Mini Maktabah

Belajar Mencintai Buku

Buku memang akan selalu mendapat tempat di hati penikmatnya. Tak peduli bagaimana canggihnya teknologi dan pengetahuan-pengetahuan baru yang kini sudah ditemukan, buku tetap akan bisa dinikmati oleh pencintanya. Masalahnya sekarang adalah tidak banyak orang yang konsisten dalam mencintai buku di tengah gempuran techno-gadget nan mutakhir saat ini. Banyak yang dulunya mungkin dalam satu hari bisa melahap setengah bahkan satu buku, namun kini menyentuh buku saja tidak sempat, karena sibuk berselancar di dunia maya. Ditambah lagi, hadirnya e-book yang tetap bisa menyalurkan kecintaan pembaca pada buku meski di waktu yang bersamaan juga tetap bersama dengan gadget tercinta.

Pendapat saya pribadi, buku memang memiliki porsi berbeda dengan bacaan-bacaan lain, terutama jika disandingkan dengan bacaan virtual di media elektronik ataupun sosial. Saya dulu memang bukan seorang pecinta buku, bisa baca sampai setengahnya saja sudah hebat. Menghabiskan satu buku adalah prestasi besar bagi saya. Tapi, semakin ke sini, saya semakin menyadari pentingnya interaksi antara kita dengan buku. Porsi yang kita berikan pada buku saat ini jauh di bawah porsi yang kita berikan pada teknologi. Saya menemukan suatu hal yang sangat ‘wow’ dari buku, yaitu betapa di dalam 1 buku bisa mengandung banyak sekali pengetahuan baru yang mungkin otak kita sebenarnya haus akannya.

Entah kenapa, ada sensasi berbeda yang saya rasakan ketika membaca buku dibanding dengan membaca bacaan virtual via handphone/ komputer. Saya sampai sekarang belum menemukan alasan ilmiahnya apa. Tapi, yang jelas, perbedaannya benar bisa saya rasakan. Mungkin itulah juga alasannya mengapa kaum Muslim terdahulu begitu mencintai buku. Bahkan, di zaman Kekhilafahan, para penulis buku akan diapresiasi oleh negara dengan emas seberat buku yang ia tulis. WOW!

Saya juga teringat perkataan dosen saya yang juga seorang mantan diplomat negeri ini: “Read. Write. Speak” kata beliau. Tiga aspek itu menurut saya sangat penting dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Hemat saya, itu adalah tiga senjata ampuh dalam berdakwah. Pertama, kita mencari ilmu atau materi yang bisa juga didapat melalui membaca, kemudian seperti nasehat Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA kita mencoba mengikat ilmu tersebut dengan menuliskannya, dan tetap pada akhirnya kita harus menyampaikan ilmu itu pada orang banyak sebagai bentuk nyata atas seruan berdakwah. Luar biasa sekali. 3 kata saja tapi filosofinya begitu dalam.

Karena dasar itulah, saya yang masih sangat berproses dalam belajar untuk mencintai buku, merasa perlu melakukan sesuatu agar bisa membuat diri ini istiqamah “Iqra”. Keinginan untuk membaca buku itu selalu ada, tapi terkadang untuk merealisasikannya butuh usaha lebih dan bahkan tak jarang berakhir pada wacana saja. Meskipun di saat yang bersamaan, saya menyadari bahwa dengan membaca buku akan membuat waktu saya menjadi lebih bermanfaat. Hal itu tidak patut untuk ditiru, ya.

Kemudian, beberapa waktu yang lalu, saya terpikirkan akan suatu ide kecil. Ide kecil ini berawal dari habisnya kuota internet saya di handphone. Hampa memang rasanya (astaghfirullah). Tapi, dari habisnya kuota internet itu, saya jadi bisa melihat peluang besar untuk bisa membaca buku, karena pasti saya tidak akan disibukkan untuk buka tutup aplikasi-aplikasi di handphone dan scrolling timeline/news feed. Handphone dan media sosialnya memang adalah musuh terbesar bagi buku. Dan tentu kemalasan dari diri kita sendiri *peace*…

Ide kecil tersebut adalah, melalui blog ini, saya akan menambah tab baru di atas, yaitu “Mini Maktabah”. Mini Maktabah ini kurang lebih artinya adalah ‘Perpustakaan Kecil’, saya ambil dari dua bahasa sekaligus: Bahasa Inggris dan Bahasa Arab yang menurut saya merepresentasikan minat saya dalam berbahasa asing. Di tab Mini Maktabah ini, saya akan mencoba mempublish resensi dari buku-buku yang sudah pernah saya baca. Dengan begitu, semangat saya bisa lebih terjaga untuk terus membaca buku dan mengikat bacaan saya melalui resensi-resensi yang akan saya tulis nantinya. Jujur, saya memiliki cukup banyak buku di rak di kamar. Tapi, selama ini hanya saya susun rapi dan dilap saja dari debu-debu. Forgive me, Books.

Soooooo, from this very occasion, I would like to say Bismillah to start and make this little idea comes true. Believe me, the more time we spend with book, the better life’s quality we will have! Cintai buku, cintai ilmu. Karena para ‘Ulama saja yang notabenenya sudah berilmu, tidak pernah usai dan berhenti dalam mencari ilmu tersebut, termasuk melalui membaca kitab-kitab Para Guru. Thus, I personally hope that this little project could strengthen my interest in books and what I publish through this blog would bring people and ummah into a higher rate of literacy. Jangan Malas Baca!

Bismillahirrahmanirrahim…

(((Gunting Pita Emas)))

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s