Tanda Cinta Allah ke Pulau Seribu Masjid

photo_2018-09-03_17-52-02Dimuat di Harian Lombok Post 1 September 2018


Satu bulan sejak gumi Sasak ini diguncang oleh gempa bumi, ternyata menyisakan banyak kesan pada siapapun yang menghuni pulau ini dan daerah lain yang juga terkena dampaknya. Gempa berkekuatan 6.4 SR yang terjadi pada tanggal 29 Juli 2018 di sekitar wilayah Sembalun, Lombok Timur menjadi sinyal pembuka beberapa gempa besar berikutnya. Namun demikian, seiring dengan bergantinya bulan ini juga mulai memberikan banyak pelajaran baru bagi warga Lombok.

Dari serangkaian gempa yang signifikan terjadi, yakni 6.4 SR pada 29 Juli, menyusul gempa 7 SR pada 5 Agustus, kemudian 2 gempa yang terjadi pada tanggal 19 Agustus yang bermagnitudo 6.5 SR dan 6.9 SR, tercatat oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terdapat sekitar 560 korban jiwa, ribuan orang luka-luka, kerugian yang mencapai Rp 8,8 Triliun, ratusan ribu warga dari beberapa kecamatan mengungsi, dan ratusan ribu rumah serta ratusan infrastruktur terkategori rusak (Tribunnews 29/8/18).

Lombok yang dikenal sebagai Pulau Seribu Masjid belum pernah diuji dengan gempa sedahsyat seperti dalam waktu satu bulan ini. Pulau yang dihuni oleh mayoritas muslim ini penting untuk melihat fenomena gempa ini dalam perspektif Islam, bukan sekedar dari segi ilmiahnya saja. Seperti yang dikatakan oleh salah seorang penceramah pada Istighosah Kubra yang dilaksanakan di Selong tanggal 28 Agustus lalu, bahwa bencana alam ini termasuk di dalamnya adalah gempa bumi, merupakan sebuah takdir. Dalam hal ini, tentu saja takdir takkan diketahui oleh siapapun makhluk, melainkan oleh Allah semata sebagai Pencipta alam semesta ini.

Namun sayang seribu sayang. Momentum gempa ini oleh sebagian orang malah dikaitkan dengan berbagai mitos yang tak ada dasarnya sama sekali di dalam Islam. Sebut saja, mitos yang berkembang adalah bahwa gempa ini terjadi karena Dewi Anjani yang dianggap bersemayam di Gunung Rinjani sedang marah, warga yang diminta untuk mengantongi modeng atau beras agar terlindungi dan beredarnya banyak ramalan di tengah masyarakat yang justru bisa mengacaukan akidah seorang muslim karena mengarah pada kesyirikan.

Padahal Islam sudah menjelaskan bagaimana sikap yang seharusnya diambil oleh warga ketika dilanda bencana alam. Tentulah apa yang dilakukan oleh nabiyullah Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam dalam memandang gempa adalah sebaik-baik contoh. Suatu ketika di Madinah terjadi gempa, Rasulullah berkata sembari meletakkan kedua tangannya di atas tanah, “Tenanglah, belum datang saatnya bagimu.” kemudian beliau menyeru para sahabat, “Sesungguhnya Rabb kalian menegur kalian, maka jawablah! (Buatlah Allah ridha kepada kalian.)”

Dari kisah tersebut, tentu bukanlah hal yang bijak jika kemudian seorang muslim menghubungkan fenomena ini dengan berbagai mitos tersebut. Karena sungguh, tak ada korelasi antara gempa dan keyakinan tradisional seperti itu serta mencocok-cocokkan kejadian gempa dengan berbagai ramalan malah terkesan manusia yang berupaya untuk mendahului takdir Allah.

Menjadikan Musibah untuk Muhasabah

Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini seluruhnya atas kehendak Allah. Gempa bertubi-tubi yang mengguncang Lombok pun terjadi karena Allah mengizinkannya untuk terjadi. Hal tersebut berada pada wilayah kekuasaan Allah, namun sebagai hambaNya, salah satu hal yang ada dalam kuasa kita adalah berpikir, mengapa Allah sampai mengizinkan gempa terjadi di Pulau Seribu Masjid yang kita cintai ini? Pertanyaan ini sejatinya adalah pertanyaan yang sangat dalam dan membutuhkan jawaban tak sekedar berdasar logika, tapi lebih kepada iman.

Di samping duka mendalam yang kita rasakan akibat gempa ini, sepatutnya pula kita bersyukur pada Allah karena telah menegur kita. Bisa saja Allah mengguncang Lombok dengan rentetan gempa ini agar kita kembali bersimpuh di hadapanNya. Tak menutup kemungkinan juga jika Allah menegur karena tak ingin warga yang tinggal di bawah kemasyhuran Rinjani serta keindahan berbagai pantai dan gili ini tersungkur dalam kubangan dosa. Karena siapa yang sangka, di balik prestise yang dimiliki Lombok sebagai Pulau Seribu Masjid, masih banyak tersimpan debu-debu maksiat.

Ribuan masjid yang cantik, tak dipoles dengan ramainya jamaah yang mengisi shaf shalat. Eksotisnya pantai juga gili-gili di Lombok, masih dibarengi dengan beredarnya botol-botol minuman haram. Bahkan predikat Geopark dunia yang menempel pada Rinjani, malah diwarnai oleh perbuatan keji semacam zina dan perjudian. Jika begitu adanya, apakah pantas kemudian kita menyalahkan Allah karena telah menurunkan gempa ini? Tak ada asap jika tak ada api. Tak ada gempa jika tak ada maksiat yang merajalela.

Pola pikir seperti itu yang perlu kita kembangkan sebagai seorang muslim dalam memandang bencana. Lombok yang dapat dikatakan masih tinggi perasaan keislamannya tentu sangat mungkin tercoreng akibat ulah individu yang tak bertanggungjawab. Namun tak dinafikkan juga, hal lain yang menjadi sebab Allah menguji Lombok dengan gempa, karena didiamkannya berbagai kemunkaran itu terjadi di tengah-tengah kita. Padahal Islam memerintahkan tak hanya ber-amar ma’ruf, tetapi juga untuk nahiy munkar. Tak hanya menyerukan kebaikan, tapi juga harus mencegah terhadap yang munkar.

Oleh karena itulah, momentum gempa bumi ini mari dijadikan sebagai sebaik-baik muhasabah dan evaluasi bagi seluruh warga Lombok khususnya dan bahkan Indonesia umumnya. Apakah kita sudah membuat Allah ridha dengan ketaatan kita? Apakah kita sudah saling mengingatkan kebaikan dan melarang keburukan di antara sesama? Apakah kita masih mau memohon ampun atas segala kesalahan yang kita lakukan?

Percayalah, Allah pasti memiliki maksud ketika menurunkan berbagai ayat dalam Alquran terkait kekuasaanNya di alam semesta ini. Hal tersebut semata-mata menegaskan agar manusia mau berpikir dan menyadari bahwa Allah berkuasa atas segala sesuatu, dan sangat mudah bagiNya untuk menurunkan bencana pada suatu tempat yang tak hanya dihuni oleh orang-orang yang berlumur maksiat, namun juga dihuni oleh orang yang shalih tetapi diam atas kemunkaran yang terjadi di sekitarnya.

Penulis: Iranti Mantasari, BA.IR
Mahasiswi Pascasarjana Kajian Timur Tengah dan Islam UI

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: