Akademisi Mukhlis Tak Bisa Dibeli

Oleh: Iranti Mantasari, BA.IR
Mahasiswi Pascasarjana Kajian Timur Tengah UI

Tak dapat diungkiri, siapapun yang mengikuti perkembangan dan dinamika negeri ini, akan mendapati fakta bahwa suasananya semakin hari semakin panas. Hal ini memang belum tentu dirasakan oleh semua, tetapi tidak sedikit mereka yang peduli dengan kondisi negeri ini justru semakin mampu melihat bahwa ada sesuatu yang salah sedang berlangsung di negeri ini.

Seperti fenomena yang menimpa salah satu Guru Besar Hukum Universitas Diponegoro (UNDIP), Prof. Suteki, ia telah disidang etis oleh Dewan Kehormatan dan Kode Etik (DKKE) atas dugaan dukungannya terhadap salah satu ormas Islam yang akhir ini kerap menjadi sorotan, yakni Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Hal ini juga berujung pada keputusan untuk membebastugaskannya dari jabatan sebagai Kaprodi MIH, Ketua Senat FH, dan anggota senat UNDIP. Padahal jika diperhatikan lebih jauh, cuitan yang diutarakannya lebih pada mengajak publik untuk menelaah apa yang sesungguhnya terjadi pada negeri ini.

Melalui cuitannya di sosial media tersebut, Prof. Suteki disinyalir oleh civitas UNDIP sebagai anti-Pancasila dan anti-NKRI, meskipun ia merupakan dosen yang telah mengajar Filsafat Pancasila selama puluhan tahun. Tersebab peristiwa ini, Prof. Suteki mengatakan ada upaya untuk membunuh karakternya (character assasination) yang dilakukan oleh publik. “Ini justru saya malah seperti dihakimi. Trial by the press. Dan saya mengalami character assasination dari pemberitaan media selama dua hari ini. Apa yang saya tuliskan itu tentang HTI adalah penilaian pribadi saya, dari kacamata hukum dan kemanusiaan saya.” ungkapnya pada CNN Indonesia (24/5).

Tentu apa yang dialami oleh Prof. Suteki merupakan sebuah ironi terhadap dunia akademik. Dunia akademisi dikenal sebagai dunia yang objektif, yang bebas dari tekanan luar dan subjektivitas. Prof. Suteki berusaha menyampaikan bahwa Khilafah yang disuarakan oleh HTI itu tidak bertentangan dengan Pancasila menurut dasar keilmuan yang ia miliki.

Pihak pemerintah yang terlihat gigih menyalahkan Khilafah yang merupakan salah satu ajaran dalam khazanah Islam menunjukkan sebuah upaya pembungkaman, meskipun ia dilontarkan dari lisan seorang akademisi yang dari segi ilmunya mumpuni dalam membahas masalah itu. Jika diibaratkan, pihak-pihak yang berusaha mencitraburukkan Islam ini seperti melihat sesuatu yang salah di dalam kegelapan, tapi tak bisa melihat juga ketika terang.

Catatan untuk Para Akademisi

Melalui ilmu yang dimiliki, akademisi sebagai sosok intelektual umat tentu memegang peran yang penting untuk mengedukasi dan memahamkan umat dalam banyak aspek kehidupan. Akademisi sejatinya merupakan harapan umat, karena dari merekalah umat bisa mendapatkan pencerahan dan solusi atas berbagai problematika yang terjadi di sekitarnya.

Akademisi, baik itu dosen, guru, mahasiswa, maupun pelajar lainnya sering disebut sebagai agent of change atau agen perubahan. Dari merekalah perubahan itu dapat bermula, dari mereka pulalah kebangkitan pemikiran umat dapat dimulai. Mengingat strategisnya peran yang mereka pegang, jangan sampai para akademisi ini berubah menjadi agent to be changed, yakni agen untuk dirubah. Jika frasa kedua yang berlaku, maka tidak menutup kemungkinan mereka akan dijadikan “pembenar” atas kesalahan yang dilakukan pihak hitam.

Khususnya bagi akademisi Muslim, sepatutnya ideologi Islam benar-benar terinstall dalam dirinya, bukan sekedar idealisme semu belaka. Akademisi idealis belum tentu menjadi sosok yang disokong oleh Islam di belakangnya. Berbeda dengan ideologi Islam yang terinternalisasi pada diri seorang akademisi, maka itu akan membuatnya menjadi akademisi yang idealis, karena mereka telah menetapkan Islam sebagai idealismenya.

Akademisi yang ideologis ini menjadi urgen untuk ada di tengah-tengah umat. Mereka ikhlas bersuara untuk memberikan perbaikan terhadap kondisi umat tanpa harus diiming-imingi harta. Pemerintah dan publik secara umum seharusnya menyambut baik keberadaan akademisi yang melihat suatu masalah dengan kacamata ideologi Islam, bukan kacamata kepentingan ataupun yang lainnya, dan bukan justru mengadilinya secara irasional karena memiliki perbedaan pandangan.

Setiap akademisi harus memahami betul peran krusialnya untuk masyarakat. Jangan sampai akademisi menjadi corong bagi pihak yang senantiasa menyetir orang lain guna tercapai kepentingannya. Sesuatu yang benar harus disampaikan tanpa harus dikurang-kurangi atau dilebih-lebihkan. Pun apa yang salah harus ditunjukkan juga kepada publik.

Jika akademisi bungkam terhadap kebenaran disebabkan berbagai tekanan pihak luar, adanya bujukan terkait kepentingan semu, maka saat itu pulalah dunia ini kehilangan sosok yang dapat menyalakan lilin dalam gelapnya malam, yang dapat mencerahkan umat di tengah simpang siurnya kebatilan dan kebenaran.

Islam sebagai ideologi dan pemecah setiap masalah kehidupan adalah suatu hal yang mutlak untuk disampaikan ke khalayak. Islam sebagai sebuah agama serta ajaran yang paripurna juga harus terus digaungkan agar umat paham kesempurnaan Islam. Oleh sebab itu, akademisi ideologis tak bisa digoyahkan dengan ancaman apapun. Akademisi ideologis juga tak akan bisa dibeli oleh harta sebanyak apapun, karena mereka sejatinya telah bertransaksi dengan Allah sejak syahadatain terlafazkan dari lisan mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: