Media Sekuler Penyokong Penghina Al Qur’an

Jum’at lalu (14/10), ribuan masa yang tergabung dari berbagai elemen ormas Islam di Jakarta dan daerah lain, menggelar aksi damai untut menuntut penangkapan penghina Al Qur’an di depan Balai Kota, Jakarta. Aksi damai ini digelar sebagai respon dari pernyataan Gubernur incumbent DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama, Ahok terkait surah Al Ma’idah ayat 51, yang dianggap digunakan untuk membohongi dan membodohi umat Islam untuk tidak memilih pemimpin non-Muslim.

Pernyataan Ahok tersebut sontak menjadi viral di media sosial karena dianggap telah menghina dan menistakan Al Qur’an dan Islam itu sendiri. Ketidaktegasan pemerintah dalam menindak pelaku penistaan Al Qur’an juga menjadi salah satu alasan aksi tersebut dilaksanakan. Aparat terkait beralasan belum bisa menindak Ahok karena Majelis Ulama Indonesia (yang dianggap mewakili umat Islam) pada saat itu belum mengeluarkan surat pernyataan. Namun, setelah MUI mengeluarkan surat resmi, nyatanya tindakan tegas pun belum diambil hingga hari ini.

Beberapa waktu setelah aksi damai tersebut digelar, media sekuler mulai mengangkat berita-berita dari sisi negatif aksi yang dilaksanakan umat Islam tersebut. Ditambah lagi dengan diunggahnya foto-foto taman di depan Balai Kota yang rusak berat, terlihat seolah-olah massa aksi lah yang melakukannya. Berita tersebutlah yang di-blow up oleh media sekuler, namun tidak untuk aksi damai yang digelar hari Jum’at tersebut.

Terkait isu tersebut, Kepala Dinas Pertamanan DKI Jakarta, Djafar menyatakan, “Baru saja kami selesai meninjau dan ternyata kerusakan tidak separah yang kami bayangkan. Biaya kerugian sekitar Rp 60 juta tersebut telah mencakup keseluruhan taman beserta isinya.” Djafar juga menyebut bahwa taman yang rusak tidak terlalu luas, hanya sekitar 300 meter persegi.

Menurut sosiolog pakar media, Noam Chomsky, ia menyatakan dalam media sekuler kapitalis, media selalu dijadikan alat oleh penguasa untuk mengalihkan perhatian publik dari persoalan penting diarahkan pada persoalan remeh, bahkan menjadikan publik menyalahkan diri sendiri. Kemudian, terdapat teori Strategi Gangguan atau The Strategy of Distraction yang merupakan elemen utama dari kontrol sosial. Strategi ini digunakan oleh elit politik ataupun elit ekonomi untuk mengalihkan isu penting dari publik dan membuat publik jauh dari informasi penting.

Kejadian ini semakin menguatkan bahwa media yang seharusnya bisa menyokong kebangkitan ummat, ternyata tidak memberikan peran yang penting dan justru merusak agenda membangkitkan ummat. Semua itu dikarenakan media yang ada saat ini dikendalikan oleh kaum kapitalis dan sekuleris yang sejatinya kontra dengan Islam, terlebih kebangkitannya. Media yang penuh dengan kepentingan politik kapitalis yang bermuara pada system kufur ala demokrasi sekuler.

Jika ummat Islam terus berada dalm kungkungan sistem kapitalis, bisa dipastikan kepentingan-kepentingannya tidak akan didengar oleh pemerintah. Terbukti dari satu masalah ini saja —tanpa menilik masalah-masalah yang lain— suara ummat Islam seperti dianggap angin lalu. Satu-satunya jalan bagi ummat Islam bisa hidup dalam ketenteraman untuk menjalankan perintah Allah dan meninggalkan laranganNya adalah ketika ummat Islam hidup dalam sebuah sistem yang telah dicontohkan langsung oleh baginda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, sistem Islam dalam naungan Khilafah ‘alaa Minhajin Nubuwwah. Wallahu a’lam bi ash-shawwab.[]

Advertisements