Mungkin, akhir-akhir ini kita sering mendengar pertanyaan dan pernyataan berikut, “Muslim kok mainnya di bar?”, “Muslim kok pinjem barang temen tapi ngga dibalikin?”, “Eh, lo Islam? Kenapa seneng banget fitnah orang sih?” “Dia Muslim loh, tapi pakaiannya sama sekali ga nutup auratnya”, “Jilbaban tapi kok pacaran? Muna’ lo!” dan segelintir pertanyaan-pertanyaan sinistik lainnya.

Oke, tidak jarang memang yang berkata demikian adalah sesama Muslim. tapi yang lebih jadi masalah adalah bagaimana kalau yang berkata demikian adalah mereka yang tidak mengimani Islam? astaghfirullah *geleng kepala*. secara tidak langsung, akan ada suatu pandangan atau citra negatif tentang Muslim dan sayangnya Islam itu sendiri di mata mereka. Padahal, saya yakin, hampir semua ummat Islam awam dengan istilah Rahmatan Lil ‘Aalamin. perkaranya, tidak banyak dari (yang sebenarnya khayru) ummat ini paham dengan esensi Rahmat bagi seluruh alam.

Tak bisa dipungkiri memang, segala perilaku atau suluk ummat Islam saat ini yang bisa dikatakan jauh dari koridor Islam, sangat dipengaruhi oleh fikrah dan mafhum yang ia miliki. Islam akan menjadi Rahmatan Lil ‘Alaamin atau Rahmat bagi seluruh alam ketika para Muslim memiliki fikrah dan mafhum Islam. jika seorang Muslim sudah memiliki fikrah dan mafhum Islam, maka tidak akan ada lagi istilah Muslim kok maling, Muslim kok tukang fitnah, Muslim kok pacaran, Muslimah kok tak tutup aurat, dan sebagainya.

Kemudian, apa itu fikrah dan mafhum? fikrah adalah pemikiran dan mafhum adalah pemahaman. kedua hal ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain. pemikiran ini akan membentuk suatu pemahaman tertentu untuk kita, dan pemahaman inilah yang akan mempengaruhi kita ketika melakukan suatu perilaku tertentu. itulah tadi alasannya, perilaku seseorang dipengaruhi oleh pemikiran dan pemahamannya. boleh jadi seseorang itu memang Muslim, tapi karena dia tidak memiliki fikrah dan mafhum Islam, maka perilakunya pun tidak mencerminkan seorang Muslim.

kemudian, muncul pertanyaan lain. lalu, pemikiran dan pemahaman yang seperti apa yang harus kita miliki? jelas, sebagai seorang Muslim, Islam haruslah menjadi standar kita dalam melakukan segala sesuatu. Islam yang paripurna ini sudah diturunkan lengkap dengan sederet aturan-aturan melalui lisan mulia Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam. what are the DOs and what are the DON’Ts sudah diajarkan oleh Rasul. sebagai seorang Muslim, hendaknya kita selalu bertanya “apakah yang saya lakukan ini melanggar hukum syara’ atau perbuatan saya ini memang merupakan suatu perintah di dalam hukum syara’?”
Jika sudah begitu, in syaa Allah tidak akan ada lagi selentingan-selentingan sinistik seperti di atas terucap.
hal ini tidak seharusnya hanya dilakukan oleh mereka yang mungkin dikatakan ‘alim atau shalih oleh sebagian orang, melainkan harus dilakukan oleh semua yang mengaku bahwa Islam adalah agamanya, tanpa terkecuali. ketidaktahuan tentang hukum syara’ tidak seharusnya menjadi alasan untuk kita tidak mencari tahu. justru, seseorang yang cerdas tentu akan mencari tahu ketika dia tidak tahu. toh, semua telah dibekali akal oleh Allah ta’ala, yang jika akal ini tidak digunakan oleh seorang Muslim, maka bisa jadi kedudukannya akan lebih rendah dari seekor hewan. na’udzubillahi min dzalik..

Advertisements

2 thoughts on “Fikrah, Mafhum, Suluk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s