Shalihah

“الدنيا متاع و خير متاعها المرأة الصالحة” (روه مسلم)

“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah” (HR. Muslim)

Shalihah bagi saya itu bukan sekedar tujuan, tapi ia lebih pada harapan dan proses. Karena memang, untuk mendapat gelar ‘shalihah’ itu sendiri pasti akan membutuhkan proses yang panjang, waktu yang lama, dan bekal yang banyak.

Banyak yg berharap menjadi shalihah, namun ia enggan menjalani proses. Tapi, tidak sedikit juga yg menggebu-gebu dalam berproses menjadi shalihah itu. Setiap proses tentu saja patut kita hargai dan apresiasi. Sisanya hanya perkara konsisten dan istiqamah saja.

Menjadi shalihah juga indikatornya banyak. Harus begini, harus begitu, dll. Tapi hemat saya, inti dari semuanya adalah ketika kita sadar akan hubungan kita dengan Allah (idrak silah billah). Dengan kesadaran itu, kita akan hidup dalam Muraqabatullah atau merasa bahwa Allah selalu mengawasi kita, melihat kita, dan memperhatikan kita. Bahwa tak mungkin ada yg luput dari pandangan Allah. Dari situ pulalah, tindak tanduk perbuatan kita akan terpandu dalam baik dan buruk di sisi Allah serta halal dan haram di sisi Allah.

Sekali lagi, mendapat gelar shalihah bukanlah perkara yg mudah, karena ia sejatinya adalah gelar ukhrawi. Gelar yg akan Allah sematkan pada wanita-wanita yang hatinya penuh dengan asma Allah dan kecintaan pada Rasulullah serta kebanggaan pada Islam.

Jadi, coba tanyakan pada diri.

Apakah aku sudah shalihah? Atau setidaknya sudah berproses menjadi shalihah?

And here I am, currently in attempts to achieve that title, even I oftenly still have to fight with my ‘inner me’.

So, Dear me, please be Shalihah because of Allah…

Advertisements

Ramadhan

Mungkin terkesan terlambat jika menulis tentang ini, karena malam ini saja sudah masuk 10 malam terakhir. Terlalu cepat rasanya memang. Karena ini adalah 10 malam yang biasanya dinantikan. Bagaimana tidak, Ramadhannya saja sudah spesial, terlebih lagi 10 malam ke depan ini.
Ada 1 pertanyaan sederhana.
Sudah membekaskah kebaikan Ramadhan tahun ini pada diri? Jika belum, kita masih ada kesempatan 10 malam ini untuk melakukannya. Sungguh ini tamparan keras bagi saya pribadi yang masih amat sangat jauh dari sempurna Ramadhan-nya kali ini. Tapi, percayalah. Setiap tulisan yang ada di blog ini, sejatinya adalah pemantik diri, penyemangat diri, pengingat diri. Bukan serta merta saya sudah lebih baik ibadahnya. Karena mencoba berbagi pengingat, saya rasa bukan sesuatu yang salah.
Ramadhan ini bulan ketaatan, katanya. Bulan di mana setan dibelenggu, katanya. Bulan di mana pintu neraka ditutup dan pintu surga dibuka selebar-lebarnya, katanya. Tapi apa kita sudah benar-benar meresapi maksud dari ‘katanya’ itu? Simple memang. Tapi, ternyata belum kita semua yang memahaminya.
Rasanya masih banyak di sekitar kita yg ibaratnya berpuasa, tapi hanya mendapat lapar dan hausnya saja. Pahala-pahalanya terbang bersama kemaksiatan yg dia lakukan. Tentu saja ini bukan penilaian sepihak, karena hanya Allah yang pantas menyandang Maha Juri. Tapi, kita manusia hanya bisa menilai yang zihar saja, yang jelas tampak oleh mata ini. Untuk perkara ini, saya tentu berharap bukan kita yang termasuk berlelah-lelah puasa hanya untuk lapar dan haus tersebut.
Ramadhan ini bisa diibaratkan sebagai kerabat dekat yang datang berkunjung ke rumah kita karena rindu ingin bersilaturrahim, tapi sebentar lagi akan beranjak karena ada panggilan lain. Dan saya yakin, sebagai pemilik rumah yang baik, kita akan menemani bahkan menyiapkan segala sesuatunya agar Sang Tamu tadi berangkat dengan senang hati. Pun dengan kita. Sudah sepantasnya kita mengencangkan niat dan ikhtiar terbaik untuk melepas Ramadhan ini. Karena tak ada yang tahu, mungkin kunjungan Ramadhan berikutnya, kitalah yang lebih dulu meninggalkannya.
Teruntuk jiwa-jiwa yang tak ingin Ramadhan beranjak secepat ini.
Ukhtukum,

IM.

Al Arba’a, 20 Ramadhan 1438 H.