Dinamika ummat Islam di Indonesia saat ini sedang begitu terasa. Betapa menggebu-gebunya mereka datang memenuhi panggilan iman dari berbagai daerah di Indonesia untuk membela agamanya dan menuntut keadilan atas kasus penistaan ayat Al Qur’an oleh GubernurΒ inactive DKI Jakarta.

Aksi ini juga telah memberikan efek di lini lain. Semisal, Aksi yang pasti menjadi sorotan media mainstream nasional ini, sudah diketahui oleh ummat bagaimana skenario ketidakobjektifannya dalam membungkus berita, yang pada akhirnya menggiring pemboikotan terhadap media tersebut. Kemudian, Aksi yang sejatinya damai tanpa kekerasan, namun digembosi opini-opini makar, pemecah belah, ketidaktoleran-an oleh oknum tak bertanggungjawab ini, telah mendorong pihak-pihak yang panas singgasananya untuk membuat aksi lain dalam rangka mematahkan opini-opini buruk yang ditujukan pada Aksi Bela Islam tersebut. Singkat kata, Aksi ini berhasil menggentarkan pihak-pihak yang tidak sejalan dengan ummat Islam.

Namun, ada hal yang perlu disorot lebih jauh lagi. Ada sesuatu yang penting, bahkan mungkin luput dari pandangan kita, kenapa Aksi Bela Islam ini diadakan berjilid-jilid layaknya buku yang akan dirilis. Aksi pertama dilakukan pada tanggal 14 Oktober 2016. Aksi kedua pada tanggal 4 November 2016. Dan aksi ketiga dilaksanakan 2 Desember 2016 lalu.

Jika ditelaah lebih dalam lagi, Aksi Bela Islam yang berjilid-jilid ini bukan sekedar keinginan ummat untuk berkumpul bersama, atau untuk sekedar turun ke jalan dan berdzikir, atau untuk sekedar memenuhi panggilan para ‘alim ‘ulama Rahimakumullah kami. Bukan. Tapi, memang tidak dinafikkan pula faktor di belakang Aksi ini adalah hal-hal tersebut di atas.

Aksi yang berjilid-jilid ini sejatinya adalah cerminan dari bagaimana penyelesaian kasus hukum di negeri ini. Bagaimana keadilan seharusnya ditegakkan, tanpa memandang jabatan, suku, ras, dan juga agama.

Jika saja, sedari awal kasus ini diangkat, sedari itu pula kasus ini ditindak sebagaimana kasus-kasus penistaan lainnya. Mungkin Aksi ini tidak akan berjilid-jilid. Karena tuntutan atau esensi dari Aksi ini, meski dibungkus dalam bentuk acara yang berbeda-beda, baik jilid I, II, atau III adalah sama: Tangkap BTP. Adili BTP. Penjarakan BTP. Hanya itu.

Tapi apa yang dihadapkan pada ummat? Sebuah laga perlindungan seorang aktor yang jelas menodai jalannya pentas drama, namun mengambinghitamkan penonton yang jumlahnya lebih banyak.

Negeri ini telah menjadi sorotan di beberapa media internasional karena adanya Aksi ini. Meskipun, tidak dipungkiri headline berita yang diangkat pasti berbeda-beda sesuai ‘back-up’ media tersebut. Tapi kemudian, apa yang ingin kita sajikan pada dunia luar? Masihkah laga perlindungan tadi terus dilanjutkan?

Sungguh. Kejadian semacam ini, dengan media atau pihak-pihak yang berusaha mengerdilkan Aksi Bela Islam ini tetap akan menunjukkan ikhtiarnya karena itu adalah hal yang boleh dan dipayungi di negeri ini. Negeri yang tak ingin mencampuradukkan agama dalam politiknya, negeri yang berorientasikan lembaran-lembaran dan recehan bernominal.

Kasus-kasus semacam ini akan terus ada dalam sistem di negeri ini, jika memang dianggap tidak mengganggu kepentingan ‘yang di atas’. Kalaulah demikian, ummat Islam bisa dikatakan akan terus menjadi tumbalnya. Ummat yang dengan mayoritasnya, ia akan didesak untuk mengalah. Namun, ummat yang dengan minoritasnya, maka ia akan dibantai (Re: kasus di Rohingya).

Untuk itu, sebagai insan beragama yang masih peduli dengan negeri ini, tidakkah tergerak hati kita untuk memperjuangkan Problem Solver atau penyelesaian masalah yang hakiki untuk agama dan ummat ini? Problem solver yang tidak mengikuti arus utama dan ikut menjadi lakon dagelan-dagelan yang sudah ada. Problem solver yang memang didesain oleh Maha Pencipta dan Maha Penyelesai Masalah kita, yaitu penerapan kembali hukum-hukum Allah dan syariatNya.

Jababeka,

7 Desember 2016, 23.58 WIB

Iranti Mantasari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s