Indonesia Move Up

Setiap mendengar kata “Move Up”, selalu ingat dengan kata-kata Teh Febrianti “Pepew” Almeera, “Move up! Karena move on saja tidak cukup” katanya.
Dan memang ada benarnya. Ketika kita mencoba mengubah sesuatu, maka Move Up lah yang diperlukan, bukan sekedar move on. Meningkatkan sesuatu itulah yang dibutuhkan, bukan sekedar berpindah secara horizontal.
Dan mungkin banyak yang geram, geregetan, kesel, tak habis pikir ketika menyaksikan panggung perhelatan keummatan di negeri ini. Mungkin banyak yang membuat kita berdecak, “Yaa Allah, kok bisa ya kaya gitu?”, “Yaa Allah, ada orang yang kaya gitu banget ya” “Subhanallahu, ngga nyangka ngeliat kasus-kasus yg ada sekarang mah, parah pisan” daaaaan lain-lain.. Tidak sedikit dari para analis yang mengkaji bahwa permasalahan yg dirasakan negeri ini, bukan masalah biasa. Tapi, ia adalah masalah yg timbul dari akar. Ketika akarnya tidak kokoh, apakah pohon nya akan tumbuh baik? Tentu tidak.
Pun dengan Indonesia. Sekulerisme, kapitalisme, liberalisme, dan isme lainnya juga ikut andil dalam masalah-masalah yg ada saat ini. Banyak yg menuntut akan kebebasan, lalu apa artinya syari’at Islam jika demikian? Banyak pula yg menuntut agar agama tak usah dibawa dalam politik kenegaraan, lalu apa artinya fiqh siyasiyah (fiqh politik) dalam Islam jika demikian? Dan, tidak heran, para penggagas dari isme-isme tersebut di masa lalu juga sudah memprediksi bahwa apa yg mereka gagas itu lemah, dan akan berujung pada kealfaan di akhirnya.
Sedangkan, dibalik isme-isme yang pada dasarnya bertentangan dgn Islam tersebut, Islam sendiri sudah menawarkan solusi yang hakiki. Bagaimana mengatur kehidupan bermasyarakat, bagaimana problem solver dari permasalahan ekonomi, bagaimana menjalankan perpolitikan, yang semuanya tak hanya dijalankan karena maslahat, tapi sebagai bentuk ketaatan pada Ilahi Rabbi.
Sudah cukup dengan problematika ini. Sudah saatnya masalah-masalah yg ada diselesaikan dengan Islam. Sudah saatnya semua yang tercerai berai, bersatu lagi di bawah Panji Islam yg sama, Al Liwa’ dan Ar Rayah. Sudah saatnya untuk Indonesia Move Up dengan Syari’ah dan Khilafah agar tercapai Islam Rahmatan Lil ‘Alamin. In syaa Allah, bi idznillah.

Advertisements

Perempuan dan Terorisme

Beberapa waktu lalu, jagad Indonesia kembali dihebohkan dengan masalah lama yang diangkat-angkat kembali, yaitu ditemukannya “bom panci” di daerah Bintara Jaya, Bekasi dan diciduknya 3 terduga pelaku teroris, termasuk satu diantaranya adalah seorang wanita. Penemuan bom ini kemudian dikonfirmasi oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) akan diarahkan untuk diledakkan di Istana Negara. Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri juga menangkap 1 orang terduga teroris di Ngawi, Jawa Timur yang diasumsikan masih terkait dengan jaringan teroris Bekasi tersebut.
Salah satu pengamat terorisme, Sydney Jones menyatakan kepada Viva.co.id bahwa rencana aksi kali ini dilaksanakan oleh Jaringan Ansharut Daulah Khilafah Nusantara (JADKN) di bawah pergerakan Bahrun Naim. Jaringan ini menurutnya memiliki afiliasi kepada jaringan ISIS (Islamic State in Iraq and Syria) di Indonesia, mengingat banyak ‘figur-figur’ lama di Indonesia mengarahkan pengikutnya untuk bergabung ke sana jika tidak mampu menyerukan jihad di dalam negeri.
Satu hal lain yang kemudian ditekankan pada kejadian ini adalah modus baru dalam terorisme di Indonesia, yaitu dengan menggerakkan perempuan sebagai “pengantin” atau eksekutor bom bunuh diri. Hal ini sontak mengundang beberapa analis Terorisme untuk buka suara, salah satunya Ansyaad Mbai, mantan Kepala BNPT. Ansyaad menyatakan, “Penyamarannya bagus, apalagi berbusana seperti orang Arab. Gampang sekali menyembunyikan bom di dalam badannya. Selain itu, biasanya petugas agak lengah, kendur, kalau menghadapi perempuan. Pemeriksaan di pintu-pintu masuk lebih kendur” ungkapnya pada Rakyat Media Online.
Terkait pernyataan Ansyaad itu, hal tersebut secara tersirat mengindikasikan bahwa jika ada wanita yang “berbusana seperti orang Arab”, katakanlah yang berjubah dan berkerudung menjuntai lebar, maka ia memiliki potensi yang lebih besar untuk menjadi pelaku terorisme dibandingkan dengan yang lain. Sungguh, ini adalah suatu tindakan generalisasi yang menyudutkan kaum Muslimah yang menutup aurat sesuai tuntunan Islam!
Tidak hanya itu, peristiwa ini kembali mengingatkan kita pada salah satu program yang digencarkan oleh Pemerintah dalam beberapa tahun terakhir, yaitu program deradikalisasi. Program deradikalisasi ini sarat dengan pembahasan isu terorisme yang pada akhirnya akan kembali menyudutkan ummat Islam. Oleh karena itu, mencuatnya kembali isu ini di tengah tingginya ghirah kaum Muslimin di Indonesia untuk menindak kasus penista Al Qur’an, diasumsikan akan menjadi legitimasi Pemerintah untuk 3 hal: Menggiatkan kembali program deradikalisasi; Memberi alarm/signal peringatan bagi permepuan untuk menjauhi aktivitas yang dikategorikan radikalisme; dan menjadi pintu masuk untuk membuat program khusus deradikalisasi perempuan melalu Majelis Ta’lim atau pengajian komunitas perempuan.
Oleh karena terlalu seringnya hal seperti ini menyudutkan ummat Islam, kaum muslimin secara umum dan muslimah secara khususnya, harus terus kritis terhadap program deradikalisasi ini yang seringkali diasosiakan dengan kegiatan pembinaan atau pemahaman ummat terhadap Islam yang kaaffah (menyeluruh). Di tengah hempaan fitnah dari berbagai sisi terhadap Islam, ummat juga harus memiliki fikrun siyasiyyun yang kuat atau pemikiran politis dalam menyikapi beragam situasi politik ala sekulerisme saat ini. Karena tidak dipungkiri, geliat untuk kebangkitan ummat dan kesadaran ummat untuk ber-Islam kaaffah (menerapkan syari’at Allah dalam setiap sendi kehidupan) semakin tinggi akhir-akhir ini, maka usaha musuh-musuh Islam, baik itu kaum kafir dan munafik untuk mengerdilkan semangat kebangkitan ummat juga akan semakin meninggi. Wallahua’lam bi ash-shawwab.[]