Islam · World

Khilafah: Antara Ketakutan Barat dan Kerinduan Muslim

Oleh Iranti Mantasari (Sarjana Hubungan Internasional)

Kata Khilafah akhir-akhir ini telah menjadi perbincangan hangat masyarakat, mulai dari yang awam hingga para qawwam. Bagaimana tidak, semenjak penguasa negeri ini mengumumkan rencana untuk membubarkan salah satu jama’ah dakwah Islam yang paling getol menyuarakan ide Khilafah di negeri ini, yaitu Hizbut Tahrir Indonesia, bak gaung bersambut, baik media elektronik dan cetak seperti terkomando secara otomatis untuk memberitakan ini, terlepas dari framing positif ataupun negatif yang dicoba dibentuk.

Khilafah sebenarnya bukan kosa kata baru, terlebih bagi kaum muslimin. Karena Khilafah sejatinya adalah salah satu ajaran di dalam Islam. Pembahasan terkait Khilafah juga sebenarnya sudah ada semenjak Wali Songo rahimahumullahu berdakwah menyebarkan Islam di nusantara. Bisa dilihat dalam kitab Kanzul ‘Hum yang ditulis oleh Ibn Bathuthah bahwa Wali Songo adalah utusan yang dikirim oleh Sultan Muhammad I dari Kekhilafahan Utsmani di Turki. Hanya saja, masih banyak yang belum membuka diri untuk menerima eksistensinya di dalam Islam. Bahkan, jika mau menelisik lebih jauh lagi, Khilafah sudah menjadi buah bibir bagi peradaban Barat ketika mereka masih saling memperebutkan pengaruh pada masa Perang Dunia.

Ya, posisi Khilafah di zaman kontemporer ini memang berada di antara dua kubu yang selalu berseberangan: Barat dan Islam. Khilafah di sisi Islam adalah sebuah kepemimpinan politik borderless yang akan menaungi seluruh kaum secara adil dan menyeluruh, baik Muslim maupun non Muslim untuk diatur dan diayomi melalui penerapan syariat-syariat Islam yang bersumber dari Alquran dan Sunnah Rasulillah. Karena ia adalah sebuah kepemimpinan politik, maka jelaslah peranannya tidak berbatas pada pengaturan ibadah ritual saja, melainkan politik dalam dan luar negeri, ekonomi, sosial, keamanan, pertahanan, hukum, hingga militer. Hal ini sudah barang pasti dianggap sebagai suatu rival bagi kedigdayaan peradaban Barat. Oleh karena itu, bukan suatu hal yang aneh ketika Barat akan mengambil upaya-upaya strategis dan politis untuk memberangus keberadaan rivalnya ini di muka bumi. Lord Curzon (Menteri Luar Negeri Inggris di era 1920-an) bahkan menyatakan responnya terkait penghapusan Khilafah Utsmani pada tahun 1924, ‘Situasinya sekarang adalah Turki sudah mati dan tidak akan bangkit kembali, karena ktia sudah menghancurkan kekuatan moralnya, yaitu Khilafah dan Islam.’ (terj.)

Kita saat ini mungkin sering mendengar terorisme dan ISIS yang begitu gencar disuarakan oleh media mainstream. Para analis strategi dan politik pun sudah banyak yang membahas bahwa keberadaan terorisme dan ISIS yang menyuarakan ‘Khilafah’ sebenarnya adalah instrumen yang diciptakan oleh Barat (Amerika Serikat) itu sendiri. Garikai Chengu menyatakan dalam artikelnya yang berjudul “America Created Al-Qaeda and The ISIS Terror Group” yang dimunculkan oleh platform Global Research di tahun 2017: ‘Seperti Al-Qaeda, ISIS dibuat oleh Amerika Serikat. Sebuah instrumen teror yang didesain untuk membagi dan menaklukkan Timur Tengah yang kaya akan minyak dan untuk melawan perkembangan pengaruh Iran di kawasan.’ (terj.)

Keberadaan ISIS inipun dijadikan ‘motif rasional’ oleh Amerika untuk kembali menjalankan kebijakan ‘Global War on Terrorism’ yang sudah dimulai tahun 2001 saat pemerintahan George W. Bush. Alasan inilah yang menjadi justifikasi bagi Barat dan sekutunya untuk membombardir negeri kaum Muslim, terutama di Timur Tengah dan untuk mencitraburukkan keberadaan Khilafah yang acapkali dikaitkan dengan terorisme barbar bagi kaum muslim itu sendiri. Tujuan dari agenda ini tidak lain adalah untuk mendegradasi ide Khilafah sehingga dunia termasuk muslim di dalamnya menjadi takut dan anti akan penegakannya kembali.

Padahal, kalau kita melihat dari sisi kaum muslim itu, Khilafah adalah sebuah urgensi untuk mengatasi problematika yang menyerang umat dari segala arah. Khilafah-lah instrumen politik yang akan mampu menangkis propaganda-propaganda busuk Barat itu. Khilafah, selain sebagai mu’allajan musykilan atau problem solver juga pada hakikatnya adalah wadah praktis dalam melaksanakan perintah Allah untuk menerapkan syariat Islam di dalam kehidupan.

Umat yang saat ini tengah dilanda krisis moral sebagai akibat dari ditancapkannya sekulerisme dalam kehidupan sehari-hari, nyawa-nyawanya seakan tak berharga karena diserang secara fisik dan brutal oleh para pembenci Islam, propaganda pemecahbelahan di internal kaum muslim oleh mereka yang meniscayakan perpecahan merupakan fakta-fakta yang tak dapat dipungkiri dan begitu jelas terindera oleh mata ini. Hal-hal ini sebenarnya sudah terbaca oleh mereka (muslim) yang bahkan awam terkait masalah keummatan, namun berakhir pada kepragmatisan untuk hanya tinggal diam karena merasa itu bukan masalah baginya. Mereka seakan tertutup pikirannya bahwa belum ada solusi hakiki yang mampu menyelesaikan seluruh problematika umat tersebut. Mereka sebenarnya menyimpan kerinduan kecil akan diterapkannya kembali syariat Allah agar segala urusan mereka menjadi mudah dan berkah, tapi seperti tak berdaya untuk menyuarakan kerinduan mereka itu.

Khilafah sejatinya sudah menghimpun kerinduan tersendiri pada kaum muslimin yang ingin dirinya diatur dengan kalimatullah. Khilafah jugalah yang sebenarnya diinginkan oleh umat yang merindukan kedamaian, keamanan, dan keadilan dalam tataran kehidupan bermasyarakat. Khilafah yang kini menjadi ‘trending topic’ seyogyanya adalah tuntutan umat yang sangat mengecam perpecahan dalam berbangsa dan beragama. Khilafah-lah yang saat ini menjadi dambaan hakiki ‘khayru ummah’ ini yang rindu akan janji Allah dan bisyarah kekasihNya, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam.

Cukuplah ayatNya ini untuk menguatkan kita bahwa syariat Islam adalah suatu keharusan bagi kita yang mengaku Muslim: “dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu, jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang fasik.” (TQS. Al Ma’idah: 49).
Wallahu a’lam bishshawwab.[]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s