​Syawaal (seharusnya) Bulan Kemenangan dan Sukacita Kaum Muslim

Oleh Iranti Mantasari, BA.IR

Baru 3 hari kaum Muslimin merayakan kemenangan setelah sebulan bersama Ramadhan. Waktu-waktu itulah yang biasanya kita habiskan untuk mempererat ukhuwah dan silaturrahim dengan kerabat dan keluarga. Tapi, sebagai Muslim yang cerdas, saya merasa kita tetap tidak boleh lengah dengan isu-isu terkait keummatan, setidaknya dalam scope nasional dulu sajalah, meskipun euphoria Idul Fitri masih kian terasa.
Jika kita memperhatikan berita atau paling tidak portal maya yang notabenenya lebih fleksibel untuk kita akses, kita setidaknya akan menemukan 2 kabar dari 2 lembaga mayor yang ada di negeri ini. Tanpa bermaksud mendiskreditkan, 2 lembaga yang saya maksud ini adalah Polri dan BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme). Pasalnya, 2 lembaga ini ketika mendekati hari Raya kaum Muslimin tahun ini, telah mengunggah konten yang tidak sedikit justru menggores hati kaum Muslim.
Polri, tertanggal 24 Juni 2017 melalui fanpage Divisi Humas Polri di Facebook telah mengunggah sebuah film pendek yang berjudul “Aku adalah Kau Yang Lain”. Meskipun tujuan dari Polri mengunggah film pendek tersebut baik, namun ternyata kontennya terlalu menyudutkan kaum Muslim yang bahkan cenderung merupakan suatu fitnah akan ajaran Islam. Tidak pernah di dalam ajaran Islam mengajarkan untuk tidak membiarkan ambulance lewat hanya karena membawa pasien yang beragama lain, terlebih alasannya karena di area jalan tersebut sedang diadakan pengajian. Ini adalah satu fitnah yang keji, yang jika masyarakat awam menonton film tsb bisa saja menganggap bahwa Islam adalah agama yang tidak adil terhadap penganut agama lain.
Dalam hal ini, Polri juga sudah berbuat sesuatu yang sebenarnya mereka sudah larang dalam kebijakannya sendiri, yaitu membahas isu SARA dan menyebarkan Hoax. Dua hal ini yang begitu gencar dibumikan oleh lembaga ini dan acap kali implementasinya akan timpang jika objeknya adalah kaum Muslim ataupun Islam. Apabila hal ini dibiarkan, saya khawatir akan menimbulkan kegaduhan di masyarakat dan akan melemahkan kepercayaan masyarakat terhadap Polri, yang notabenenya seharusnya adalah ‘pengayom’ masyakarat, dan tentu itu akan menjadi preseden yang buruk bagi Polri sendiri.
Kedua, oleh BNPT. Keberadaan BNPT sendiri sebenarnya cukup menuai kontroversi di kalangan kaum Muslim. Bagaimana tidak, isu-isu terorisme yang tidak hanya menjadi headline nasional tapi juga menjadi agenda global ini, terlalu jelas menyasar pada Islam. Terorisme telah begitu massif dijadikan alasan oleh banyak pihak untuk mendiskreditkan Islam dan kaum Muslim, baik di Indonesia maupun di mancanegara.
BNPT, menjelang Idul Fitri tahun ini, telah mengupdate tweet melalui akun resminya di twitter @BNPTRI, “Mari jadikan Idul Fitri momentum deradikalisasi diri. Selamat #IdulFitri1438H. Mohon maaf lahir & batin. #DeradikalisasiIdulFitri”. Satu tweet yang pada akhirnya dihapus oleh akun BNPT tersebut karena menuai berbagai respon dari banyak kalangan. Beberapa Tweeps (pengguna twitter) pun merespon tweet BNPT tersebut dengan menggencarkan tagar #DeradikalisasiBNPT, yang menandai agar BNPT sebaiknya berkaca dahulu sebelum kemudian melihat ke luar.
Jika kita telaah makna tweet tersebut, setidaknya ada 2 hal yang bisa kita tarik, yaitu bahwa Idul Fitri yang merupakan hari Raya umat Islam telah ‘membentuk’ pribadi-pribadi yang ‘radikal’ dan label radikal memang ditujukan pada umat Islam secara umum. Sangat disayangkan, lembaga selevel nasional ini sangat tidak objektif dan bijak dalam mengupdate tweet melalui akun resmi sosial medianya yang bisa dilihat oleh tidak sedikit masyarakat. Seakan-akan umat Islam dan Idul Fitri ini merupakan subjek yang radikal yang kerap memberikan keresahan dalam kehidupan bermasyarakat -karena radikalisme sangat dikaitkan dengan terorisme dan upaya-upaya pemecahbelahan bangsa-.
Dua peristiwa ini semakin menunjukkan bahwa umat Islam telah menjadi korban akan framing-framing atau pencitraan negatif yang digencarkan oleh rezim ini. Framing negatif yang jelas memojokkan umat Islam dan ‘menguntungkan’ kepentingan-kepentingan rezim yang mengaku dirinya sekuler ini. Momentum Idul Fitri yang seharusnya begitu sakral dan khidmat bagi kaum Muslim karena merupakan hari Kemenangan setelah selama bulan Ramadhan melawan hawa nafsu, telah dinodai oleh para pembenci Islam dan menjadi momentum untuk menyakitkan hati umat Islam. Sungguh, upaya-upaya pelemahan Islam dan kaum Muslim ini tidak akan pernah bisa mematikan ghirah umat yang mukhlis untuk terus memperjuangkan tegaknya Islam dalam mengatur kehidupan sosial bermasyakarat dan bernegara yang baik serta mendulang rahmat dan berkah dari Allah Rabbul ‘aalamin. Tidak akan!

Wallahua’lam bi ashshawwab.

Advertisements

Perempuan dan Terorisme

Beberapa waktu lalu, jagad Indonesia kembali dihebohkan dengan masalah lama yang diangkat-angkat kembali, yaitu ditemukannya “bom panci” di daerah Bintara Jaya, Bekasi dan diciduknya 3 terduga pelaku teroris, termasuk satu diantaranya adalah seorang wanita. Penemuan bom ini kemudian dikonfirmasi oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) akan diarahkan untuk diledakkan di Istana Negara. Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri juga menangkap 1 orang terduga teroris di Ngawi, Jawa Timur yang diasumsikan masih terkait dengan jaringan teroris Bekasi tersebut.
Salah satu pengamat terorisme, Sydney Jones menyatakan kepada Viva.co.id bahwa rencana aksi kali ini dilaksanakan oleh Jaringan Ansharut Daulah Khilafah Nusantara (JADKN) di bawah pergerakan Bahrun Naim. Jaringan ini menurutnya memiliki afiliasi kepada jaringan ISIS (Islamic State in Iraq and Syria) di Indonesia, mengingat banyak ‘figur-figur’ lama di Indonesia mengarahkan pengikutnya untuk bergabung ke sana jika tidak mampu menyerukan jihad di dalam negeri.
Satu hal lain yang kemudian ditekankan pada kejadian ini adalah modus baru dalam terorisme di Indonesia, yaitu dengan menggerakkan perempuan sebagai “pengantin” atau eksekutor bom bunuh diri. Hal ini sontak mengundang beberapa analis Terorisme untuk buka suara, salah satunya Ansyaad Mbai, mantan Kepala BNPT. Ansyaad menyatakan, “Penyamarannya bagus, apalagi berbusana seperti orang Arab. Gampang sekali menyembunyikan bom di dalam badannya. Selain itu, biasanya petugas agak lengah, kendur, kalau menghadapi perempuan. Pemeriksaan di pintu-pintu masuk lebih kendur” ungkapnya pada Rakyat Media Online.
Terkait pernyataan Ansyaad itu, hal tersebut secara tersirat mengindikasikan bahwa jika ada wanita yang “berbusana seperti orang Arab”, katakanlah yang berjubah dan berkerudung menjuntai lebar, maka ia memiliki potensi yang lebih besar untuk menjadi pelaku terorisme dibandingkan dengan yang lain. Sungguh, ini adalah suatu tindakan generalisasi yang menyudutkan kaum Muslimah yang menutup aurat sesuai tuntunan Islam!
Tidak hanya itu, peristiwa ini kembali mengingatkan kita pada salah satu program yang digencarkan oleh Pemerintah dalam beberapa tahun terakhir, yaitu program deradikalisasi. Program deradikalisasi ini sarat dengan pembahasan isu terorisme yang pada akhirnya akan kembali menyudutkan ummat Islam. Oleh karena itu, mencuatnya kembali isu ini di tengah tingginya ghirah kaum Muslimin di Indonesia untuk menindak kasus penista Al Qur’an, diasumsikan akan menjadi legitimasi Pemerintah untuk 3 hal: Menggiatkan kembali program deradikalisasi; Memberi alarm/signal peringatan bagi permepuan untuk menjauhi aktivitas yang dikategorikan radikalisme; dan menjadi pintu masuk untuk membuat program khusus deradikalisasi perempuan melalu Majelis Ta’lim atau pengajian komunitas perempuan.
Oleh karena terlalu seringnya hal seperti ini menyudutkan ummat Islam, kaum muslimin secara umum dan muslimah secara khususnya, harus terus kritis terhadap program deradikalisasi ini yang seringkali diasosiakan dengan kegiatan pembinaan atau pemahaman ummat terhadap Islam yang kaaffah (menyeluruh). Di tengah hempaan fitnah dari berbagai sisi terhadap Islam, ummat juga harus memiliki fikrun siyasiyyun yang kuat atau pemikiran politis dalam menyikapi beragam situasi politik ala sekulerisme saat ini. Karena tidak dipungkiri, geliat untuk kebangkitan ummat dan kesadaran ummat untuk ber-Islam kaaffah (menerapkan syari’at Allah dalam setiap sendi kehidupan) semakin tinggi akhir-akhir ini, maka usaha musuh-musuh Islam, baik itu kaum kafir dan munafik untuk mengerdilkan semangat kebangkitan ummat juga akan semakin meninggi. Wallahua’lam bi ash-shawwab.[]