Islam · Random

Bersama Itu Lebih Indah

Dulu, sebelum mengenal Islam lebih dalam, saya mungkin hanya seseorang yg berKTPkan Islam. Tapi perangai, sikap, perilaku sangat jauh dari Islam. Bahkan mungkin teman-teman semasa SMP-SMA tahu bagaimana saya dulu (semoga Allah ampuni kelalaian saya waktu itu). Berhijab seadanya, shalat sekenanya, puasa tanpa tau esensi dasarnya apa, dan ibadah-ibadah lain yang mungkin saya lakukan tapi sepi dalam jiwanya (semoga Allah terima ibadah saya sebelum berIslam lebih dalam). Kemudian, pada tahun 2013 sebelum pelaksanaan Ujian Nasional, Allah berkenan turunkan hidayahNya untuk saya, hidayah yang mungkin belum semua orang mendapatkannya. Hidayah yang ternyata mencerahkan hidup saya dan menjadi titik balik kehidupan saya berikutnya. Dan untuk menjaga hidayah itu agar tak lepas, saya memilih untuk belajar berIslam sebenar-benarnya.

Semua itu tak lepas pula dari peran seseorang yang penting, yaitu kakak saya satu-satunya. Tanpa paksaan, dia yang juga baru berIslam lebih dalam tak lama sebelum saya ini, dengan perlahan mengajak saya untuk mengenal Islam lebih jauh lagi. Hingga akhirnya di 2014, saya akhirnya bertekad untuk mengkaji Islam secara intensif di Hizbut Tahrir Indonesia. Dari Hizb-lah, saya tahu bahwa Islam itu sempurna dan paripurna. Bahwa Allah mengatur sedemikian rupa kelangsungan hidup hambaNya dengan Islam. Bahwa Islam bukan hanya agama ritual, namun ia adalah sebuah ideologi yang dengannya politik kenegaraan, ekonomi, interaksi manusia, mu’amalah, dll akan tertata dengan teratur. Bahwa problematika ummat memiliki Islam sebagai solusinya.
Yes. We did fight. We did argue. And we did debate like sisters in common. But, more than that, dia selalu terdepan mengingatkan saya untuk teguh dan istiqamah mengkaji dan mendakwahkan Islam. Dia down, saya coba kuatkan. Saya futur, dia yg coba mensupport dari belakang.
Dan entah bagaimana jika kami harus jalan sendiri-sendiri, tanpa ada jama’ah yg menemani, tanpa ada saudara yg memuhasabahi. Mungkin kita dan saya pribadi hanya akan menjadi selembar daun yang akan tertitup angin tak tentu.
Dengan bersama pula, saya yakin banyak perubahan yg bisa dibuat untuk agama, ummat, dan negeri yang sedang gonjang-ganjing karena kekufuran global saat ini. In syaa Allah bi idznillah.

Lombok, 10 Mei 2017

Iranti Mantasari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s