Random · World

1 Dua 2 Nol

Angka 20 sudah tak asing lagi bagiku. 2 digit angka ini sudah menjadi saksi jatuh bangun, maju mundur, dan suka dukaku. 2 digit ini juga sudah sangat menunjukkan betapa cinta dan sayangnya Penciptaku padaku. Sedang, pada saat yang bersamaan, banyak orang yang tak bisa menikmati sisa hidupnya dengan enak. Sekarang, hanya ada 2 pertanyaan. Apakah aku harus membalasnya? Atau kunikmati saja hingga jatahku habis?

Memang mungkin terlihat tidak ada yang spesial dengan angka ini. Karena ada lebih banyak orang yang saat ini sedang menikmati angka 60, 70, bahkan mungkin 90nya. Banyak orang di luar sana juga pasti sedang berada dalam lingkaran 20 ini. Akupun tak menganggapnya begitu spesial, biasa saja. Hanya, 2 digit ini setidaknya cukup untuk membuatku belajar menghargai segala sesuatu, belajar memaknai hidup.

Perlakuan orang-orang terhadapku pun bisa berubah seiring aku bersama angka ini. Benar apa kata pepatah, “pengalaman adalah guru terbaik.” Jika saja pengalaman-pengalaman hidup tak kunjung ku dapatkan, bagus ataupun tidak, mungkin hidupku hanyalah selembar kertas putih, datar dan tidak menarik. Aku juga mengakui bahwa, 2 digit ini berkontribusi dalam pencarian pengalaman-pengalaman itu.

Mundur?
Diam di tempat?
Maju?

Apabila salah satu pilihan tersebut mampu memberikan nilai plus, tentulah ia akan kuambil. Dan nilai plus itu kulihat bersinar di atas pilihan maju. Angka ini memberikan sinyal padaku, bahwa ini bukan saatnya untuk aku terus berdiam diri dengan yang sudah lalu, bukan saatnya untuk masih saja bergulat dengan penyesalan dan kesalahan-kesalahan lampau. Angka ini mengetuk pundakku dan membisikkan bahwa ini adalah waktu untuk aku bergerak, meninggalkan semua yang mengekangku untuk maju, melepaskan semua yang menghalangiku menuju tangga untuk kelanjutan hidupku.

Seperti kau berjalan menapaki satu persatu bebatuan di Tembok Besar Cina. Ada kalanya kau tetap naik meski melelahkan. Terkadang juga mengeluarkan tenaga lebih untuk turun tanpa harus terperosok. Dan tak lupa, lekuk-lekuk pegunungan yang mulai mengalihkanmu untuk tenggelam dalam keindahannya. Itulah hidup. Dan aku mulai menemukannya perlahan bersama angka ini.

Aku tak ingin hanya menjadi secarik kertas putih. Yang diletakkan di ujung meja, bahkan harus jatuh tertiup angin dan terlupakan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s