Currently trying to digest this book, “Bersamamu, di Jalan Dakwah Berliku”.

Buku yang ditulis oleh dua asatidz favorit saya, al ustadz @felixsiauw dan al ustadz @salimafillah ini kurang lebih mencoba menjelaskan pada umat tentang pentingnya ukhuwah yang seharusnya terjalin antar kaum muslimin, baik di Indonesia dan juga di luar Indonesia. Sebagian mungkin sudah tau bagaimana gaya bahasa asatidz ini ketika menyampaikan pesan melalui tulisan. Dan jika 2 gaya itu + retorika penulisnya digabungkan, disitulah duet maut terjadi 👍

Masih jelas sekali di ingatan saya, beliau berdua menyampaikan akan menerbitkan buku kolaborasi ketika menjadi pengisi di Islamic Book Fair 2016 lalu. Saat itu juga, saya “mewajibkan diri” untuk membeli bukunya yang akhirnya terbit di 2017 ini, meskipun harus antri dalam list Pre-Order. Alhamdulillah bisa menjadi pemesan ke 268 dari 3000 buku pertama yang disediakan.

Baik, cukup cerita behind the scene-nya.

Melihat fenomena dinamisnya pergerakan/harakah dakwah Islam di Indonesia saat ini, saya rasa perlu untuk setiap yang merasa peduli dengan umat untuk membaca buku ini. “Berharakah malah bermasalah”, salah satu judul bab dalam buku ini menggambarkan apa yg terjadi di lingkungan dakwah, baik di kampus, di masyarakat, dll.

Asal mula munculnya gerakan-gerakan dakwah inipun perlu diketahui oleh umat. Semenjak runtuhnya Khilafah Utsmaniyyah terakhir di Turki pada tahun 1924, umat Islam mulai mengalami kemerosotan di banyak bidang. Namun, tidak sedikit dari mereka yang “berpikir tidak biasa” merasa perlu untuk membentuk organisasi atau gerakan dakwah untuk setidaknya membentengi ummat, meskipun dalam skala kecil pasca absennya Negara junnah atau perisai umat tadi. Dari sinilah, muncul banyak sekali harakah dakwah, mulai dari Timur Tengah hingga masuk ke nusantara. Harakah dakwah tersebut juga tidak berfokus pada satu hal, tergantung dari bagaimana para pendirinya meng-ihsas atau mengindera fakta di sekitarnya. Ada yg bergerak di bidang ekonomi, sosial, pendidikan, hingga politik.

Ketika kita membahas masalah harakah, perbedaan/khilafiyah kemungkinan akan menjadi salah satu standing point di antara para aktivis harakah tersebut. Namun, perbedaan itu sejatinya jatuh lebih banyak pada masalah furu’iyyah atau cabang dan bukan pada ushul atau yg mendasar. Dan khilafiyah furu’iyyah tersebut tidak sepantasnya menjadi alasan bagi para aktivis dakwah tadi untuk membenci, dan parahnya melabeli sesat atau kafir pada aktivis harakah yg berseberangan dengannya, karena dasar yg ada pada kita masih sama, sama-sama mencintai Allah, ingin berjuang melanjutkan membangkitkan kembali Islam, dan peduli pada umat yg sedang sakit ini.

Tapi, pada faktanya memang belum demikian. Masih banyak para aktivis yg mungkin belum memahami secara mendalam esensi dari ukhuwwah, ikatan persaudaraan yg dilandasi ‘aqidah Islam. Padahal, ikatan berdasar ‘aqidah ini adalah ikatan terkuat, dibanding dengan ikatan nasionalisme (yang notabenenya baru muncul ketika Islam sudah terpecah belah), ikatan kesukuan, dan ikatan kekeluargaan. Masih banyak yang jetika tahu saudaranya tidak qunut ketika shalat, dengan mudahnya melabeli “Sesat! Kafir kamu!” Ketika melihat saudaranya bershalawat atau berdzikir di acara tertentu, dengan mudahnya mengatakan “Bid’ah itu. Dia menyelisihi sunnah.” Ketika melihat saudaranya bergerak mendakwahi penguasa, dengan mudahnya mengatakan “Antum mencoba makar. Dan itu termasuk pemberontakan yang haram dalam Islam. Ke Arab saja sana!” Dan sederet keketusan kalimat lain yang terasa mencekik ketika didengarkan.

Ibarat kata, masih ada di antara kita yang terbuka matanya pada perbedaan dan kesalahan saudara yg lain, namun tertutup matanya dari persamaan dan kebaikan saudaranya. Apalah arti dakwah ketika saling membenci dan mencaci aktivis dakwah lain. Jika demikian, umat justru akan bingung dan mundur dari apa yg akan kita sampaikan, karena takut melihat “tauladan”nya gerasak-gerusuk di belakang panggung.

Ingatlah, “Innamal mu’minun ikhwatun” atau sesunggunhnya mukmin itu bersaudara. Dan saudara sudah sepatutnya saling menyayangi, saling mengingatkan, saling menolong, saling menguatkan. Bukan justru mendorong agar jatuh, mencaci kesalahannya, dan menjauh karena tak ingin dekat-dekat sebab merasa diri berbeda atau lebih baik dari saudaranya yang lain.

Ukhtukum,

Iranti Mantasari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s