Dakwah Tak Mungkin Bubar

Ingin rasanya jemari ini tak menumpahkan isi hati.

Hati yang terasa sesak penuh dengan luapan perasaan.

Belum lama memang ku bersamanya, tapi sudah begitu banyak hal indah yang bahkan tak mampu diucap oleh kata-kata.

Darinya, aku mengenal diri ini. Mengenal hakikatku sebagai seorang hamba yang lemah, terbatas, dan butuh pengaturan paripurna dari yang menciptakanku.

Darinya juga, aku mengenal bahwa kebaikan itu tak pantas untuk kumiliki seorang diri.

Karena, surga itu terlalu luas untuk kita masuki sendiri katanya.

Hari-hari kian gelap. Kian mencekam. Kian mencekik melihat bagaimana dakwah ini dicoba dibungkam, dipinggirkan, dihentikan.

Tapi satu hal yang kupegang. Bahwa ketika malam datang, maka mentari pun telah menanti untuk menyinari hari kita.

Dakwah sejatinya butuh wasilah, agar ia lebih cantik, rapi, dan indah. Wasilah yang berperan sebagai kerangka yang mengatur keping-keping puzzle agar bisa menyatu.

Adalah sunnatullah dakwah pula jika ada yang mengambil peran sebagai Umayyah bin Khalaf, yang dengan segenap tenaga terus berusaha menggagalkan dakwah.

Tapi tak dipungkiri juga akan ada sosok-sosok seperti Bilal yang terus bertahan dalam Islam meski cambukan dan pecutan bertubi-tubi menerpa tubuhnya.

Islam dan dakwah. Islam takkan sampai jika tak ada yang mendakwahkannya. Dan dakwah takkan berarti apa-apa jika bukan Islam isinya.

Sama seperti Islam, dakwah tak akan pernah bubar, bagaimanapun kerasnya tantangan di depan. Karena ia selalu ada dalam ingatan para pengembannya sebagai suatu kemuliaan ukhrawi.

Aku marah.

Aku kesal.

Dada ini sesak.

Mata ini ingin rasanya terisak.

Tapi, kucoba kuatkan diri bahwa semuanya akan menjadi gerbang menuju titik awal kebangkitan itu. Titik balik kehidupan Ummat yang Satu yang sedang dorman ini.

Allah sedang menyaring siapa saja yang memihak pada Islam dan dakwah, sehingga kelak mereka-lah yang akan membela diin ini dengan segenap hati dan kecintaannya pada Allah.

Wasilah bisa saja retak, melemah, bahkan hancur. Tapi ingat, Dakwah Tak Mungkin Bubar hingga Allah benar-benar menyerahkan kemenangan itu pada ummat yang sudah tertulis dalam kitab kalamNya.

Cikarang, 21717, 22.24 WIB

Advertisements

Istiqamah

Kebaikan itu tidak akan pernah bisa terwujud jika tak dimulai. Banyak orang yg mengaku bahwa mereka belum bisa berbuat baik, karena mereka belum siap. Padahal sejatinya, ‘mulai’ itulah kuncinya. Kesiapan akan mengekor di belakangnya.

Pun dengan kita dalam berbuat kebaikan, menuntut ilmu syar’i, dakwah, dll. Tak mungkin semuanya terwujud jika kita sendiri tak mulai bergerak. Berakhlak yang baiknya nanti saja, karena aku belum berilmu, katanya. Tapi, meski begitu, menuntut ilmunya pun enggan, karena merasa perbuatannya belum baik. It’s a dead end then.
Memulai kebaikan seperti menuntut ilmu syar’i pun termasuk tantangan bagi yg belum memulai. Dan untuk istiqamah di dalamnya adalah tantangan bagi yg sudah memulai. Tantangan untuk meninggalkan yg dibenci Allah dan tantangan untuk melakukan perintah Allah yang mungkin sebelumnya kita benci. Bahkan hanya untuk memulai saja, kita mungkin berpikir keras ribuan kali untuk sampai pada “Baiklah, aku akan memulainya”.
Dan dakwahpun termasuk di dalamnya.
Sulit mungkin membayangkan bagaimana jika kita berada dalam barisan dakwah. Menyeru manusia pada yg ma’ruf, padahal tahu dirinya belum bisa maksimal dalam kebaikan. Dan menyeru mereka meninggalkan yg munkar, padahal tahu dirinya terkadang tersandung batu maksiat. Belum lagi jika ada penolakan, penentangan, ejekan, sindiran, ancaman, dll. Mungkin kita hanya akan menjadi objek dakwah saja, tak akan pernah menjadi subjeknya.
Tapi, apakah hanya karena itu kemudian kita tak bergabung dalam shaf mulia ini? Sudah sepatutnya pula untuk kita tidak meninggalkan dakwah ini bagi yang sudah di dalamnya, meninggalkan barisan yg meneruskan risalah Allah dan kekasihNya. Tak mungkin juga kita melepaskan begitu saja pekerjaan agung ini hanya karena tekanan dan pergolakan yang ada, setelah tahu ganjaran manis apa yang disiapkan untuk kita.
Istiqamahlah. Meski jalan yang kita lalui itu curam.
Istiqamahlah. Meski cibiran yang kita dengar sangat menyayat hati.

Istiqamahlah. Meski ancaman demi ancaman digelorakan untuk menghentikan perjuangan ini.

Istiqamahlah. Atas nama Allah dan Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam.

A little note to myself. And perhaps all of you.
-IM-