekanan, baik fisik maupun non-fisik. Melalui 24 bab singkat, nasehat penulis ini juga disampaikan dengan mengisahkan kembali pada kita perjalanan dakwah hingga jihad Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam beserta para sahabat radhiyallahu ‘anhum di masa awal Islam datang hingga ketika Islam sudah meluas peradabannya.

Di mana ada dakwah dan seruan pada Islam, maka di situ pulalah akan ada kaum-kaum yang menolak seruan tersebut. Dari hal itu, para aktivis Islam sudah seharusnya menjadi kuat, tegar, dan selalu mengingat “jual beli” yang sudah mereka lakukan dengan Allah, sehingga ghirah mereka untuk mensyiarkan Islam tidak akan pernah padam meski harus berhadapan dengan penolakan-penolakan itu.

Saya pribadi ketika membaca buku ini, tidak jarang merasa tertusuk berkali-kali atas nasehat yang disampaikan penulis. Karena beliau juga membahas tentang besar kontribusi yang aktivis Islam saat ini berikan pada dakwah tidak sebanding dengan kontribusi yang dilakukan para sahabat dan generasi salaf dahulu.

Buku ini benar-benar saya rekomendasikan untuk siapa saja pengemban dakwah Islam di manapun berada. Tantangan dakwah yang menanti di depan, seperti apa yang dihadapi kaum muslimin dan beberapa jama’ah dakwah di Indonesia saat ini, benar-benar meminta para aktivis Islam untuk senantiasa kuat, tegar, istiqamah, dan tidak takut untuk terus berdakwah hingga nanti kemenangan dan kejayaan Islam itu benar-benar terwujud untuk kali berikutnya.

Izinkan saya mengutip salah satu nasehat penulis di dalam buku ini,

”Sesungguhuhnya Allah SWT, jika berkehendak untuk memilih hamba-hambaNya menjadi syuhada, Dia menyiapkan musuh untuk mereka agar mereka terbunuh dan darah mereka mengalir dalam rangka mencari cinta dan keridhaanNya serta agar mereka mengorbankan jiwa mereka di jalanNya. Kesyahidan atau mati syahid adalah peringkat tertinggi setelah peringkat para nabi dan shiddiqin. Syuhada adalah orang-orang yang didekatkan kepada Allah SWT dalam keadaan ridha kepadaNya. Allah memilih mereka, mengistimewakan mereka, dan mengambil mereka untukNya.”