Rompi Razan dan Pepesan Kosong ‘Rahmah’

Oleh: Iranti Mantasari, BA.IR
Mahasiswi Pascasarjana Kajian Timur Tengah & Islam UI

Bir ruh bid dam nahdika ya Aqsa.
Dengan nyawa dan darah kami membelamu, hai Aqsa.

Itulah kalimat penyemangat yang selalu dipekikkan oleh para pejuang Palestina. Sejak runtuhnya Khilafah Islamiyah pada tahun 1924 dengan dibaginya berbagai wilayah Islam menjadi entitas kecil melalui perjanjian Sykes-Pycot, rakyat Palestina semakin kehilangan pelindung yang akan siap di garda terdepan dalam membela kehormatan negeri yang diberkahi ini dari cengkeraman penjajah-penjajah Barat, termasuk dari rongrongan kaum zionis pengusung Israel.

Tak ada seorangpun, kecuali non-muslim dan mereka yang memiliki sentimen terhadap Islam yang akan menafikkan bahwa perjuangan rakyat Palestina menentang okupasi Israel atas wilayahnya merupakan “garis merah Islam dan umat muslim” yang jika dilewati akan semakin memanaskan situasi. Itulah gambaran yang saat ini sedang terjadi di daerah kiblat pertama kaum muslim tersebut. Rakyat Palestina sejak tahun 1948 masih mengalami penindasan dan penyerangan oleh pihak zionis Israel.

Selama 70 tahun, rakyat Palestina menerima perlakuan pahit yang kemudian diperingati setiap tanggal 15 Mei sebagai Hari Nakba atau Hari Malapetaka, 1 hari setelah tanggal dideklarasikannya pendirian negara Israel. Sebagai peringatan Hari Nakba tahun ini, sejak tanggal 30 Maret 2018, telah dan masih dilaksanakan aksi Great Return March (GRM), sebuah aksi protes kolosal tanpa senjata yang dilakukan oleh rakyat Palestina untuk kembali ke rumah dan tanah mereka karena terusir oleh pendudukan Israel (Middle East Monitor, 30/3/18).

Aksi yang dilaksanakan tersebut tentu sebenarnya menjadi pelecut semangat perjuangan bagi kaum muslim di seluruh dunia yang saat dimulainya itu juga berdekatan dengan datangnya bulan suci Ramadan. Alih-alih bersukacita menyambut Ramadan, tidak sedikit rakyat Palestina yang mengikuti aksi tersebut malah harus berduka karena kepengecutan Israel yang melawan mereka dengan senjata. Padahal menurut hukum internasional, rakyat Palestina yang terusir tersebut boleh-boleh saja memiliki hak untuk menyuarakan protes dalam menuntut haknya. Ratusan syuhada pun lahir tersebab peluru yang ditembakkan Israel kepada mereka.

Syahidnya Razan al Najjar, seorang paramedis yang mendedikasikan hidupnya secara sukarela untuk memberikan pengobatan pada korban-korban yang berjatuhan saat aksi GRM berhasil memelatuk kemarahan dunia internasional terhadap perilaku licik milisi Israel. jenazah Razan diantar oleh ribuan pejuang Palestina sebagai bentuk penghormatan padanya dan penghinaan pada militer Israel. Noda darah dan lubang kecil yang bersarang pada rompi medisnya menjadi bukti bahwa tentara Israel sama sekali tak mengenal belas kasih, meskipun yang ditargetkan adalah seorang tim medis dan tak bersenjata sama sekali. Bahkan etika peperangan pun tak membenarkan penyerangan terhadap tim medis. Razan telah menjadi saksi bahwa senandung perdamaian ala Israel sungguh hanya kesemuan belaka.

Menabur Garam Di Atas Luka

Belum usai duka atas syahidnya Razan serta pejuang Palestina lainnya, kembali hati umat ini dilukai dengan hadirnya Yahya Cholil Staquf, Sekretaris Jenderal PBNU (Sekjen PBNU), pada sebuah forum antaragama yang diselenggarakan oleh American Jewish Committe di Israel. Yahya mengatakan bahwa kehadirannya tersebut atas nama pribadi, bukan atas nama struktur NU ataupun posisinya sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Namun pada faktanya, jabatannya sebagai Sekjen PBNU terpampang di papan sambutan dan ia pun secara nyata menuturkan bahwa murid-murid mendiang Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai pembesar NU akan meneruskan pekerjaan Gus Dur dalam membangun relasi dengan Israel.

Memenuhi undangan Israel Council on Foreign Relations (Dewan Hubungan Luar Negeri Israel) tentu merupakan sebuah keputusan yang tidak bijak dan prematur. Jabatan strategis Yahya tentu akan memunculkan pertanyaan di publik terkait posisi Indonesia dalam memandang masalah Palestina-Israel. Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatis resmi dengan Israel dan selama ini justru vokal mendukung Palestina. Namun, tindakan Yahya ini tentu telah mencoreng nama negeri dengan penduduk muslim terbesar ini.

Yahya tidak datang dengan tangan hampa pada forum tersebut. Ia menawarkan beberapa alternatif yang dirasa mampu menjadi solusi untuk merekonsiliasi hubungan Palestina-Israel yang juga juga linier dengan hubungan Islam-Yahudi. Ia melihat bahwa Islam dan Yahudi sebagai agama yang merepresentasikan relasi Palestina-Israel memiliki kesamaan yang patut untuk dijadikan sebagai penengah konflik berkepanjangan ini, bukan justru diperbesar aspek perbedaannya.

Dalam pandangan Yahya, upaya yang selama ini digencarkan oleh pihak-pihak mediator hanya berkutat di aspek politik dan militer, sedangkan aktivitas politis dan militer hanya akan memperkeruh status quo. Penafsiran serta interpretasi terhadap teks-teks agama, seperti Alquran dan Hadits selama ini masih terlalu sempit yang menyebabkan kebencian antara kedua pihak masih terus ada dan konflik masih terus berlanjut. Untuk mengatasi hal tersebut, perlu dilaksanakan penafsiran baru yang lebih sesuai dengan kondisi sekarang, mengingat Alquran serta Hadits merupakan dokumen sejarah yang sangat terikat dengan peristiwa yang terjadi saat itu.

Dengan melihat akar masalah tersebut, konsep Rahmah atau berkasih sayang dan tidak memandang pihak lain dengan kebencian diajukan oleh Yahya agar Palestina dan Israel berhenti bertikai. Tak akan sampai pada kata damai, jika baik Palestina maupun Israel tidak mau saling memberi kasih-sayang kepada satu sama lain. Ia menyatakan pada pidatonya bahwa Palestina sepatutnya rehat dari dendam serta kemarahan yang dirasakannya dan Israel pun penting untuk menunda keresahannya tentang rasa tidak aman (CNN Indonesia, 12/06). Dengan saling menerima dan mengasihi, keadilan akan dapat hadir di tengah-tengah keduanya sehingga tak perlu lagi ada pertikaian yang menganga.

Ambiguitas Konsep Rahmah vs Islam

Mari berpikir sejenak. Jikapun Palestina melakukan konsep yang ditawarkan Yahya ini dan memberi kasih sayangnya kepada Israel, apakah Israel dengan sokongan dana dan senjata yang kuat dari Amerika akan segera luluh? Modal kasih sayang sejatinya tak akan cukup untuk menghentikan Israel dari menduduki wilayah Palestina. Moncong senjata mereka sudah terlalu andal menembus dada para pelempar ketapel batu. Bom-bom mereka terlalu pintar untuk menghancurkan rumah penduduk Palestina. Lalu, masihkah kita berharap pada Rahmah ala Yahya ini sementara darah anak-anak Palestina masih terus bercucuran?

Narasi toleransi beragama dan universalitas tidak sepatutnya diletakkan di sini. Bagaimana mungkin ada toleransi atas pembunuhan nyawa-nyawa manusia? Razan-Razan berikutnya akan terus ada jika malah toleransi beragama yang terus didengungkan sebagai alternatif solusi. Dunia internasional sangat paham siapa yang tersakiti dan siapa yang menyakiti di sini, terlihat dari banyaknya aksi pembelaan terhadap Palestina di banyak belahan dunia. Tentu merupakan hal yang lucu dan tidak masuk akal jika korban pencurian diminta untuk bertoleransi atas nama agama serta berkasihsayang terhadap pencuri yang sudah merampas rumahnya dan membunuh anak-anaknya.

Kehadiran Yahya ke Israel lengkap dengan konsep semu Rahmahnya akan semakin membukakan mata umat siapa yang benar-benar memihak pada kaum muslim dan siapa yang tidak. Logika dan akal sehat siapapun akan menyadari bahwa toleransi beragama bukanlah jalan keluar dalam menyelesaikan masalah ini. Toleransi beragama justru akan semakin memperburuk situasi karena akan membuyarkan mana yang hitam dan mana yang putih. Kaum muslim di seluruh dunia sudah sepatutnya paham bahwa masalah Palestina itu mempertaruhkan ‘izzah atau kemuliaan Islam.

Israel dengan dukungan dana dan senjata dari Amerika tentu bisa dengan mudah meneruskan pendudukannya atas wilayah Palestina yang kini berjuang sendirian di tengah dinamika politik dunia Islam dan Arab. Jika para pemimpin negeri muslim mengakui bahwa masalah Palestina adalah masalah dunia Islam, maka tak ada hal yang lebih pantas untuk dilakukan selain bersatu mengerahkan dana dan senjatanya untuk membela Palestina. Jika para penjajah begitu solid dalam merongrong dunia Islam, lantas mengapa para pemimpin negeri muslim justru enggan menyatukan kekuatannya?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: