Ini mungkin salah satu hal yang sering dilupakan manusia. Padahal sejatinya, hal yang patut untuk kita syukuri itu jauh lebih banyak jumlahnya dibandingkan dengan hal yang kita ratapi. Bersyukur memang mungkin akan luput ketika kita memiliki segudang harta. Dan manusia cenderung baru akan bersyukur ketika ia sudah merasakan bagaimana sakitnya kehilangan harta tersebut.

Seringkali, manusia harus ditegur dulu oleh Yang Maha Menegur agar mau melihat ke bawah, sekedar untuk mensyukuri apa yang sudah ia miliki, tapi tak dimiliki orang lain. Namun, haruskah selalu ada teguran terlebih dulu sebelum kita memulai untuk bersyukur? Janganlah. Sungguh, jangan. ‘Ketidakenakan’ yang kita dapatkan dari teguran itu tidak seharusnya sering kita rasakan, apabila kita mau sedikit saja meningkatkan kepekaan kita untuk bersyukur terlebih dulu.

Bersyukur sebenarnya tidak sesulit itu. Asal kau mau menyisihkan sedikit dari waktumu untuk mengingat apa yang sudah kau dapatkan hari ini, apa yang sudah bisa kau lewati. Napas. Waktu. Kenyang. Tidur lelap. Tenang. Bukankah mereka sudah lebih dari cukup sebagai alasan untukmu bersyukur meski sedikit saja?

***
Mengambil kisah seseorang tentang hakikat bersyukur.

Gadis ini memiliki sepeda yang biasa digunakan untuk menunjang aktivitasnya sehari-hari. Seringkali, di tengah perjalanannya dalam mengayuh sepeda tersebut, ia secara tidak sadar berkata “Enak ya, kalau punya motor. Ga perlu lelah mengayuh begini di tengah panasnya cuaca. Hanya perlu menarik gas dan memainkan rem saja.” Sungguh, pernyataan itu mungkin tidak sekali saja ia ucapkan, terlebih sewaktu keletihan mulai menggerogoti  kakinya dalam mengayuh sepedanya. Hingga suatu ketika. Dalam perjalanannya kembali menuju rumah, ban sepedanya tiba-tiba pecah di perjalanan, padahal perjalanannya masih lumayan jauh. Sebelum berangkat ia juga sudah memastikan kondisi ‘kuda putih’nya dengan menambah angin ban sepedanya itu. Mau tidak mau, ia harus berjalan dengan meniti sepedanya untuk mencari bengkel kecil. Beberapa bengkel dihampiri, namun tidak ada yang bisa membantu karena tidak memiliki perlengkapan untuk perbaikan sepeda.

Dalam kondisi kelelahan itu, ia mulai berpikir “Mungkin ini cara Allah menegurku untuk bersyukur atas sepeda ini, meskipun aku harus berlelah-lelah mengayuhnya. Dulu saja aku ingin motor dibandingkan sepeda ini. Namun, sekarang aku paham bahwa jika aku mau saja sedikit bersyukur, sepeda ini sebenarnya sudah sangat membantumu, di saat masih banyak orang yang harus berjalan dan mendorong gerobaknya untuk mendapatkan semangkok uang.”

***

Maaf jika kisah itu mungkin tidak sedalam yang ada di bayangan kalian. Tapi, adakah pelajaran yang bisa kau petik dari kisah di atas? Selamat bagimu yang bisa menemukan secuil pelajaran darinya. Bagimu yang masih mengawang akan pelajaran dari kisah itu, coba bayangkan hal kecil ini: Kau masih muda, tubuhmu bugar dan sehat, kebutuhanmu dengan mudah bisa terpenuhi. Tapi, kau masih mengeluh merasa kurang akan apa yang kau miliki. Hingga Allah akhirnya menegurmu dengan sakit dan hilangnya hartamu. Dari situ, kau mungkin merasa tidak perlu untuk diuji hal demikian jika sejak awal, kau mau meluangkan waktu untuk bersyukur dan mengapresiasi atas apa yang sudah ada di genggamanmu…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s