Dear, Self..

No one knows what is inside this heart, except we ourself and our creator Allah Azza wa Jalla.

Hati secara anatomi memang ada, tapi aku lebih melihatnya sebagai sesuatu yang abstrak, ketika kita berbicara tentang ‘diri’. Di sanalah tempat berkumpulnya semua perasaan, marah, senang, sedih, bingung, kesal, yang kesemuanya juga adalah hal yang abstrak. Mereka ada, tapi secara zahir mereka tak nampak.

Hati manusia itu rapuh dan lemah. Karena Allah yang menggenggam semuanya. Bahkan, saking lemahnya, manusia senantiasa berdoa kepada Allah agar hatinya selalu ingat kepada Allah. Ya, sekedar untuk mengingat Allah saja kita terus berdoa. Kurang lemah apalagi itu.

Hati juga cerminan diri katanya. Ketika dia ‘merah’, maka perangai pemiliknya pun akan membara. Ketika dia ‘biru’, maka perangai pemiliknya juga ikut sayu. Jika dia ‘kuning’, perilaku pemiliknya pun bisa jadi bingung. Entahlah, namanya juga hati.

Satu hal yang kusyukuri, yaitu aku masih dikaruniai hati oleh sang Maha Pemberi. Di saat orang lain, bahkan untuk memikirkan keberadaan hati pun mereka seakan tak ada waktu dari 24 jam yang mereka miliki. Itu adalah salah satu karunia terbesar dan terindah mungkin, menurutku. Karena dengan sadar bahwa Allah masih memberi diri ini hati, kita pun masih bisa memikirkan hakikat serta segala sesuatu yang berkaitan dengan kelanjutan hidup kita di dunia maupun setelahnya.

Aku menulis inipun, karena aku sadar bahwa aku masih ada hati. Yang terkadang kesadaran itu baru muncul ketika dia terpicu oleh sesuatu. Apapun itu.

Hidup yang kujalani ini dan segala sesuatu di dalamnya benar-benar adalah anugerah. Anugerah yang mungkin bagi bayi berumur beberapa jam-pun, tidak semua bisa merasakan dan mendapatkannya. Masyaa Allah walhamdulillah wa syukru lillah..

Manusia yang seringkali lalai ini, sungguh perlu muhasabah dan evaluasi akan hatinya. Hati yang tak nampak tadi, ternyata berefek besar di kehidupan nyata. Kita hanya bisa meredamnya ketika memang sedang bergelora dan sekedar mendinginkannya ketika sedang panas. Semuanya tergantung kita. Hati ini kita yang punya, tapi jangan lupa bahwa Allah yang menggenggamnya.

Serahkan segalanya pada Allah. Tawakkal kalau kata para ‘alim ulama. Ridha-lah pada setiap keputusan dan ‘kebijakan’ Allah. Apapun itu. Karena ketika kita ridha dengan Allah, Allah juga akan melimpahkan kita dengan ridhaNya. Sungguh relasi timbal balik yang sangat indah bagi kita seorang hamba yang lemah dan terbatas ini.

Tulisan ini mungkin hanyalah cuitan kecil dari berbagai perasaan yang saat ini sedang bergelora di hatiku. Syukur ada, sedih ada, menyesal ada, bahagia ada, semuanya bercampur menjadi satu dan rasanya ingin kutumpahkan saja. Bahkan mungkin jika ini dibaca oleh orang lain, tidak semuanya bisa paham dan mengerti maksud dari tulisan ini. Tapi tak apa. Aku hanya berusaha membagi dan menuangkan apa yang ada di hati ini, meski kucoba menambah sedikit nasehat yang sejatinya juga kualamatkan pada diri.

Semoga ada manfaat, seperti hakikat seorang manusia yang seharusnya naafi’un lii gayrihi…

Selong, 6 Dzulqa’dah 1438 H – 30 Juli 2017
-IM-

Advertisements

AJAL

Ketika kita dilahirkan di dunia dulu, sebetulnya kematian kitapun sudah mengekor di belakang. Karena sebagai makhluk yang memiliki awal, pastilah kita memiliki akhir, yg jelas berbeda dengan Allah yg azali, tidak berawal dan tidak berakhir.
Kematian memang suatu kepastian, namun tak ada satupun yang tahu kapan dia akan menghampiri, sekalipun teknologi terhebat yg ada saat ini. Kita hanya bisa menunggu dan alangkah indahnya penantian itu jika diwarnai dengan amal-amal yg diridhai Allah.

“Kamu bisa mati kapan saja”

Itu salah satu pengingat yg selama ini kucoba tanamkan pada diri, agar senantiasa mengingat bahwa kapanpun Allah ingin bertemu denganmu, maka kita takkan bisa mengelak atau bersembunyi bagaimanapun itu.

Juga, gelar yang kuinginkan dalam hidup ini sejatinya adalah Husnul Khatimah, meninggalkan segala apa di dunia ini dalam predikat yg baik. Husnul Khatimah ini mungkin jarang bahkan takkan kita jumpai pada mereka yg siangnya maksiat tapi malamnya enggan bertaubat. Oleh karena itu pulalah, setiap dari kita perlu mendorong diri ini agar terus beramal yg terbaik hanya, untuk, dan karena Allah, agar pertemuan kita denganNya adalah sebaik-baik pertemuan.
Perlu kita ingat potongan ayat ini: “Kullu nafsin dzaaiqatul mawt”, bahwa semua yg bernyawa pasti akan mati. Sekarang hanya tinggal kita, apakah mau bertemu kematian tsb dalam kemaksiatan atau dalam ketaqwaan dan ketaatan pada Allah.


In syaa Allah Ramadhan sudah menghampiri. Bulan diturunkannya Al quran, bulan yg kuyakin dirindu oleh setiap insan beriman. Tak lengkaplah rasanya jika Ramadhan ini kita lalui tanpa menjalankan secara total isi Alquran, padahal kita yakin Alquran adalah al Haq yang diturunkan di bulan spesial ini. Tak lengkap pulalah jika ketaatan yg kita lakukan pada bulan ini tidak diiringi dengan pelaksanaan hukum2 Allah. Sudah terlalu lama umat terbaik ini “mati” karena terbelenggu jeratan kekosongan syariat Allah dalam hidupnya. Dan bukanlah suatu hal yg salah apabila kita berikhtiar menghidupkannya kembali dengan menjalankan perintah dan meninggalkan larangan Allah secara total melalui bingkai Khilafah Islamiyah atas manhaj kenabian.


Marhaban yaa Ramadhan. Marhaban yaa Syahrus Shiyaam.

Semoga Allah menguatkan kita untuk beribadah selama bulan Ramadhan ini dan akan meninggalkan jejak-jejak kebaikan untuk bulan-bulan berikutnya.

image

Mungkin. Sangat mungkin.

Mau persembahkan apa ketika menghadap nanti? Sudah persiapkan apa untuk bertemu denganNya nanti?
Usia tak ada yang tahu, tak ada yang bisa menerka. Yang kita tahu hanyalah kematian itu sebuah kepastian. Siap atau tidak siap, jika Ia berkehendak bertemu denganmu, maka kau tak mungkin dan tak akan bisa bersembunyi darinya meski di sebuah benteng yang kokoh dan tinggi.

Ingatlah. Kau hanya seorang manusia. Seorang makhluk yang lemah dan terbatas, yang punya batas akhir di dunia nan fana ini.