Da’wah is not about ‘I am better than you’. But, ‘Hey, I do care about you’.

Advertisements

Gelap

Pernah ada masanya, ketika semua indah berkilau menyinari mata siapapun yang memandang. Tapi, pernah juga ada kala saat semuanya gelap hitam legam, tak bisa menerangi siapa dan apa saja.

Gelap itu memang tak terlihat. Karena memang itulah ia. Tak terlihat apakah ia dalam, apakah ia tinggi, apakah ia jauh, atau ia kecil. Samar.

Siapapun tak bisa melihat apa yg ada di balik kegelapan ini. Kecuali memang mereka yang mencari cara sedemikian rupa hingga akhirnya menemukan celah untuk masuk ke dalam kegelapan itu.

Gelap dan manusia.

Hampir saja dua hal ini menjadi sejoli yang tak terpisahkan. Gelap pasti akan mengikuti manusia dan manusiapun pasti memiliki gelapnya sendiri. Hanya rentang dan cakupannya saja yang berbeda.

Terkadang aku takut akan gelap ini. Bukan karena apa. Semata-mata karena ia tak terlihat. Sesuatu yang di depan masih bisa nampak terang nan indah, tapi begitu melewati pagar pembatas tertentu, tak ada satupun yang bisa melihat.

Aku takut jika tak bisa melihat gelap ini, ketika yang lain masih sangat bisa melihat keindahan dan terang. Duhai..

Banyak orang yang takut akan kegelapan. Padahal tak seharusnya ia ditakuti. Justru bagiku, terkadang kita perlu mencari gelap ini. Semata-mata agar aku bisa mengingat saat-saat terang.

Gelap bukan musuhmu. Meskipun ada kalanya dia seakan menghantuimu, kapanpun dan dimanapun.

Jangan takut dengan kegelapan.

Jangan anggap gelap sebagai sesuatu yang mengerikan.

Bila perlu, carilah gelap di saat kau mampu dan mau, agar terang bisa kau dapati saat kau butuh.

IQRA

Teringat ini merupakan salah satu perintah awal dan penting yg turun kepada Rasulullah oleh Allah. Nabi yg saat itu seorang umi (tidak bisa membaca dan menulis), diperintahkan untuk ‘membaca’ oleh Zat yang Maha Agung melalui perantara Jibril. Kemudian Allah sampaikan pada surah Al ‘Alaq karena ketidakmampuan Rasulullah melakukannya:

إقرأ باسم ربك الذى خلق .

‘bacalah dengan nama Tuhanmu yg menciptakan’.

.


Dari satu ayat pendek itu, saya menyadari betapa pentingnya membaca, bahkan ketika kita sebenarnya tak mampu.
Kemudian, kata orang, buku adalah jendela dunia dan membaca akan membuka dunia. I totally agree. Thayyib, buku atau tulisan juga sekarang sudah banyak sekali macamnya. Membaca tulisan/artikel online pun di era saat ini juga penting, selama bisa dipastikan validitas dan kebenarannya.
Iqra. Bacalah.
Bagi muslim di tengah gempuran zaman nan materialistis dan edan ini, membaca bisa menjadi salah satu wasilah untuk menuntut ilmu dan menguatkan pemahaman kita akan sesuatu. Banyak baca, banyak ilmu, cakrawala luas, diskusipun luwes. Saya sering sekali kagum melihat orang yg menjelaskan sesuatu dengan rinci, detail, sistematis, dan menghujam. “Ilmunya banyak banget. Berapa buku ya yg udah dibaca?” Itu sekiranya pertanyaan yg muncul di benak saya.
Menumbuhkan minat baca, terutama buku atau setidaknya artikel analisis sangat penting bagi kita, khususnya Muslim. Karena dinamika umat dari ‘Amerika ke Indonesia’ saat ini begitu terasa. Ibaratnya, lengah sebentar saja, kita akan terlewat begitu banyak informasi terkait umat. Jadi, bagaimana informasi tentang umat bisa kita dapatkan jika untuk membaca saja kita enggan?
Sekali lagi, bacalah.
Tekadkan diri kita untuk bisa membaca 1 buku atau melahap artikel dalam sekian waktu. Niatkan membaca itu untuk mengupgrade keilmuan kita untuk kemudian ditransfer lagi ke umat. Tanamkan di diri kita bahwa apa yg kita baca sangat mungkin membawa kegemilangan peradaban di masa depan.
Jadi, #JanganMalasBaca!
Penguat diri: “Membaca itu lebih nikmat dari scrolling sosial media 👀”

Filosofi Kopi

Kopi itu ada banyak sekali macamnya, mulai dari yang tubruk ala desa hingga yang di-brew ala kota. Tapi, itu sama sekali tak mengurangi peminat kopi. Karena kopi punya filosofi.

Tidak ada kopi yg tidak pahit. Dan tolong beritahu saya jika ada kopi yg manis. Semua kopi sebelum hingga akhirnya tersajikan di cangkir atau cup, pasti berbubuk hitam atau coklat kehitaman dan rasanya pahit. Tapi, apakah itu membuat kopi dijauhi? Tidak. Bahkan ada segelintir orang yang mendedikasikan hidupnya berkeliling dunia untuk mencicipi berbagai kopi.
Selera penikmat kopi pun bervariasi. Ada yang suka original, ada yang suka ditambah gula, ada yang suka ditambah cream, dll. Semua punya preferensi masing-masing.
Dan inilah filosofi kopi bagi saya.
Hidup manusia itu tidak selamanya mulus, indah, bahagia. Akan ada kalanya ia bertemu dengan masalah, menjalani lika-liku, bahkan penuh peluh dan air mata. Bahkan kata Bapak saya,

Hidup itu kumpulan masalah. Karena itulah ketika bayi lahir ke dunia, ia menangis.

Tapi, apakah itu semua akan menghentikan kita dari menjalani hidup? Orang pintar pasti menjawab, Tidak.
Sama seperti kopi. Siapa yang tidak tahu pahitnya Americano atau Espresso? Tapi masih saja ada yang mau menikmati, karena di sana mereka bisa memilih untuk ‘menambahkan gula dan cream’ untuk ‘membuat enak’ kopi itu.
Pun dengan manusia ketika dihadapkan pada masalah, ujian, kesulitan dalam hidup. Kita bisa memilih bagaimana agar semuanya menjadi indah dan enak dinikmati. Dan hanya kita yang tahu ‘bahan’ apa yang bisa membuatnya enak dan seberapa ‘takaran’ yang dibutuhkan.
Membuat enak masalah hidup itu perlu waktu, sama seperti mencoba kopi hingga akhirnya menemukan takaran yg pas. Berlatih memenej masalah itu dan berusaha membangun mindset “semua pasti bisa dilalui” adalah 2 dari banyak cara yang biasa saya lakukan. Dan saya yakin, siapapun bisa melakukannya.
Bagi yg muslim, selain menemukan cara terbaik menghadapi kesulitan, cukuplah surah Al Baqarah: 286 untuk menguatkan kita dalam menjalani “kopi kehidupan” ini.[]