Random

Aku dan Bima (Part 2)

*****

Penerbangan yang kuambil adalah penerbangan pukul 10 WITA. Tapi qadarullah, penerbanganku ditunda karena kendala teknis, katanya. Untuk membunuh waktu, aku bercengkerama dengan salah satu ustadzah yang juga bertolak ke Bima sembari mengerjakan research kecil-kecilanku. Sekitar pukul 11 WITA, penerbanganku diumumkan akan segera berangkat sehingga kami dipersilakan untuk menaiki pesawat. Satu jam berlalu, dan voila! Aku sampai di bandara Sultan Salahudin di Bima. Alhamdulillahi rabbil ‘aalamin.

Setibanya aku di rumah kakakku, ia langsung mengabarkan bahwa aku harus ikut hadir dalam acara pernikahan temannya sekitar pukul 2 siang. Siang itu, hujan yang cukup deras turun di lokasi dan sempat membuat panitia acara sakral itu heboh bukan kepalang, karena catering dan terop yang tersedia terguyur hujan. Kamipun berteduh di rumah mempelai wanita sesaat setelah akad nikah dilangsungkan. Hari sudah menjelang petang, kakakku mengabarkan ibu mertua nya agar menjemput kami kesana karena kami berangkat menggunakan sepeda motor. Setelah motor kami pastikan untuk dititip di rumah sang mempelai tadi, aku dan kakakku dijemput pulang oleh Mamak, ibu mertua kakakku tadi.

Hingga masuk waktu maghrib, hujan tadi belum juga berhenti, hanya mereda saja intensitasnya. Sejak itu, kakak dan iparku mulai berkemas, khawatir akan terjadi banjir seperti 3 bulan lalu. Aku yang kelelahan karena belum sempat istirahat sejak tiba di Bima pun mencoba mencuri waktu, sekedar untuk tidur sebentar. Sempat terlelap, ketokan pintu kakakku membangunkanku, “Ti, siap-siap. Listriknya udah dimatiin.” Aku yang masih setengah sadar bertanya-tanya ada apa. Dan ya, itu pertanda air sudah meluap di beberapa kawasan. Secepat mungkin aku bersiap dengan barang-barangku yang untungnya masih di dalam koper. Aku berniat melihat bagaimana suasana di luar, dan itu pertama kalinya aku melihat air yang cukup deras mengalir di depan rumah. Sementara kakakku masih mempersiapkan sedikit barang-barang yang dirasa perlu dan penting, aku dan iparku sudah heboh agar meminta kakakku lebih cepat karena air sudah masuk ke teras rumah. Entah bagaimana perasaanku saat itu. Sebelum air meninggi, kami meninggalkan rumah dan melawan arus banjir yang ternyata sudah setinggi lututku dengan hanya bermodalkan senter dari handphoneku. Iparku menjinjing koper dan ransel di punggungnya, aku mengangkat koper dan tasku sendiri, sedangkan kakakku hanya membawa tas jinjingnya karena khawatir ia keberatan dengan kondisi kehamilan 9 bulan. Segera kami meninggalkan komplek rumah itu, dan ternyata air belum sampai di Rumah Sakit tempat iparku bekerja. Aku dan kakakku bermalam di ruang jaga dokter di sana dengan kondisi gamis dari lutut ke bawah basah tak terselamatkan. Sedangkan iparku malam itu berjaga sebagai salah satu Tim Tanggap Bencana. Kami belum bisa menghubungi mertua kakakku karena terkendala jaringan. Namun, kami tahu bahwa daerah rumah mertua kakakku itu alhamdulillah aman dari banjir.

Kedatanganku disambut oleh banjir, ungkapku.

Begitu suasana lebih kondusif, aku berusaha untuk menelepon Ibuku di Lombok dan mengabarkannya sembari memohon doa agar semuanya baik-baik saja. Dengan berbekal roti bungkus dan snack yang ternyata ada di dalam ranselku, aku dan kakakku berusaha berbagi untuk sedikit mengenyangkan diri. Begitu pagi menjelang, alhamdulillah aku mendengar kabar bahwa banjir semalam sudah surut. Untung saja, banjir kali ini tidak separah banjir 3 bulan sebelumnya, yang sempat melumpuhkan Kota Bima.

Berkat ini, list kisah di dalam hidupku menjadi bertambah. Tidak melulu yang enak-enak saja. Dan untuk itu, aku merasa sangat bersyukur karena masih diberikan kesehatan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. 

*****

Hampir satu minggu berlalu sejak banjir itu, aku, kakak, dan iparku akhirnya tinggal di rumah mertua kakakku dulu. Aku sudah mulai beradaptasi lagi dengan tempat yang baru, karena sebelumnya juga aku selalu menginap di sini ketika berkunjung ke sini. Hari Sabtu pagi, tepatnya tanggal 1 April, aku tertidur setelah shalat subuh. Iparku mengetok pintu kamarku dan memintaku bersiap-siap. Tapi, karena menurutku tidak ada sesuatu yang urgent, aku kembali melanjutkan ke peraduan kasurku. Hingga akhirnya Mamak yang mengetok pintu kamarku dan mengatakan, “Ayo nak, kita sudah mau ke Rumah Sakit.” Sejenak aku mencoba mencerna maksud perkataan Mamak tadi dan aku baru menyadari bahwa kakakku akan segera melahirkan. Segera aku menyiapkan segala sesuatunya dan menengok kakakku di seberang kamarku, ternyata ketubannya sudah pecah. Sekitar pukul 06.30 WITA, kami berangkat menuju Rumah Sakit setelah semua perlengkapan Si Bayi dan yang lainnya sudah siap.

Setibanya di Rumah Sakit, alhamdulillah masih ada bed di Kamar Bersalin untuk kakakku, karena beberapa waktu setelah kakakku masuk, datang lagi beberapa Ibu yang akan melahirkan juga. Ibuku di Lombok tak lupa kami kabarkan bahwa kakakku akan segera melahirkan. Beliau memutuskan untuk terbang ke Bima hari itu juga dengan penerbangan siang, meskipun harga tiketnya lebih mahal sekitar 600 ribu dari biasanya untuk sekali jalan.

Hingga Ibuku tiba di Rumah Sakit siang itu, kontraksi yang dirasakan kakakku belum terlalu kuat meskipun air ketubannya hampir habis. Sekitar ba’da ashar, barulah kakakku mulai merintih kesakitan karena kontraksi yang dirasakannya. Namun, bukaan lahirannya masih di bukaan 1, belum ada kemajuan sejak pagi tadi. Karena kontraksi yang dirasakan semakin kuat, iparku yang juga dokter di Rumah Sakit itu memeriksa kembali kakakku ba’da maghrib dan menyatakan belum ada kemajuan lagi. Dari situlah, pernyataan “Belum nambah lagi mi, operasi aja ya” keluar dari lisan iparku dan disambut dengan anggukan dari kakakku yang memang kecil kemungkinannya untuk bersalin normal. Dokter yang lainnya ditelepon dan persiapan administrasi untuk operasi juga disiapkan. Operasi disetujui akan dilaksanakan pukul 20.00 WITA. Jika dihitung-hitung, sudah lebih dari 12 jam sejak kakakku tiba di Rumah Sakit dan Si Bayi belum juga menunjukkan tanda akan keluar.

Keluarga mulai berdatangan. Akhirnya sekitar pukul 20.45 WITA, kakakku dibawa ke ruang operasi. Aku dan Ibuku yang cukup lelah mendampingi sejak tadi, tertidur di salah satu bed di kamar sembari menunggu kakakku berjuang di ruang operasi. Aku terbangun hampir pukul 23.00 WITA ketika para perawat datang bersama kakakku, iparku, dan keponakanku. ALHAMDULILLAH. Sontak air mataku hendak keluar rasanya saat melihat bayi mungil yang dinantikan sudah ada di depan mata. Kakakku yang menggigil karena dinginnya ruang operasi juga tak bisa menyembunyikan wajah bahagianya melihat putra pertamanya sudah terlahir ke dunia.

*****

Muhammad Fatihurrum namanya. Kami memanggilnya Fatih yang keseluruhan namanya memiliki makna si Penakluk Roma. Muhammad disematkan di depan namanya sebagai bentuk cinta pada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam. Dialah yang sudah kunantikan selama 9 bulan lamanya, yang kakakku menyadarinya dengan memberikanku foto-foto hasil USG dan video ketika Fatih bergerak di dalam rahim kakakku.

Satu harapku untuk Fatih, semoga kelak ia tumbuh menjadi anak yang benar bisa mewujudkan makna namanya. Menjadi seorang anak yang shalih, faqih dalam urusan agama, taat pada kedua orangtuanya dan juga agama, cinta pada Allah dan RasulNya. Kholah sangat mencintaimu sejak kau belum terlahir di dunia ini. Dan Fatih inilah pelengkap cerita yang mampu kuabadikan sebagai wujud kisahku dengan Bima.

###

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s