DNA Generasi Pejuang

photo_2018-01-07_18-57-05

Penulis: M. Iwan Januar
Penerbit: Al Azhar Fresh Zone
Tahun: Maret 2017 (cet. pertama)
Halaman: xvi + 140
Genre: Parenting Islam

“Ketakwaan orang tua tidak otomatis membuat anak jadi bertakwa.”

Satu kalimat itu yang saya highlight ketika mulai membaca buku ini. Anak-anak mungkin memang akan mendapat DNA genetis dari orang tuanya, tetapi perkara takwa, tentu bukan hal yang diturunkan. Andai saja ketakwaan orang tua itu bisa diwariskan ke anak-anak mereka, maka kisah Nabi Nuh ‘alayhissalaam cukup untuk mematahkan pernyataan tersebut. Bahwa, ketakwaan dan ghirah Islam harus diajarkan, bukan turunan genetis.

Buku ini terdiri dari 13 pembahasan yang menggunakan bahasa sehari-hari, namun sekaligus bisa ‘menampar’ para orang tua dan calon orang tua yang membacanya. Ada beberapa kesalahan pendidikan anak yang disebutkan di dalam buku ini, salah satunya adalah lalainya orang tua pengemban dakwah Islam dalam mentarbiyah anak-anak mereka untuk juga menjadi pejuang Islam. Masih ada orang tua yang begitu peduli dengan umat, tapi terkadang lupa bahwa anak-anak mereka juga memiliki hak untuk dididik langsung oleh pejuang Islam, bukan sekedar disekolahkan di institusi formal.

Tidak hanya itu, buku ini juga menggambarkan tantangan yang kemungkinan akan dihadapi oleh para orang tua hamlud da’wah. Kerasnya arus modernisasi dan masifnya paham-paham bathil yang masuk ke lingkungan tempat anak-anak kita berinteraksi, sedikit tidak bisa memengaruhi mereka jika saja para orang tua lengah terhadap mereka. Anak-anak yang hedonis, materialistis, tak kenal perjuangan para ‘anbiya dan ‘alim ‘ulama, dan jauh dari ilmu Islam merupakan potret nyata anak-anak yang ada di sekitar kita saat ini. Sedihnya, hal-hal seperti itulah yang bisa menjadi ‘virus berbahaya’ bagi anak-anak kita kelak.

Bahwa anak juga adalah mad’u utama yang seharusnya dibina oleh orang tua. Itu juga yang ditekankan oleh penulis dalam buku ini. Bahwa para orang tua dan calon orang tua pengemban dakwah serta pejuang syariah Islam, tentulah menginginkan anak-anak yang mereka didik juga memiliki darah pejuang itu di dalam diri mereka. Bahwa para orang tua ‘haram’ untuk menjadi apatis terkait pendidikan anak-anaknya nanti. Semangat perjuangan itu tak akan bisa dirasakan oleh anak-anak kita jika tak ada yang mengajarkan dan mengobarkan semangat itu.

Salah satu pembahasan di buku ini, “Wariskan Ghirah pada Mereka” adalah salah satu pembahasan yang penting untuk diresapi oleh para orang tua dan calon orang tua. Anak-anak tidak akan tau bahwa muslim di seluruh dunia itu bersaudara, jika kita tak pernah mengabarkannya. Mereka tidak akan tahu bahwa kita seharusnya merasakan sakit ketika kaum muslimin di Suriah, Rohingya, Palestina dibantai oleh musuh-musuh Allah. Mereka juga tidak akan tahu mengapa mereka harus menjadi bagian dari barisan pejuang agama Allah jika kita tak pernah memberitahu mereka seperti apa itu kemenangan hakiki di dalam Islam. Orang tua pengemban dakwah harus menjadi pemeran utama dalam menjelaskan perjuangan Islam kepada mereka, sebelum informasi-informasi bathil lah yang mereka terima lebih dulu.

Buku ini saya rekomendasikan bagi siapapun orang tua, juga para calon ummi dan abi di manapun berada, yang menginginkan kelak anak-anak mereka menjadi pewaris perjuangan agama Allah. Agar para orang tua tahu apa saja yang harus mereka lakukan dalam mewariskan DNA generasi pejuang itu kepada anak-anak mereka. 5 bintang dari 5 bintang saya berikan untuk buku ini. Wallahu a’lam bishshawwab.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: