Random

Aku dan Bima (Part 1)

Salaam 🙂

Setelah hampir lima puluh tulisan yang sudah dipublish di blog ini, mungkin ini pertama kalinya aku menulis tentang kehidupanku sendiri dengan bahasa yang ringan-ringan aja. Ngga masalah kan? Hehehe.

Baik, dilihat dari judul, mungkin terkesan kalau aku sedang membicarakan seorang laki-laki. Padahal faktanya, sama sekali bukan.

Bima. Bima ini salah satu daerah di Nusa Tenggara Barat, tepatnya “tetangga” di bagian ujung timur daerah asalku, Lombok. Awalnya, hingga sekitar usiaku 20 tahun, aku ngga pernah menyangka akan “terikat” dengan tempat baru lagi setelah 2 tahun merantau di kota kecil di sudut Jawa Barat, di Cikarang. Aku ini termasuk orang yang sering disebut, “Lombok plek”, alias orang asli Lombok. Lahir dan besar di Lombok, menempuh pendidikan dari TK-SMA pun di Lombok. Cikarang lah tempat peraduan pertamaku yang berada di luar Lombok.

Ya, itu dulu. Hingga sekitar 2/3 tahun 2015, yaitu bulan Agustus 2015, rupanya aku harus terikat lagi dengan tempat baru, menambah daftar baru setelah Cikarang. Kakak perempuanku satu-satunya, yang notabenenya juga seorang Lombok plek, akhirnya memutuskan untuk menikah dengan laki-laki Mbojo atau laki-laki dari Bima. Momen ini adalah titik balik pertama kehidupan, bukan hanya bagi kakakku, tapi untukku juga. Perjalananku dan Bima pun dimulai dari sini. 2 keluarga yang awalnya terpisah lautan kini bersatu atas dasar pernikahan.

Sejak kakakku menikah, entah sudah berapa kali aku terbang ke Bima, sekedar untuk menyapa dan mengunjunginya di sela liburan kuliahku. Bahasa baru, budaya baru, makanan baru, orang-orang baru, menjadi bahan-bahan yang harus kuadaptasi. Keterikatanku dengan keluarga iparku juga termasuk cepat dan lumayan kuat, dilihat dari masa kenalnya kakakku dan suaminya (karena mereka tidak pacaran, melainkan ta’aruf -jadi masa perkenalannya pun singkat-) dan lama pernikahan mereka hingga tulisan ini dipublish yaitu 1 tahun 8 bulan. Dalam waktu sedemikian itu, aku sudah sangat merasa menjadi bagian dari keluarga ini, merasa sangat dekat dengan mereka semua.

*****

Titik balik kedua bagiku dimulai sekitar usia pernikahan kakakku akan memasuki 1 tahun. Pesan singkat, “Cing, alhamdulillah positif” changes everything. Aku akan segera memiliki keponakan, tambahan anggota keluarga intiku yang semula hanya berempat. Berita ini jelas membahagiakan keluarga kecil kami yang sudah menantikan kehadiran Si Bayi sejak lama, karena dibandingkan dengan keluarga iparku, Si Bayi ini adalah keponakannya yang keempat.

Segala rencana dan persiapan kami lakukan untuk menyambut Si Bayi. Aku harus menghadapi skripsi di usia kehamilan kakakku memasuki 3 bulan. Dan dalam 3 bulan berikutnya, alhamdulillah skripsiku selesai yang juga menandai 6 bulannya Si Bayi dalam kandungan. Waktu masih tersisa sekitar 3 bulan hingga akhirnya Si Bayi menyapa dunia. Dalam rentang waktu itu, aku sangat gigih menyelesaikan urusan-urusan akademik di kampus, sehingga semuanya sudah plong ketika aku kembali ke Lombok untuk waktu yang cukup lama.

Alhamdulillah, karena skripsiku temasuk dalam kategori yang selesai cepat, waktu kosongku hingga wisuda di akhir Juli nanti sejak sidang skripsiku di awal Februari lalu, lumayan banyak dan lama. Dari konsiderasi inilah, aku berpikir untuk mendedikasikan waktuku untuk membantu kakakku mempersiapkan kelahiran si Bayi yang diprediksi sekitar awal April. Tiket pesawat dari Lombok menuju Bima-pun terbeli, tertanggal 26 Maret 2017 yang jatuh pada hari Minggu.

*****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s