Shalihah

“الدنيا متاع و خير متاعها المرأة الصالحة” (روه مسلم)

“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah” (HR. Muslim)

Shalihah bagi saya itu bukan sekedar tujuan, tapi ia lebih pada harapan dan proses. Karena memang, untuk mendapat gelar ‘shalihah’ itu sendiri pasti akan membutuhkan proses yang panjang, waktu yang lama, dan bekal yang banyak.

Banyak yg berharap menjadi shalihah, namun ia enggan menjalani proses. Tapi, tidak sedikit juga yg menggebu-gebu dalam berproses menjadi shalihah itu. Setiap proses tentu saja patut kita hargai dan apresiasi. Sisanya hanya perkara konsisten dan istiqamah saja.

Menjadi shalihah juga indikatornya banyak. Harus begini, harus begitu, dll. Tapi hemat saya, inti dari semuanya adalah ketika kita sadar akan hubungan kita dengan Allah (idrak silah billah). Dengan kesadaran itu, kita akan hidup dalam Muraqabatullah atau merasa bahwa Allah selalu mengawasi kita, melihat kita, dan memperhatikan kita. Bahwa tak mungkin ada yg luput dari pandangan Allah. Dari situ pulalah, tindak tanduk perbuatan kita akan terpandu dalam baik dan buruk di sisi Allah serta halal dan haram di sisi Allah.

Sekali lagi, mendapat gelar shalihah bukanlah perkara yg mudah, karena ia sejatinya adalah gelar ukhrawi. Gelar yg akan Allah sematkan pada wanita-wanita yang hatinya penuh dengan asma Allah dan kecintaan pada Rasulullah serta kebanggaan pada Islam.

Jadi, coba tanyakan pada diri.

Apakah aku sudah shalihah? Atau setidaknya sudah berproses menjadi shalihah?

And here I am, currently in attempts to achieve that title, even I oftenly still have to fight with my ‘inner me’.

So, Dear me, please be Shalihah because of Allah…

Advertisements

Al Umm Al Madrasatul Uula

Wanita.
Salah satu makhluk ciptaanNya yang unik dan spesial di antara yang lain. Ia rapuh di satu sisi, namun Ia merupakan makhluk yang tegar di sisi yang lain. Ia boleh jadi lemah di satu sisi, namun jangan pernah remehken kekuatannya di sisi yang lain.

Wanita.
Ketika kecil, Ia mampu mengetuk pintu surga melalui baktinya pada Ibu dan Bapaknya.
Ketika gadis, Ia mampu menjadi tamu surga karena taatnya pada Tuhannya.
Ketika menikah, Ia mampu menjadi salah satu bidadari surga melalui patuhnya pada Sang Suami.
Dan ketika diamanahkan seorang buah hati, maka Ia pun berhak memasuki surga manapun karena didikannya pada Sang Anak untuk menjadi penerus yang dirindukan agama dan dunia.

Ya, itulah wanita.

Beban yang dipikul olehnya dengan susah payah selama 9 bulan, akan membuahkan hasil yang tak tanggung-tanggung dikarenakan keshalihan serta ke’aliman anaknya.
Wanita yang rapuh dan lemah itu telah dipercaya oleh Sang Maha Perkasa untuk mengemban suatu amanah yang bahkan kaum lelaki pun belum tentu mampu menjalaninya. Tentu itu bukan pula suatu amanah yang mudah, karena itu tanggungannya sepanjang hayat.

Ibu merupakan sekolah pertama bagi anak-anaknya kelak.
Bagaimana tidak?
Selama mengandung dengan peluh yang tak terbayangkan, Ia senantiasa memperdengarkan dan melantunkan ayat suci untuk Sang  Buah Hati dengan harapan kelak dialah yang akan menjadi seorang penghafal yang shalih.
Ketika Sang Buah Hati hadir menyapa dunia, Ia senantiasa membawanya ke majelis-majelis ilmu untuk berdakwah dan didakwahi dengan harapan kelak dia pun mampu menjadi seorang Mubaligh agama.
Ketika Sang Anak beranjak dewasa, Ia senantiasa menyampaikan ilmu-ilmu yang belum tentu didapatkan di tempat lain dengan harapan kelak dia mampu untuk menjadi lebih baik dibandingkan Sang Ibu.
Semua itu tidak mungkin terwujud tanpa seorang wanita yang shalihah, tanpa seorang wanita yang tidak memenuhi dirinya dengan ilmu, dan tanpa seorang wanita yang tak takut pada Penciptanya.

Teringat sebuah kiasan,

Lelaki yang rusak, hanya akan merugikan 1 atau 2 orang. Namun, jika wanita yang sudah rusak, kelak akan merugikan sebuah peradaban.

Wanita yang tahu kedudukannya, tak mungkin akan membiarkan dirinya rusak.
Wanita yang tahu betapa peran pentingnya sangat diharapkan dunia, tak mungkin akan membiarkan dirinya rusak.
Wanita yang tahu bahwa Ia merupakan Al Madrasatu Al Uula, sekolah pertama bagi anak-anaknya kelak, tak mungkin akan membiarkan dirinya rusak. Karena Ia tahu, rusaknya Ia sama saja dengan menghancurkan sebuah peradaban yang dinanti-nanti oleh dunia.