Cinta Indonesia Rindu Khilafah

photo_2017-09-30_22-19-46

Penulis: Muhammad Choirul Anam
Penerbit: Alkifah Studios
Tahun: Mei 2017 (cet. 2)
Halaman: xv + 476
Jenis: Retorika Berpikir

Begitu membaca judul buku ini dulu, saya langsung berpikir “ini buku Gue Banget!”, karena benar adanya saya Cinta dengan Indonesia dan di saat yang sama juga Rindu dengan hadirnya Khilafah. Buku ini kurang lebih mengajak kita berpikir dengan mengulas berbagai asumsi yang selama ini bergulir di masyarakat terkait topik keIslaman, keIndonesiaan, dan keKhilafahan. Buku ini terdiri dari 45 bab dengan 6 tema besar, yaitu Indonesia Dalam Perbincangan; Indonesia dan Nasionalisme; Indonesia dan Demokrasi; Indonesia dan Syariah; Indonesia dan Khilafah; dan Menuju Indonesia Bersyariah. Jujur saya belum bisa mengulas masing-masing bab buku ini, tapi saya berusaha ‘merangkum’ semuanya sehingga bisa memberi pandangan pada pembaca.

Menurut saya pribadi, buku ini sangat bagus dan penting untuk dibaca oleh siapa saja yang ingin menambah wawasannya terkait tiga topik tadi. Dengan bahasanya yang cukup ringan, penulis bisa mengaitkan seluruh topiknya sehingga benar-benar bisa kita pahami secara integral. Karena bagi siapapun yang terlahir di Indonesia dan memilih untuk meyakini Islam sebagai agamanya, merindukan akan tegaknya Khilafah bukanlah sesuatu yang salah dan mengerikan hingga membuat khalayak patut memonsterisasinya.

Fenomena terkait Indonesia dan Khilafah sedang menjadi pembahasan yang hangat di tengah-tengah masyarakat akhir-akhir ini. Sayangnya, masih ada sebagian masyarakat yang justru berasumsi negatif akan hal ini, karena merasa orang Indonesia yang merindukan Khilafah itu tidak tahu diri dan tidak pantas ada di negeri ini, meskipun ia seorang muslim. Tentulah ini bukan pemikiran yang benar yang sepatutnya dipertahankan.

Banyak yang masih memandang Khilafah secara timpang yang mengakibatkan mereka sampai pada kesimpulan yang timpang juga. Padahal Khilafah asumsi mereka belum tentu sesuai dengan Khilafah di dalam Islam itu seperti apa. 6 tema besar buku ini in syaa Allah bisa menjawab sederet pertanyaan yang mungkin muncul di benak kita ketika membahas tentang Islam, Indonesia, dan Khilafah.

Setelah membaca buku ini, saya merasa bahwa pembahasan terkait tiga topik besar tadi adalah suatu hal yang “berbeda namun satu”, layaknya sisi mata uang, namun ini memiliki 3 sisi. Mencintai Indonesia sebagai negeri tempat kita dilahirkan dan dibesarkan sejatinya merupakan sesuatu yang fitrah bagi siapapun. Bahkan baginda Rasulullah pun mengaku begitu mencintai Makkah dan sempat ‘berat’ untuk meninggalkannya ketika hendak hijrah ke Madinah untuk mendirikan Daulah Islam pertama di muka bumi. Kemudian terkait Islam, kita juga menyadari dengan penuh mengapa kita memilihnya sebagai agama kita. Tentu pilihan ini memiliki konsekuensi, baik itu berupa hak dan kewajiban yang harus kita lakukan sebagai bentuk ketundukan kita pada Allah. Sedangkan, Khilafah yang merupakan salah satu ajaran di dalam Islam, juga merupakan suatu kewajiban bagi setiap yang mengaku muslim, karena ketiadaan Khilafah akan menyebabkan beberapa kewajiban lain menjadi tidak terlaksana dan berujung pada pelanggaran syariat Allah. Terlebih, Khilafah sepeninggal Rasulullah merupakan kabar gembira dan juga janji dari Allah bahwa akan ada masanya ia akan terbit dan menaungi dunia ini untuk yang kedua kalinya.

Sejauh ini, bisa terbayang ‘benang merah’nya?

Intinya, mencintai Indonesia bagi muslim yang lahir dan besar di negeri ini serta ia juga mendambakan Khilafah di dalam hidupnya bukanlah sesuatu yang aneh. Hal ini justru wajar dan sangat normal. Bahkan jika kita sudah mendalami fakta dan nash terkait Islam, Indonesia dan Khilafah, maka kita akan sampai pada konklusi bahwa muslim yang menginginkan kehadiran Khilafah adalah bentuk ‘cinta dan bakti’nya pada Indonesia, di tengah berbagai problematika nasional dan internasional yang melanda negeri ini. Mereka yang belum bisa menerima Khilafah tidak sepantasnya mengaku lebih ‘Indonesia’ dari mereka yang menyetujui Khilafah yang seakan membuat mereka tidak pantas hidup di tanah Indonesia.

Oleh karena itu, izinkan saya mengutip kalimat dalam buku ini untuk mengakhiri resensi ini,

Semua orang Indonesia, tidak ada yang paling Indonesia, tidak ada yang lebih Indonesia atau kurang Indonesia. Semua orang Indonesia sama. Sama-sama orang Indonesia.

Wallahua’lam bi ash-shawwab.[]

Advertisements

TRIANGLE LOVE

Adakah yang lebih romantis dari dua insan yang menjaga jaraknya atas nama Allah? Sementara di luar sana ada banyak sekali kawula muda yang bersua di tiap Sabtunya?

Adakah yang lebih indah dari dua insan yang bertemu dalam setiap sujud dan doanya? Sementara di luar sana ada banyak sekali mereka yang lupa padaNya karena bertemu dengan”nya”?

Cukup dengan pertanyaan-pertanyaan retoris.

Betul memang, setiap manusia sejatinya terlahir dengan 1 naluri yang sama, Gharizatun Nau’. Gharizatun Nau’ atau naluri untuk berkasihsayang kepada sesamanya tak akan bisa dihapuskan dari setiap insan dengan sengaja ataupun tidak dan dengan cara apapun. Yang ada, ia hanya bisa diredam atau hanya dikurangi dominansinya pada diri. Naluri ini pun secara alami akan meminta untuk dipenuhi oleh si pemilik hati. Ya, Gharizatun Nau’ memang sebuah karunia dari Ar Rahmaan untuk setiap insan.

Meskipun demikian, kelak di Yaumil Akhir tidak ada orang yang akan ditanyakan mengapa ia memiliki naluri ini dan tidak ada orang yang akan dihisab hanya karena ia memiliki naluri ini. Namun, Sang Rahmaan akan menanyakan dan menghisab bagaimana seorang insan memenuhi naluri ini. Sesuaikah atau justru keluar dari jalur yang sudah ditetapkanNya.

Tidak sedikit insan yang menyalahkan bentangan jarak karena membuatnya terpisah dengan pujaan hatinya. Tidak sedikit pula insan yang menyalahkan waktu karena membuatnya jauh dengan pujaan hatinya. Tapi, apakah kita pernah berpikir bahwa jarak dan waktu merupakan salah satu “senjata” Allah untuk menyayangi hambaNya? Jarak dan waktu bukanlah sebuah hukuman atau halangan. Mungkin Allah hanya tak ingin kita -yang sudah berdosa ini- menambah dosa dengan membiarkan naluri ini berjalan tidak di koridorNya.

Jagalah diri ini agar tidak terjatuh dalam lubang yang terlalu dalam sebelum janji suci terucap. Kita mungkin memang belum tahu siapakah yang akan diberikan Allah untuk kita. Bisa saja, dia sedang melakukan hal yang sama denganmu. Bisa saja, dia sedang bersimpuh di atas sajadahnya dan memohon hal yang sama padaNya. Bisa saja, dia sedang menyiapkan diri menjadi yang terbaik untuk disatukan denganmu kelak. Ya, kita memang tak pernah tahu.

Janganlah gundah kalaupun Dia belum menunjukkan siapa yang pantas untukmu nanti. Janganlah resah jika Dia belum memberikan jawaban atas setiap doa-doa yang kau panjatkan di sepertiga malammu. Yang perlu kita tekuni adalah terus memantaskan diri. Karena sesungguhnya, dia yang akan menemanimu nanti merupakan cerminan dari dirimu. Jika kau baik, baiklah dia. Jika kau buruk, buruklah dia. Jika kau sudah cukup pantas, yakinlah bahwa Dia akan memandu “dia” dengan caraNya yang tak terduga untuk menujumu. Dan jangan pernah lupakan satu hal ini, bahwa Dia, Sang Rahmaan merupakan Zat yang Maha atas segala-segalanya..