Ramadhan

Mungkin terkesan terlambat jika menulis tentang ini, karena malam ini saja sudah masuk 10 malam terakhir. Terlalu cepat rasanya memang. Karena ini adalah 10 malam yang biasanya dinantikan. Bagaimana tidak, Ramadhannya saja sudah spesial, terlebih lagi 10 malam ke depan ini.
Ada 1 pertanyaan sederhana.
Sudah membekaskah kebaikan Ramadhan tahun ini pada diri? Jika belum, kita masih ada kesempatan 10 malam ini untuk melakukannya. Sungguh ini tamparan keras bagi saya pribadi yang masih amat sangat jauh dari sempurna Ramadhan-nya kali ini. Tapi, percayalah. Setiap tulisan yang ada di blog ini, sejatinya adalah pemantik diri, penyemangat diri, pengingat diri. Bukan serta merta saya sudah lebih baik ibadahnya. Karena mencoba berbagi pengingat, saya rasa bukan sesuatu yang salah.
Ramadhan ini bulan ketaatan, katanya. Bulan di mana setan dibelenggu, katanya. Bulan di mana pintu neraka ditutup dan pintu surga dibuka selebar-lebarnya, katanya. Tapi apa kita sudah benar-benar meresapi maksud dari ‘katanya’ itu? Simple memang. Tapi, ternyata belum kita semua yang memahaminya.
Rasanya masih banyak di sekitar kita yg ibaratnya berpuasa, tapi hanya mendapat lapar dan hausnya saja. Pahala-pahalanya terbang bersama kemaksiatan yg dia lakukan. Tentu saja ini bukan penilaian sepihak, karena hanya Allah yang pantas menyandang Maha Juri. Tapi, kita manusia hanya bisa menilai yang zihar saja, yang jelas tampak oleh mata ini. Untuk perkara ini, saya tentu berharap bukan kita yang termasuk berlelah-lelah puasa hanya untuk lapar dan haus tersebut.
Ramadhan ini bisa diibaratkan sebagai kerabat dekat yang datang berkunjung ke rumah kita karena rindu ingin bersilaturrahim, tapi sebentar lagi akan beranjak karena ada panggilan lain. Dan saya yakin, sebagai pemilik rumah yang baik, kita akan menemani bahkan menyiapkan segala sesuatunya agar Sang Tamu tadi berangkat dengan senang hati. Pun dengan kita. Sudah sepantasnya kita mengencangkan niat dan ikhtiar terbaik untuk melepas Ramadhan ini. Karena tak ada yang tahu, mungkin kunjungan Ramadhan berikutnya, kitalah yang lebih dulu meninggalkannya.
Teruntuk jiwa-jiwa yang tak ingin Ramadhan beranjak secepat ini.
Ukhtukum,

IM.

Al Arba’a, 20 Ramadhan 1438 H.

Advertisements

AJAL

Ketika kita dilahirkan di dunia dulu, sebetulnya kematian kitapun sudah mengekor di belakang. Karena sebagai makhluk yang memiliki awal, pastilah kita memiliki akhir, yg jelas berbeda dengan Allah yg azali, tidak berawal dan tidak berakhir.
Kematian memang suatu kepastian, namun tak ada satupun yang tahu kapan dia akan menghampiri, sekalipun teknologi terhebat yg ada saat ini. Kita hanya bisa menunggu dan alangkah indahnya penantian itu jika diwarnai dengan amal-amal yg diridhai Allah.

“Kamu bisa mati kapan saja”

Itu salah satu pengingat yg selama ini kucoba tanamkan pada diri, agar senantiasa mengingat bahwa kapanpun Allah ingin bertemu denganmu, maka kita takkan bisa mengelak atau bersembunyi bagaimanapun itu.

Juga, gelar yang kuinginkan dalam hidup ini sejatinya adalah Husnul Khatimah, meninggalkan segala apa di dunia ini dalam predikat yg baik. Husnul Khatimah ini mungkin jarang bahkan takkan kita jumpai pada mereka yg siangnya maksiat tapi malamnya enggan bertaubat. Oleh karena itu pulalah, setiap dari kita perlu mendorong diri ini agar terus beramal yg terbaik hanya, untuk, dan karena Allah, agar pertemuan kita denganNya adalah sebaik-baik pertemuan.
Perlu kita ingat potongan ayat ini: “Kullu nafsin dzaaiqatul mawt”, bahwa semua yg bernyawa pasti akan mati. Sekarang hanya tinggal kita, apakah mau bertemu kematian tsb dalam kemaksiatan atau dalam ketaqwaan dan ketaatan pada Allah.


In syaa Allah Ramadhan sudah menghampiri. Bulan diturunkannya Al quran, bulan yg kuyakin dirindu oleh setiap insan beriman. Tak lengkaplah rasanya jika Ramadhan ini kita lalui tanpa menjalankan secara total isi Alquran, padahal kita yakin Alquran adalah al Haq yang diturunkan di bulan spesial ini. Tak lengkap pulalah jika ketaatan yg kita lakukan pada bulan ini tidak diiringi dengan pelaksanaan hukum2 Allah. Sudah terlalu lama umat terbaik ini “mati” karena terbelenggu jeratan kekosongan syariat Allah dalam hidupnya. Dan bukanlah suatu hal yg salah apabila kita berikhtiar menghidupkannya kembali dengan menjalankan perintah dan meninggalkan larangan Allah secara total melalui bingkai Khilafah Islamiyah atas manhaj kenabian.


Marhaban yaa Ramadhan. Marhaban yaa Syahrus Shiyaam.

Semoga Allah menguatkan kita untuk beribadah selama bulan Ramadhan ini dan akan meninggalkan jejak-jejak kebaikan untuk bulan-bulan berikutnya.

Syahrus Shiyaam

Bait demi bait, baris demi baris
Siang berganti malam, bulanpun berganti mentari
Tak ada satu waktupun ku tak rindukan dirimu
Dirimu yang dinanti oleh seluruh ummat

Kedatanganmu yang hanya sekali dalam dua belas waktu
Selalu menyisakan cahaya dalam hati kami
Kami yang sebelumnya enggan untuk tenggelam dalam Al Qur’an
Kami yang tak tahu rasanya bercumbu dengan Tuhan

Yaa Syahrus Shiyaam

Semut-semut kecilpun tahu akan keluarbiasaanmu
Kemuliaanmu sudah menggema pada makhlukNya hingga ke langitNya
Betapa hebat engkau menjerat syaithan untuk tak menggoda kami
Betapa besar ganjaran ummat yang berjihad ketika engkau hadir

Yaa Syahrus Shiyaam

Terima kasih untukmu yang telah menanam kembali benih cinta pada diinul haq ini
Terima kasih pula untukmu yang memberi kesempatan pada kami untuk menyucikan diri dari dosa-dosa kami
Semoga Tuhan mengampuni  kelalaian ibadah kami dalam kehadiranmu
Semoga Tuhan memaafkan kesombongan kami yang tak mengingat kedatanganmu

Yaa Syahrus Shiyaam

Tapi sungguh, Tuhan tahu bahwa engkau terngiang dalam hati kecil kami
Hati yang terkadang penuh sesak duniawi ini
Sungguh, ghirah berIslam yang bisa engkau kobarkan mulai mengetuk pintu hati kami
Dan ini benar adanya, kami merindumu dengan sangat, yaa Syahrus Shiyaam

Iranti Mantasari
As-Sabt, 13 Sya’ban 1437 H
Selong, Lombok Timur