Roma Tengah Menantimu

Teringat suatu perkataan seorang musyrifah, “Perempuan memang tidak diwajibkan untuk berjihad, untuk turun ke lapangan, tetapi perempuanlah yang nantinya akan mampu mencetak laki-laki yang berani menggempur Roma“. Sungguh suatu perkataan yang hati ini langsung membenarkan.

Dan perempuan ini jelas bukan sembarang perempuan. Bukan perempuan yang tiap pekannya ‘rihlah’ ke pusat perbelanjaan. Bukan pula yang menghabiskan waktunya dengan hal yang sia-sia. Perempuan ini spesial. Perempuan ini haruslah yang taat dan takut pada Allah ta’ala Penciptanya, yang cinta pada Islam dan rela untuk membelanya, karena ia memiliki azzam yang tinggi, yaitu mewujudkan bisyarah baginda Rasul.

Lalu, kenapa Roma? Karena Konstantinopel sudah pernah ditaklukan pada tahun 1453 M oleh Muhammad Al Fatih bersama pasukannya yang tangguh memecah gunung.
Lalu, kenapa harus Roma yang juga akan ditaklukkan? Kenapa bukan yang lain? Karena “Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam pernah ditanya, “Kota manakah yang dibebaskan lebih dulu, Konstantinopel atau Roma?” Rasul menjawab, “Kotanya Heraklius dibebaskan lebih dulu, yaitu Konstantinopel” ” (HR Ahmad, ad-Darimi dan al-Hakim). Rasul di sini tidak menafikkan bahwa Roma akan ditaklukkan oleh kaum Muslim nantinya, oleh karena itu beliau menjawab Konstantinopel-lah yang akan takluk lebih dulu.

Penaklukkan Roma ini memang terlihat utopis untuk saat ini bagi ummat, di tengah-tengah isu globalisasi, modernisasi dan kerjasama internasional yang mendunia. Tapi, tidakkah kita ingat bagaimana kisah Konstantinopel hingga ia jatuh ke tangan kaum Muslim?
Berabad-abad. Itulah hitungan penaklukan kota ini. Bukan tahun, windu, atau dekade. Tapi, abad. Suatu usaha penaklukkan “utopis” yang telah berjalan beratus-ratus tahun di bawah pimpinan dan komando yang berbeda-beda. Kota yang terkenal dengan tembok dan benteng yang tak terkalahkan, serta armada laut dan militer yang kuat ini, pada akhirnya takluk di tangan seorang pemuda berusia 21 tahun!

Memang semuanya terlihat tidak mungkin. Tapi, seorang Muslim sudah sepatutnya meyakini setiap janji Rasulullah untuk Islam yang mulia. Apalah arti seluruh ke”utopis”an yang ada ini, ketika Allah subhanahu wa ta’ala berkehendak dan berkata “kun!”.

Siapkah engkau Wahai Muslimah?!
Siapkah engkau mencetak generasi penakluk Roma?!
Siapkah engkau yang dengan kasih sayangmu akan melahirkan pewujud bisyarah Rasulullah?!
Siapkah engkau yang dengan didikanmu akan memunculkan seseorang yang mengembalikan kemuliaan Islam?!

Advertisements