Pada 8 November lalu, rakyat Amerika Serikat (AS) telah menggelar Pemilihan Umum dalam rangka menentukan Presiden baru yang akan memimpin AS selama 4 tahun ke depan. 2 kandidat yang diusung adalah Hillary Clinton yang dilatarbelakangi Partai Demokrat dan Donald Trump dari Partai Republik. Hawa pemilihan Presiden AS ini telah dirasakan sejak lama, bukan hanya oleh rakyat AS sendiri, tapi juga rakyat dunia secara global, karena AS saat ini tidak dipungkiri sebagai pemegang hegemoni dunia, yang dengannya memberikan efek pada pada aspek, baik sosial, budaya, ekonomi, dan juga politik.

Pemilihan AS tersebut berakhir dengan terpilihnya Trump sebagai Presiden AS, mengalahkan rivalnya Hillary Clinton dengan persentase suara 53,7%. Terkait masalah pemilihan, Trump tidak sedikit mendapat kritikan keras mengenai kampanye-kampanyenya yang dinilai rasis, xenophobic (takut terhadap orang asing), dan terutama Islamophobic (takut terhadap Islam dan atributnya). Dalam beberapa waktu setelah pemilihan, dilasir dari media The Guardian, telah dilaporkan kepada polisi beberapa serangan terhadap warga Muslim Amerika oleh orang-orang yang Islamophobic, sama seperti Trump. Tidak hanya dari rakyat, para politikus dan analis banyak yang menilai bahwa dengan terpilihnya Trump, hal tersebut akan membawa dampak buruk untuk AS dan dunia internasional pada umumnya.

Beberapa hari pasca pengumuman kemenangan Trump, terdapat banyak protes dan demonstrasi menolak Trump di berbagai kota di AS, seperti Atlanta, San Diego, Miami, San Fransisco, dll. Para demonstran tersebut tidak menerima hasil pemilihan yang secara mutlak memenangkan Trump dengan persentase suara yang lebih besar dari rivalnya. Hal ini menunjukkan salah satu titik kelemahan demokrasi yang pengusung terbesarnya adalah Amerika itu sendiri.

Demokrasi yang terkenal dengan slogannya “Suara Rakyat Suara Tuhan” dan kedaulatan berada di tangan rakyat dilemahkan dengan adanya aksi protes dari warga AS terkait penolakan terhadap terpilihnya Trump ini. Bagaimana mungkin, Amerika yang selama ini getol menyebarkan ide demokrasi kepada dunia internasional, mendapat penolakan yang menyangkut esensi demokrasi itu dari rakyatnya sendiri.

Berbeda dengan sistem kepemimpinan yang dibawa oleh Islam, yaitu Khilafah. Khilafah yang akan dipimpin oleh seorang khalifah, memiliki batasan untuk kriteria pemimpin berdasarkan hukum syara’. Bukan sekedar memiliki massa atau pemilih yang banyak, namun tidak memiliki kompetensi untuk memimpin dan lebih jauh lagi menjalankan hukum-hukum dan aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Dengan terpilihnya Trump ini, semoga menjadi salah satu wasilah yang bisa mengantarkan kaum Muslimin kepada kebangkitan hakiki Islam. Wallahu a’lam bi ash-shawwab. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s