Gelas Setengah Kosong dan Gelas Separuh Penuh

Dua malam yang lalu, saya diingatkan oleh sebuah materi dari kelas online yang sedang saya ikuti mengenai filosofi gelas kosong. Kita mungkin sudah sering mendengar pentingnya untuk “mengosongkan gelas” saat hendak menuntut ilmu. Gelas di sini tidak bermakna harfiah, tapi lebih kepada kiasan tentang pikiran dan otak. Mengosongkan gelas di sini dimaknai agar kita mudah menerima ilmu yang disampaikan seseorang, terlepas dari apakah kita sudah pernah mendapatkannya sebelumnya.

Membahas ini, saya teringat lagi pada materi awal saat mengaji dulu terkait komponen berpikir manusia yang empat, yakni fakta, panca indera, otak, dan ma’lumat sabiqah. Empat komponen yang diulang berkali-kali saat forum melingkar, yang akhirnya menempel menjadi pemahaman, karena kebenarannya memang terbukti juga oleh akal.

Saya mungkin akan fokus pada komponen pertama dan keempat saja: fakta dan ma’kumat sabiqah. Dua komponen ini, sadar atau tidak sadar, akan menentukan bagaimana kesimpulan yang dapat diambil oleh seseorang. Semakin akurat kesimpulan, boleh jadi dipengaruhi oleh kayanya fakta dan ma’lumat yang dimiliki orang tersebut. Memangnya hanya fakta dan ma’lumat sabiqah saja yang berpengaruh pada kesimpulan? Tentu saja tidak. Aktivitas pengaitan kedua komponen ini juga menjadi determinan berikutnya, yang lagi-lagi, kemampuan pengaitan keduanya, dipengaruhi oleh fakta serta ma’lumat sabiqah tadi.

Bingung? Jadi begini..

Saya beberapa kali mendapatkan pertanyaan seperti, “kok bisa mikir sejauh itu?”, “gimana hubungannya terus hasilnya bisa begitu?” dst… Kalau diamati, pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang berkutat pada aktivitas pengaitan fakta dan ma’lumat sabiqah tadi.

Di berbagai kesempatan, saya berusaha menyampaikan agar kita mencari ma’lumat sebanyak-banyaknya. Semakin kaya ma’lumat yang kita miliki, maka bekal untuk menghasilkan kesimpulan yang bernas, analisis yang akurat, pemikiran yang tinggi pun semakin banyak, tentu saja disokong dengan melatih kemampuan tersebut juga, ya.

Membaca buku, artikel, menonton video dan mendengar audio informatif adalah berbagai cara untuk memperbanyak ma’lumat. Adapun fakta, di sini ia berfungsi sebagai sesuatu yang hendak kita hukumi, kita nilai, kita timbang. Dengan apa? Ya dengan ma’lumat tadi.

Di masa disruptif hari ini, tidak sedikit orang yang berat untuk memperkaya ma’lumat dan memperbanyak fakta, karena informasi yang disajikan kepada kita hari ini, ya terlalu mengganggu, bahkan banyak yang merusak cara berpikir.

Aktivitas menuntut ilmu, menyampaikannya, mengikuti berbagai fakta yang ada, bagi saya pribadi adalah hal yang linier dan berkaitan satu sama lain. Perkara gelas di awal tadi, saya posisikan sebagai perspektif kita terkait otak. Apakah dia setengah kosong atau separuh penuh, itu bergantung pada bagaimana kita “mengisi gelas” tersebut saja. Dan di tengah problematika yang kian edan hari ini, membuat gelas separuh penuh saya rasa bukan opsi yang tepat untuk kita lakukan, karena, kenapa harus separuh jika memang kita bisa benar-benar membuatnya penuh? 😊

© Iranti Mantasari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: