Coffee Lovey

1481814525116

credit to brightandearlycoffee.com ^^

I’d like to share my love towards this product šŸ˜€ It’s a rare kind of thing I publish in this blog anyway. And random one of course.

Well, whenever I heard this word, Coffee, my brain starts to imagine how great it is to have a sip of it. It is like when you have lots of burden, but then someone come and offers you a help to get rid of those burdens. That’s the same feeling when I have a cup of coffee. Exaggerating? Not really. I do really feel that whenever I’m with it, well not always, but oftenly. The aroma, the taste, the various flavor it offers, I just can’t let them go easily, both iced or hot one.

However, there are some problems I usually face when I’m about to drink Coffee. The problems are the price and its Halal-ness.

Some coffee shops set the price of their product too high, in my honest opinion as someone who don’t have exact amount of income :p But then, some people says the service and the ambience of the shop pay the price in the end. I agree and I don’t. If I’m about to have my favorite variant; Latte (no matter what the flavor is), I need to pay for at least IDR 30k. I sometime think it’s too much for a cup of coffee, when I actually can find a more surfeited food with that price.

Second, the Halal-ness of the product. Not all coffee shops here have their business certification from MUI (Indonesian Clerics Council). It means, not all coffee shops provide Halal coffee. Why? It’s just coffee isn’t it? Not something that really catch our eyes when we talk about Halal-ness, like Pork for instance. Well, it’s true it’s just a coffee, a beverage. But then, Pork is not the only substance that Muslim should not consume. Alcohol is another substance. I saw some coffee shops sell Rum-added coffee. Rum in my understanding is similar with alcohol. Only the form is different, or even the taste perhaps. But in Islam, it is still categorized as Khamr or something intoxicate. So, for me, a Muslim and a Coffee-lovey, the Halal-ness and the price of the coffee are really important.

Another thing that makes me love Coffee is that it can melt the ambience. Trully. Discussing hot issue about Islam and this country with your fellas in a coffee shop is a very great choice. And even doing your tasks with your classmates in a coffee shop is such a pleasant. It’s just amazing to see how a cup of coffee really matters. This quote prevails a lot:

No matter how the situation is, Coffee Understand.

It’s true. Coffee understands your situation. As for me, coffee is not only a beverage that people usually drink in their leisure time. But coffee is something that can complete my day. A day without coffee is so empty~

Oh, I just don’t know how to express my love to Coffee, if only it could hear me. LOL.

Well, that’s the only thing I wanna say about Coffee. I know it’s so random and maybe trash for some people, but I need to write what’s inside my head so that my brain could function well in this early morning. See you on other deep-analysis-post! šŸ˜€

Advertisements

TRIANGLE LOVE

Adakah yang lebih romantis dari dua insan yang menjaga jaraknya atas nama Allah? Sementara di luar sana ada banyak sekali kawula muda yang bersua di tiap Sabtunya?

Adakah yang lebih indah dari dua insan yang bertemu dalam setiap sujud dan doanya? Sementara di luar sana ada banyak sekali mereka yang lupa padaNya karena bertemu dengan”nya”?

Cukup dengan pertanyaan-pertanyaan retoris.

Betul memang, setiap manusia sejatinya terlahir dengan 1 naluri yang sama,Ā Gharizatun Nau’. Gharizatun Nau’ atau naluri untuk berkasihsayang kepada sesamanya tak akan bisa dihapuskan dari setiap insan dengan sengaja ataupun tidak dan dengan cara apapun. Yang ada, ia hanya bisa diredam atau hanya dikurangi dominansinya pada diri. Naluri ini pun secara alami akan meminta untuk dipenuhi oleh si pemilik hati. Ya, Gharizatun Nau’ memang sebuah karunia dariĀ Ar Rahmaan untuk setiap insan.

Meskipun demikian, kelak di Yaumil AkhirĀ tidak ada orang yang akan ditanyakan mengapa ia memiliki naluri ini dan tidak ada orang yang akan dihisab hanya karena ia memiliki naluri ini. Namun, Sang Rahmaan akan menanyakan dan menghisab bagaimana seorang insan memenuhi naluri ini. Sesuaikah atau justru keluar dari jalur yang sudah ditetapkanNya.

Tidak sedikit insan yang menyalahkan bentangan jarak karena membuatnya terpisah dengan pujaan hatinya. Tidak sedikit pula insan yang menyalahkan waktu karena membuatnya jauh dengan pujaan hatinya. Tapi, apakah kita pernah berpikir bahwa jarak dan waktu merupakan salah satu “senjata” Allah untuk menyayangi hambaNya? Jarak dan waktu bukanlah sebuah hukuman atau halangan. Mungkin Allah hanya tak ingin kita -yang sudah berdosa ini- menambah dosa dengan membiarkan naluri ini berjalan tidak di koridorNya.

Jagalah diri ini agar tidak terjatuh dalam lubang yang terlalu dalam sebelum janji suci terucap. Kita mungkin memang belum tahu siapakah yang akan diberikan Allah untuk kita. Bisa saja, dia sedang melakukan hal yang sama denganmu. Bisa saja, dia sedang bersimpuh di atas sajadahnya dan memohon hal yang sama padaNya. Bisa saja, dia sedang menyiapkan diri menjadi yang terbaik untuk disatukan denganmu kelak. Ya, kita memang tak pernah tahu.

Janganlah gundah kalaupun Dia belum menunjukkan siapa yang pantas untukmu nanti. Janganlah resah jika Dia belum memberikan jawaban atas setiap doa-doa yang kau panjatkan di sepertiga malammu.Ā Yang perlu kita tekuniĀ adalah terus memantaskan diri. Karena sesungguhnya, dia yang akan menemanimu nanti merupakan cerminan dari dirimu. Jika kau baik, baiklah dia. Jika kau buruk, buruklah dia. Jika kau sudah cukup pantas, yakinlah bahwa Dia akan memandu “dia” dengan caraNya yang tak terduga untuk menujumu. Dan jangan pernah lupakan satu hal ini, bahwa Dia, Sang Rahmaan merupakan Zat yang Maha atas segala-segalanya..