Panji Rasulullah

Beberapa waktu terakhir, musuh-musuh Islam gencar mempropagandakan bahwa bendera hitam yang bertuliskan kalimat Laa ilaaha illallahu berwarna putih ini adalah bendera milik teroris. Bendera ini kerap kali muncul di video-video ketika kelompok tertentu terlihat sedang menyakiti bahkan membunuh orang lain. Dan propaganda inipun berhasil menstigmakan pada dunia, bahkan muslim itu sendiri, bahwa bendera ini simbol kekerasan dan terorisme.
Apa benar demikian? Apa benar ini bendera teroris?
Jelaslah tidak. Bendera ini sejatinya adalah panji milik Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dan juga kaum muslimin. Panji yang mempersatukan yg terpisah. Panji yang menyamakan yang berbeda. Panji yang menguatkan yang lemah. Panji inilah yang dinamakan Al Liwa’ dan Ar Rayah.
Ibn ‘Abbas ra. menyatakan “Bendera (Liwa’) Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam berwarna putih dan panjinya (Rayah) berwarna hitam” (HR.  Al Hakim). Ibn ‘Abbas juga menyatakan “Panji Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam berwarna hitam dan benderanya berwarna putih, tertulis padanya: Laa ilaaha illallahu Muhammad rasulullah” (HR. Ath-Thabrani).
Panji ini adalah simbol kekuatan kaum Muslimin. Bagaimana tidak? Ketika panji ini diangkat oleh Rasulullah dan dilanjutkan para panglima, semangat kaum Muslimin sontak menggelora untuk meninggikan kalimah Tauhid. Panji ini pula yang menaungi kalangan bawah seperti Bilal bin Rabbah dengan kalangan atas seperti Abdurrahman bin ‘Auf. Panji ini pula yang menyatukan yang lembut seperti Abu Bakar ash-Shiddiq dan yang tegas seperti ‘Umar bin Khaththab. Panji inilah yang menyatukan kaum Muslimin dari berbagai benua, tak peduli seperti apa latar belakang mereka.
Kaum Muslimin sudah selayaknya tahu, bahwa ini adalah Panji milik mereka. Yang ketika ia berkibar di udara, segala perbedaan melebur menjadi satu atas dasar ‘aqidah Islam. Jangan mudah termakan adu domba mereka para pembenci, karena kekuatan kita ada pada persatuan, persatuan untuk mewujudkan nubuwwah Rasulullah shallalahu ‘alayhi wa sallam dan menggapai ridha Allah semata.

Allahu akbar!

Advertisements

Indonesia Move Up

Setiap mendengar kata “Move Up”, selalu ingat dengan kata-kata Teh Febrianti “Pepew” Almeera, “Move up! Karena move on saja tidak cukup” katanya.
Dan memang ada benarnya. Ketika kita mencoba mengubah sesuatu, maka Move Up lah yang diperlukan, bukan sekedar move on. Meningkatkan sesuatu itulah yang dibutuhkan, bukan sekedar berpindah secara horizontal.
Dan mungkin banyak yang geram, geregetan, kesel, tak habis pikir ketika menyaksikan panggung perhelatan keummatan di negeri ini. Mungkin banyak yang membuat kita berdecak, “Yaa Allah, kok bisa ya kaya gitu?”, “Yaa Allah, ada orang yang kaya gitu banget ya” “Subhanallahu, ngga nyangka ngeliat kasus-kasus yg ada sekarang mah, parah pisan” daaaaan lain-lain.. Tidak sedikit dari para analis yang mengkaji bahwa permasalahan yg dirasakan negeri ini, bukan masalah biasa. Tapi, ia adalah masalah yg timbul dari akar. Ketika akarnya tidak kokoh, apakah pohon nya akan tumbuh baik? Tentu tidak.
Pun dengan Indonesia. Sekulerisme, kapitalisme, liberalisme, dan isme lainnya juga ikut andil dalam masalah-masalah yg ada saat ini. Banyak yg menuntut akan kebebasan, lalu apa artinya syari’at Islam jika demikian? Banyak pula yg menuntut agar agama tak usah dibawa dalam politik kenegaraan, lalu apa artinya fiqh siyasiyah (fiqh politik) dalam Islam jika demikian? Dan, tidak heran, para penggagas dari isme-isme tersebut di masa lalu juga sudah memprediksi bahwa apa yg mereka gagas itu lemah, dan akan berujung pada kealfaan di akhirnya.
Sedangkan, dibalik isme-isme yang pada dasarnya bertentangan dgn Islam tersebut, Islam sendiri sudah menawarkan solusi yang hakiki. Bagaimana mengatur kehidupan bermasyarakat, bagaimana problem solver dari permasalahan ekonomi, bagaimana menjalankan perpolitikan, yang semuanya tak hanya dijalankan karena maslahat, tapi sebagai bentuk ketaatan pada Ilahi Rabbi.
Sudah cukup dengan problematika ini. Sudah saatnya masalah-masalah yg ada diselesaikan dengan Islam. Sudah saatnya semua yang tercerai berai, bersatu lagi di bawah Panji Islam yg sama, Al Liwa’ dan Ar Rayah. Sudah saatnya untuk Indonesia Move Up dengan Syari’ah dan Khilafah agar tercapai Islam Rahmatan Lil ‘Alamin. In syaa Allah, bi idznillah.